Meluruskan Makna Plagiat

5
2527

 Dalam sebuah sesi pelatihan, seorang peserta berkisah tentang seniornya yang menyatakan sebuah kutipan karya orang lain haruslah diubah dengan kata-kata sendiri. Jika tidak, kutipan itu tergolong plagiat.

Hal-hal seperti ini memang perlu diluruskan terkait dengan sebutan plagiat. Kata plagiat dipungut dari pengembangan kata bahasa Latin plagiarius yang bermakna penculik (anak), penjiplak (lihat Kamus Latin-Indonesia, K. Prent, dkk. 1969: 647).  Kemudian, dalam bahasa Inggris, dikenal plagiarism yang bermakna plagiat.

Plagiat berarti tindakan mencuri ide atau karya intelektual (termasuk karya tulis) orang lain dan menyatakan pada publik sebagai karya ciptaannya atau miliknya. Jadi, dalam niatnya seorang plagiator memang dengan sengaja membuat sebuah ciptaan orang lain seolah-olah adalah ciptaannya, tentu dengan bermacam kepentingan.

Dari definisi itu sudah jelas gambaran apa itu plagiat dan plagiator. Nah, dari sisi teknis tindakan ada bermacam cara atau modus plagiat seperti yang saya kutip dan ringkas dari paparan R. Masri Sareb Putra dalam bukunya Kiat Menghindari Plagiat (2011: 12).

  1. menjiplak mentah-mentah karya orang lain dan membubuhkan namanya sebagai pencipta;
  2. membayar tulisan hasil karya orang lain,  lalu mengakuinya sebagai karya sendiri;
  3. mencuri gagasan/ide orang lain, lalu memublikasikannya atas nama sendiri;
  4. menggunakan kata-kata yang diucapkan orang lain apa adanya dan memublikasikannya atas nama sendiri;
  5. mengubah tulisan orang lain pada suatu bagian dengan kata-kata sendiri (parafrasa), lalu memublikasikannya atas nama sendiri;
  6. mengopi tulisan orang lain, contoh dari internet, lalu menggunakannya dalam tulisan seolah-olah merupakan tulisan karya sendiri.

Hampir semua lembaga akademis tidak menoleransi tindakan plagiat ini karena jelas-jelas merupakan pelecehan terhadap intelektualitas. Saya kembali mengutip pembagian plagiat yang diungkapkan R. Masri Sareb Putra (2011: 13-14) dalam tabel berikut.

Jenis

Arti dan Modus

Plagiat Langsung (Direct Plagiarism) Pelaku mengopi langsung tulisan sebagian atau keseluruhan dan tidak menunjukkan bagian itu sebagai hasil kutipan atau karya orang lain.Contoh:

  1. Copy-paste tulisan di internet, lalu dibubuhkan namanya sebagai pencipta karya.
  2. Meminjam karya tulis orang lain, baik kepada orang itu atau perpustakaan, lalu menulis ulang sehingga menjadi karya atas namanya.
Plagiat Tidak Jelas (Vague or Incorrect Citation) Pelaku mengutip suatu bagian karya tulis, tetapi tidak jelas menyebutkan di mana awal kutipan dan di mana akhir kutipan.Contoh:

  1. Mengutip sumber hanya sekali sehingga seolah kutipan itu hanya pada bagian yang ditandai, padahal hampir keseluruhan tulisannya adalah hasil kutipan sumber yang sama.
Plagiat Mosaik (Mosaic Plagiarism) Pelaku mengutip suatu bagian karya tulis dengan mengubah menurut kata-katanya sendiri meskipun yang diubah hanya kata-kata tertentu. Dalam hal ini kredit si penulis tidak disebutkan sehingga kutipan itu seperti karya tulisnya sendiri.Contoh:

  1. Tertarik dengan suatu bagian dari tulisan dan ingin mengesankan itu adalah idenya. Agar tidak kentara, beberapa kata pun diganti dan diakui sebagai idenya.

Dengan penjelasan ini maka pendapat bahwa pengutipan karya orang lain harus diubah terlebih dahulu dengan kata-kata sendiri agar tidak terindikasi plagiat adalah tidak benar. Penghindaran plagiat adalah dengan cara memahami teknik mengutip sebuah sumber.

