Apa dan Bagaimana University Press

2
409

Tahun 2014 menjadi awal kerja sama saya dengan Binus Media & Publishing dan IAARD Press, Balitbang Kementan. Untuk kesekian kali sebagai praktisi di bidang penerbitan, saya melibatkan diri dalam proses pengelolaan penerbitan buku di lingkungan perguruan tinggi (PT) atau lembaga penelitian.

Meski secara umum dianggap tidak terlalu “seksi”, industri penerbitan buku ilmiah atau buku teks perguruan tinggi tetap menarik beberapa kalangan untuk menggelutinya. Secara usaha, bisnis ini berkembang dalam bentuk tiga jenis berikut ini.

  1. University press yaitu badan penerbitan (terkadang sekaligus percetakan) yang dijalankan langsung oleh sebuah perguruan tinggi sebagai unit usaha.
  2. Text book publisher yaitu badan penerbitan swasta yang dijalankan pihak di luar perguruan tinggi.
  3. Vanity publisher yaitu badan penerbitan yang lebih menawarkan jasa kepada para akademisi untuk menerbitkan dan mencetak buku dalam tiras terbatas.

Kurang berkembangnya minat menulis buku di perguruan tinggi membuat laju perkembangan university press pun tersendat. Fakta yang terlihat tidak semua PTN di Indonesia memiliki unit usaha penerbitan, termasuk PTS. Alhasil, pasokan buku untuk perguruan tinggi tertentu kadang dipenuhi oleh pihak swasta.

Sejak saya kuliah di Prodi D3 Editing Unpad, soal university press sendiri menjadi bahasan menarik karena salah seorang dosen saya, Ibu Sofia Mansoor, menjadi pegiat di Penerbit ITB. Namun, di Unpad sendiri, university press tidak berkembang sebagaimana mestinya meskipun ada Prodi Editing yang notabene mempelajari ilmu penerbitan (publishing science). Lewat dosen saya, alm. Bapak Dadi Pakar, saya sempat dipertemukan dengan Rektor Unpad, Ganjar Kurnia, untuk membahas pengembangan Unpad Press. Akan tetapi, karena kesibukan saat itu di penerbit baru Salamadani, saya tidak dapat melanjutkan pembahasan pengembangan Unpad Press.

Satu hal yang penting dalam pengamatan saya saat itu hingga kini bahwa university press seyogianya dikelola secara profesional oleh orang-orang yang mengerti industri buku, bukan sekadar pernah menulis buku atau ditugaskan mengelola penerbitan tanpa pengetahuan yang memadai. Banyak aspek dalam industri penerbitan buku perguruan tinggi ini yang perlu dipahami dan diaplikasikan, seperti proses akusisi naskah, proses editorial, hingga proses promosi dan pemasaran buku.

Bambang Trim, dalam sesi pendampingan penulisan buku ilmiah populer untuk IAARD Press
Bambang Trim, dalam sesi pendampingan penulisan buku ilmiah populer untuk IAARD Press

Elang Ilik Martawijaya adalah contoh profesional yang diterjunkan untuk mengelola university press yaitu IPB Press. Sebelumnya, saya mengenal Mas Elang sebagai praktisi di bidang pemasaran buku (Grup Gramedia) dan kemudian berwirausaha sendiri membuat toko buku diskon. Ia yang juga alumnus IPB, kemudian menjadi pegiat IPB Press menuju university press yang profesional. Dalam buku mungilnya berjudul Bisnis Buku di Kampus (IPB Press, 2011) ia menyatakan salah satu bidang strategis dalam PT adalah bisnis buku.

Apa pasal? Hal ini karena PT sangat terkait dengan dunia perbukuan dan salah satu penentu ranking PT adalah jumlah publikasi ilmiah yang telah diterbitkan. Tentu PT yang mampu mengelola suatu usaha penerbitan secara langsung dapat mengangkat citra perguruan tinggi tersebut.

Dalam soal bisnis, jelas bahwa pasar buku di PT adalah pasar yang captive (terbatas) dan niche (ceruk). Peluangnya bahwa meskipun dicetak dengan oplag kecil (1.000 eksemplar) atau oplag standar (3.000 eksemplar), target pembaca sasarannya sudah jelas yaitu mahasiswa dan dosen. Soal oplag kecil ini juga sudah ada solusinya dengan pencetakan manasuka (print on demand) yang kini juga telah banyak dimiliki unit percetakan di Indonesia.

Dorongan lain adalah terbukanya menerbitkan buku-buku jenis pasar ceruk yaitu buku sangat spesifik membahas satu bidang ilmu. Mungkin yang memerlukan sedikit, tetapi sangat penting untuk diterbitkan sebagai sumbangan kecendekiaan.

