Revolusi (Mental) Menulis

4
455

Kesempatan menulis zaman kini memang berbeda dengan kesempatan menulis pada zaman saya selepas kuliah. Saya berkuliah di Prodi D3 Editing Unpad yang kala itu baru mulai peralihan teknologi dari mesin tik ke komputer. Penguasaan komputer dengan program WordStar kala itu menjadi mutlak dan itu sangat membantu dalam pengerjaan laporan tugas akhir.

Tulisan ini bukan tentang kampanye salah seorang capres meskipun judulnya berbau-bau tema kampanye. Saya harus meyakinkan bahwa persoalan mental juga memengaruhi seseorang untuk kini survive dalam menulis.

Ada sebagian orang yang tidak mau menulis karena tidak memiliki waktu cukup. Ada pula sebagian lain yang tidak mampu menulis karena mengeluhkan fasilitas. Mereka katanya tidak memiliki komputer, apalagi laptop meski mereka bisa membeli sebuah ponsel. Ini persoalan mental saja antara mau dan mampu.

Mental yang harus dibangun kini memang kemauan untuk berpayah-payah mempelajari sesuatu, termasuk mengeluarkan modal tenaga, pikiran, serta uang untuk mencapainya. Kita tidak dapat berharap dari seluruh kemudahan, termasuk kemudahan tanpa uang untuk memperjuangkannya.

2014writing

Mari kita lihat apa yang akan terjadi pada era Big Data ini ….

Kini keterampilan menulis dengan komputer adalah hal yang biasa. Kalaupun yang tidak biasa, hanya soal mengetik sepuluh jari. Masih banyak orang yang mengetik di papan kunci komputer hanya dengan sebelas jari. Tentu hal ini memang memperlambat kerja penulisan, apalagi jika seseorang masih mengandalkan melihat ke papan kunci bergantian ke kertas kerja.

Namun, yang ingin saya bahas di sini bukan soal mengetik dengan komputer lagi, tetapi soal memanfaatkan internet sebagai wahana untuk melejitkan tulisan, termasuk tentunya media sosial.

Ya, pada zaman saya tidak terpikirkan bagaimana kini begitu mudah mencari bahan tulisan hanya dengan mengetikkan kata kunci pada mesin pencari. Pun saat itu tidak terbayangkan bagaimana saya bisa memublikasikan tulisan tanpa ada yang menyensor atau mengeditnya. Semua bisa dipublikasikan dalam hitungan detik dan menit, lalu dikomentari banyak orang.

Karena itu, saya mengatakan ada plus minusnya. Plusnya karena semua orang bisa menulis dan memublikasikan karyanya tanpa ada hambatan lagi. Minusnya  banyak orang akhirnya merasa sudah bisa menulis dan menayangkan langsung tulisannya tanpa editing. Kemudahan-kemudahan ini membuat daya juang sebagian orang berkurang.

Saya memang sudah menikmati kemudahan dari internet ini sejak beberapa tahun lalu. Saya mulai aktif mengisi di blog sejak 2010 dan mulai menuliskan isi kepala saya di sini. Lalu, kemudian saya memanfaatkan blog untuk beriklan juga. Semua saya pelajari secara autodidak seperti banyak hal saya pelajari secara demikian–namun pada hal-hal tertentu, saya tetap memerlukan seorang mentor/tutor untuk membimbing saya.

Bermain kata-kata dengan facebook, twitter, dan blog memang berpotensi menajamkan kemampuan menulis seseorang. Hanya sekali lagi ia tetap perlu tutor/mentor menulis, terutama dalam hal copywriting jika ia benar-benar ingin mampu memengaruhi orang lewa tulisan. Bagaimanapun kita harus mampu menggerakkan pembaca untuk merespons tulisan kita.

Kini pembaca media sosial ataupun informasi di internet menikmati luberan informasi yang hampir tidak terkendali setiap hari. Informasi apa pun tersedia. Lalu, bagaimana kita bisa mencuri perhatian dari jutaan data setiap hari itu? Karena itu, perlulah pandangan terhadap kebutuhan captive atau niche untuk memasarkan produk atau jasa kita.

Revolusi Menulis terbesar bagi saya kini adalah menggabungkan kemampuan menulis dan internet, lebih khusus internet marketing. Ini tentu berlaku untuk Anda sebagai writerpreneur. Internet marketing akan memacu pengenalan terhadap jasa Anda.

Meski dengan blog wordpress yang notabene gratisan, saya masih mampu menarik order penulisan jutaan hingga puluhan juta dalam sebulan, termasuk order untuk mengisi pelatihan/workshop. Rahasianya tetap saja pada portofolio karya yang sudah saya kerjakan dan tentu juga reputasi selama ini. Saat ini, blog saya bermigrasi ke dotcom karena saya merencanakan sesuatu yang lebih besar dan sesuatu yang lebih terarah.

Sebuah situs profesional yang saya kelola sedang dirancang untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya tentang bisnis penulisan-penerbitan ini kepada pasar yang khusus. Namun, tetaplah manusia-manusia di balik bisnis ini sangat berpengaruh, terkait kecepatan dan ketepatan penanganan. Karena itu, saya pun mulai menghimpun kekuatan di dua hal: editorial dan marketing.

Saya bersama mitra kerja saya pun berkomitmen membangun sesuatu dari hal kecil dan tentunya juga kesusahan-kesusahan yang mengadang. Menjalankan bisnis penulisan yang memang merupakan seni tersendiri karena harus siap berkutat dengan tenggat (deadline) serta kualitas.

Untuk melanggengkan usaha ini, tentu perlu sebuah “perawatan” terhadap kemampuan, jejaring, dan pemasaran. Di sinilah internet marketing sangat membantu revolusi cara-cara kita menulis dan mental kita untuk menulis tanpa terbatas ruang dan waktu.

Soal ini memang sedang saya bahas di berbagai pelatihan, terutama terkait writerpeneurship. Salah satu buku yang saya siapkan berjudul A-Z Writerpreneur juga akan mengungkap revolusi ini, termasuk buku yang akan saya susun berdua dengan Jefferly Helianthusonfri berjudul Revolusi Menulis: Menjadi Raja dengan Konten dan Internet Marketing.

Tunggu penerbitannya segera.

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

  1. sangat sulit untuk menjadi penulis populer, tapi setiap penulis pasti memiliki ke khasannya masing-masing.
    karena kualitas dalam menulis, bukan diukur dari kepopuleran.
    nyambung nggak? 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here