Pengutipan sendiri merupakan hal yang wajar, baik dalam karya ilmiah murni maupun karya ilmiah populer. Pengutipan menegaskan bahwa ide kita sebagai penulis perlu didukung ide orang lain, dibandingkan ide orang lain, atau diselaraskan dengan ide orang lain. Di sinilah kejujuran kita diuji untuk mengakui sesuatu yang memang berasal dari ide orang lain.

Selain kejujuran, terkadang diperlukan etiket mengutip atau menggunakan bahan/sumber tulisan orang lain dengan cara meminta izin, baik secara tertulis maupun secara lisan. Karena itu, dalam beberapa karya tulis asing sering tercantum kata by permission yang berarti mereka mengutip dengan meminta izin alias kulonuwun.

Di sisi lain, dalam buku Asian Copyright Handbook (Indonesian Version) karya Tamotsu Hozumi dijelaskan bahwa sesuai dengan undang-undang hak cipta tiap negara, tidak diperlukan izin jika kita mengutip dari ciptaan orang lain untuk dimasukkan ke dalam ciptaan kita sendiri. Namun, ada  sejumlah syarat tertentu yang menentukan ciri-ciri kutipan dan pengaturan penggunaan kutipan.

Dalam hal ini satu prinsip yang dipegang pada aturan tersebut bahwa hanya ciptaan yang telah diumumkan (dipublikasikan) yang dapat dikutip. Karya yang tidak dipublikasikan pada prinsipnya tidak dapat dikutip. Untuk lebih jelasnya coba perhatikan aturan berikut  dengan pengertian A adalah karya baru dan B adalah ciptaan yang dikutip.

  1. A adalah ciptaan pokok dan kutipan dari B adalah sekunder (hubungan atasan bawahan)
  2. Ada pembedaan yang jelas antara A dengan bagian yang dikutip dari B.
  3. Perlu mengutip dari B untuk membuat A.
  4. Bagian yang dikutip dari B diupayakan sesedikit mungkin.
  5. Bagian yang dikutip dari B persis seperti ditulis dalam ciptaan orisinal.
  6. Sumber B disebutkan dengan jelas.
  7. Kutipan tidak melanggar hak moral pencipta B. (2006: 37-38)

Apa yang dimaksud hak moral adalah hak pencipta disebut sebagai pencipta. Karena itu, nama pencipta berikut karyanya harus disebutkan di dalam kutipan sehingga tidak timbul kesan bahwa karya baru (A) tidak menggunakan karya B.

 

Cara Penggunaan Sumber Lain

Pada praktiknya, penggunaan  sumber/bahan dari ide orang lain ke dalam tulisan kita dapat dilakukan dengan tiga cara. Masri Sareb mengistilahkannya dengan inkorporasi pusparagam. Ya, sumber itu menjadi bagian utuh dari tulisan kita, tetapi tetap ada tanda bahwa itu merupakan kutipan sumber/bahan yang bukan karya kita.

Berikut ini cara inkorporasi sumber.

Kutipan (Quotation) adalah cara paling sering digunakan untuk mengutip/menggunakan sumber lain. Kutipan menggunakan kata-kata yang sama dengan sumber/bahan yang digunakan (bahkan jika terdapat salah ejaaan  sekalipun). Ada berbagai macam cara mengutip yang diperkenalkan atau diperkenankan sebuah acuan gaya selingkung.

Parafrasa (Paraphrase) adalah cara menggunakan sumber dengan menyajikan kembali dengan kata-kata penulis sendiri tanpa mengubah makna sajian. Terkadang cara ini digunakan agar pembaca sasaran lebih paham karena penulis membantu dengan penjelasan lain. Parafrasa (paraphrasis dari bahasa Latin) seperti yang terdapat di http://en.thinkexist.com/dictionary/meaning/paraphrase juga bersinonim dengan reword atau membahasakan kembali suatu gagasan/wacana dengan bahasa sendiri (dalam Masri Sareb Putra, 2011: 37).