Tantangan Pengembangan

Seperti juga bidang lain, university press menghadapi tantangan pengembangan. Masalah aplikasi teknologi yang muncul sepuluh tahun lalu, kini justru telah teratasi dengan kemajuan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Bahkan, teknologi penerbitan buku elektronis sudah sedemikian mudah dan murah untuk dilaksanakan.

Tantangan terbesar adalah sumber daya manusia bidang penerbitan, termasuk sumber daya penulisan. Sepengalaman saya mengelola editorial buku-buku ilmiah PT dan memberikan pelatihan penulisan buku ilmiah populer, banyak sekali akademisi (dosen, guru, peneliti) kita yang masih gamang menulis, terutama menulis untuk dapat dibaca masyarakat luas.

Usaha besar-besaran untuk melatih kemampuan menulis para dosen dan peneliti perlu dilakukan agar mereka mendapatkan bekal yang cukup untuk mau dan mampu menulis buku. Hal ini semakin mudah untuk diwujudkan karena Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) telah didirikan sejak 2010 yang hingga kini beranggotakan lebih dari 100 PT.

Konversi Karya Tulis Ilmiah

Satu keterampilan penting yang perlu dimiliki akademisi PT adalah konversi karya tulis ilmiah (KTI) nonbuku menjadi KTI buku atau konversi dari ilmiah murni menjadi ilmiah populer. Istilah konversi ini kerap juga disebut penyaduran karya ke bentuk lain. Jadi, berbeda dengan istilah saduran dalam karya sastra.

Contoh keliru soal ini bagaimana para penulis skripsi/disertasi/tesis dan laporan penelitian mencoba membukukan karya ilmiah tersebut. Kerap terjadi karya itu dibukukan apa adanya tanpa melakukan penyaduran atau konversi terlebih dahulu. Alhasil, tetap saja karya itu tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat luas.

Selain itu, masalah lain adalah penerapan gaya selingkung (house style) yang tidak taat asas. Bayangkan, masih ada akademisi kita yang tidak bisa membedakan foreword dan preface atau reference dan bibliography.

***

Indonesia tentu bisa. Begitupun PT, baik itu PTN atau PTS di seluruh Indonesia pasti mampu untuk mengembangkan usaha penerbitan buku-buku ilmiah ataupun bentuk penerbitan lain secara lebih profesional. Saya sendiri tetap berjuang dan berkomitmen membantu banyak PT agar mampu mengembangkan usaha penerbitan buku (university press) lebih baik lagi. Ya, kita harus bisa tampil seperti Cambridge University Press, Oxford University Press, atau Harvard University Press.

©2014 oleh Bambang Trim

Praktisi penerbitan, penulis 150+ buku, editor dan konsultan penerbitan, Ketua Kompartemen Diklat-Litbang-Informasi Ikapi.


Catatan:

Bambang Trim telah bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan lembaga penelitian di bidang penerbitan buku di antaranya LIPI Press, IAARD Press (Balitbang Kementan), UB Press, P2M2 Universitas Terbuka, UNS Press, Binus Media & Publishing, Akper Bina Insan (Jakarta), Pusdiklat Kemenkes, Pusdiklat Kemenhut, Unpad Press, FEB Universitas Jambi, FE Universitas Padjadjaran, Unpad Press, Politeknik Negeri Media Kreatif (Jurusan Penerbitan), Politeknik Negeri Jakarta (Jurusan Penerbitan), Universitas Multimedia Nusantara, FSRD Institut Kesenian Jakarta, dan Comlabs ITB.

Kontak Bambang Trim untuk kerja sama dalam pelatihan dan pengembangan university press WA +6281519400129/Pin BB 749FE40E

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Semenjak kembali ke kampung dan menikmati tentramnya kehidupan di tanah kelahiran, saya semakin jarang menulis atau sekadar membuat catatan harian–yang dulu kerap jadi rutinitas saya di kota.

    Satu hal yang saya syukuri adalah mem-follow blos Pak Bambang. Kenapa?
    Membaca tulisan-tulisan Pak Bambang, benar-benar membuat saya terkompori. Kompor gas Elpiji, Pak…

    Selalu timbul kembali semangat untuk menulis dan menulis. Gairah untuk suatu saat menghasilkan sebuah karya buku yang bermanfaat bagi sesama. Termasuk buku bahan ajar untuk anak-anak sekolah–sesuai dengan profesi saya sekarang sebagai guru.

    Salam Buku, Pak Bambang

    Khaled (mantan editor Cicero Publishing)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here