Ringkasan (Summary) adalah cara menggunakan sumber dengan meringkasnya menjadi lebih sederhana contohnya satu artikel yang menjadi satu paragraf. Walaupun demikian, penulis tetap menyebutkan sumber ringkasan. Memang cara meringkas ini memerlukan keterampilan sendiri pada penulis agar ia tidak terjebak menjadi plagiat.

Penulisan, terutama penulisan buku, memang sebuah tantangan yaitu bagaimana seorang penulis mau jujur tentang konten tulisannya dan bagaimana ia dapat menunjukkan bagian-bagian yang merupakan orisinalitas tulisannya dan bagian-bagian lain yang berasal dari sumber gagasan orang lain.

Sebagai contoh jika Anda diminta kembali untuk menulis buku tentang Ekonomi Makro, tentu Anda akan mencari buku pembanding dengan judul yang sama. Faktanya, judul buku demikian sudah sangat banyak. Di sisi lain, Anda harus menyajikan dengan cara berbeda.

EkonomiMakro

Ranjau plagiat memang sering terjadi pada karya-karya tulis dengan tema-tema yang telah banyak ditulis sebelumnya. Contoh klasik adalah skripsi ketika para mahasiswa tingkat akhir meniru skripsi bertopik sama yang telah lebih dulu ada. Begitu terus terjadi turun temurun, bahkan kata pengantar (yang seharusnya prakata) juga dikutip mentah-mentah tinggal mengganti judulnya saja. Jujurlah bahwa skripsi Anda pasti dimulai dengan kata-kata: Puji dan syukur kami panjatkan ….

Dalam kondisi kepepet, para dosen ataupun akademisi yang mengejar angka kredit kerap melakukan jalan pintas dengan menjiplak tulisan yang sudah ada. Modusnya terkadang mencari tulisan dengan rentang tahun yang jauh ke belakang sehingga diharapkan tidak terlacak. Namun, dengan kecanggihan teknologi saat ini dan makin banyaknya orang melek literasi, “kejahatan plagiat” makin mudah terlacak.[]

 

Daftar Pustaka

Putra, R. Masri Sareb. 2011. Kiat Menghindari Plagiat. Jakarta: Penerbit Indeks.

Tamotsu Hozumi. 2006. Asian Copyright Handbook: Indonesian Version. Jakarta: ACCU Unesco dan Ikapi.

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Sore min, mau tanya nih kalo menuliskan biografi orang lain, kan isinya fakta semua ya. Nah kalo biografinya itu disusun dr beberapa referensi (imternet atau buku) trus disertakan sumbernya. Seperti itu gimana ya??? Makasih

    • Selamat Siang

      Biografi terdiri dari biografi resmi (official biography) dan ada biografi tidak resmi. Biografi resmi artinya biografi itu benar-benar bersumber dari sumber primer yaitu si empunya cerita dan dinyatakan valid oleh sang tokoh. Sebaliknya, biografi tidak resmi adalah biografi yang ditulis atas inisiatif penulis (bukan si empunya kisah) atau penerbit, baik dengan izin si empunya cerita maupun tanpa izin si empunya cerita. Biografi tidak resmi umumnya disusun dari sumber pustaka ataupun rekaman wawancara di media massa, media elektronik (TV dan radio), maupun media daring (internet)—bukan dari wawancara langsung.

      Jika Ibu Virna menulis biografi dari sumber tidak langsung berarti termasuk biografi tidak resmi.

  2. Min mau tanya klo nulis biografi orang terkenal gitu ya, nah kita nulisnya tuh dengan menyuaun dr aneka artikel hingga menjadi biografi yg bagus gitu ya, tp di bagian daftar pustakanya kita cantumkan sumber artikel yg kita ambil, klo kayak gitu gimana ya?? Mohon jawabannya, makasih

  3. Min mau tanya klo nulis biografi orang terkenal gitu ya, nah kita nulisnya tuh dengan menyuaun dr aneka artikel hingga menjadi biografi yg bagus gitu ya, tp di bagian daftar pustakanya kita cantumkan sumber artikel yg kita ambil, klo kayak gitu gimana ya?? Mohon jawabannya, makasih

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here