Berapa Penghasilan Penulis Indonesia

13
19193

Saya terpaksa membuat tulisan ini. Lho, kok terpaksa? Pasalnya, saya baru membuka tautan info di detik.com tentang penghasilan penulis Inggris yang hanya kira-kira Rp219 juta per tahun. Lalu, saya buka tautan lebih lengkap di theguardian.com.

Pendapatan minimum di Inggris adalah £16.850, menurut Joseph Rowntree Foundation, untuk mencapai standar hidup minimum, sedangkan pendapatan para penulis penuh waktu itu hanya £11.000 pada 2013–jauh menurun dari  £12,330 pada 2005. Penulis yang disurvei oleh Author’s Licensing and Collecting Society (ALCS) bekerja sama dengan Queen Mary, University of London sejumlah 2.454 orang (56% laki-laki dan 44% perempuan).

Survei ini juga mendapati data bahwa hanya 11,5% dari para penulis itu yang benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk menulis–artinya mereka benar-benar bergantung pada menulis. Angka ini jauh menurun dari tahun 2005 yang ada 40% penulis profesional. Apakah artinya profesi “penulis” tidak cukup seksi lagi di Inggris sekalipun?

Nah, menulis di sini adalah menulis buku dan diterbitkan penerbit. Jadi, para penulis itu sangat bergantung pendapatannya pada industri buku. Royalti menjadi kata yang memberi magnet soal passive income, tetapi pada kenyataannya hanya segelintir penulis yang benar-benar menerima royalti dengan “nilai nendang”. Sekali lagi, saya sudah menuliskan hal ini tahun 2012 lalu di dalam artikel “Mengapa Saya Tidak Bisa Kaya dari Royalti”.

Kembali ke survei bahwa para penulis profesional itu hidup hanya dengan Rp18,25 juta per bulan. Jika dibanding dengan Indonesia, tentu pendapatan itu sangat besar, setara dengan gaji manajer senior. Namun, apakah penulis Indonesia juga bisa mencapai angka sedemikian?

Hitungan sederhana dari royalti:

  • Cetak 3.000 eksemplar, Harga buku Rp50.000
  • Ada pendapatan = Rp150.000.000,00 dengan asumsi terjual semua.
  • Royalti 10% = Rp15.000.000,00

Pertanyaannya, kapan penulis bisa menerima royalti? Tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun? Kalau asumsi bisa cetak ulang dua kali setahun dan terjual 6.000 eksemplar, berarti setahun bisa memperoleh Rp30.000.000,00 atau setara dengan Rp2.500.000,00 per bulan. Kecil sekali, ya.

Untuk mengejar angka penulis di Inggris maka penulis Indonesia harus menulis paling tidak delapan judul buku dan semuanya harus laku. Sesuatu yang berat untuk dilakukan, apalagi bisa meloloskannya ke penerbit.

Bagaimana dengan menulis untuk media massa? Ya sama saja, seberapa produktif Anda bisa menulis setiap hari dan bisa lolos gawang redaksi setiap bulan?

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia

Mereka yang mengaku-ngaku sebagai writerpreneur memang perlu disurvei berapa penghasilan yang bisa mereka peroleh murni dari menulis. Saya kerap membaca buku motivasi menulis, selalu yang dijadikan contoh adalah Andrea Hirata dan JK Rowling. Pertanyaan saya, ya berapa orang di Indonesia yang seperti Andrea, tiba-tiba novelnya menjadi gelombang tren baca yang tidak terbendung, lalu mendapatkan royalti miliaran rupiah?

Atau membandingkan dengan penulis buku best seller yang lain seperti Ippho Santosa dengan buku rezekinya dan terdorong hebat juga dari training-trainingnya. Jika ditanya langsung ke Elexmedia berapa orang penulis kayak Ippho, tentu tak sampai 10% dari seluruh penulis seperti itu.

Jadi, idealnya untuk standar hidup layak, penulis Indonesia harus mendapatkan berapa dari royaltinya? Kalau kita patok angka lebih kurang Rp5,6 juta (sesuai dengan rata-rata biaya hidup minimum yang dikeluarkan BPS 2014), diperlukan penghasilan Rp67,2 juta per tahun.

Sebagian besar penulis buku pop tidak ada yang menyentuh royalti pada angka itu per tahunnya, kecuali penulis buku pelajaran. Saya sendiri mengalami hal itu dari menulis buku pelajaran beberapa tahun lewat. Itu pun saya harus menulis buku SD kelas I s.d. VI, royalti yang diterima lebih dari Rp100 juta pada tahun pertama dan kedua.

Kalau ditanya ideal, tentulah penulis Indonesia paling tidak harus berpenghasilan Rp120 juta per tahun atau Rp10 juta per bulan. Angka ini mungkin agak sulit dipenuhi industri perbukuan dan media mengingat pertumbuhan penulis di Indonesia juga kini pesat sekali, diikuti dengan pertumbuhan penerbit serta judul buku. Di satu sisi minat atau daya beli tidak naik secara signifikan sehingga “pertempuran” di toko buku menjadi sangat dramatis. Ada buku bagus, justru tidak terjual bagus. Ada buku yang tidak bagus-bagus amat, justru dicari banyak orang.

Tahun 2013, TB Gramedia paling tidak menerima 2.700 judul buku baru setiap bulan. Sebagian besar judul-judul itu tidak mampu bertahan selama tiga bulan. Lewat dari rentang waktu tertentu (biasanya satu tahun), buku itu akan diobral dengan “harga yang condong banget” (50%-70% diskon). Penulis pun hanya mendapat “ampas” dari penjualan obral ini.

Writerpreneur Out of the Box

Dalam buku 5W + 1H Writerpreneur saya menyebutkan soal perlunya seorang penulis profesional untuk berpikir out of the box. Dia harus berpikir tidak hanya menggantungkan hidupnya dari menulis buku atau menulis untuk media, tetapi lebih dari itu ia harus memanfaatkan potensi lain. Di antara potensi itu adalah

  1. menjadi pembicara publik atau trainer;
  2. menjadi editor atau konsultan penulisan-penerbitan;
  3. menjadi penulis bayangan atau penulis pendamping.

Ya, lebih berpikir menjadikan keterampilan penulis sebagai jasa atau menjadikan menulis dan editing sebagai bisnis yang bisa ditawarkan kepada siapa pun. Kliennya bisa lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga nirlaba, lembaga pendidikan, bahkan perseorangan. Hal ini yang juga saya lakoni sejak tahun 2008.

Sepengamatan saya rata-rata jasa yang dapat diterima seorang penulis untuk penulisan biografi/autobiografi adalah >Rp150.000,00 per halaman (A4; 1,5 spasi). Angka ini bisa melonjak naik sampai Rp500.000,00 per halaman. Jika buku yang disusun rata-rata 200 halaman, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp100.000.000,00.

Namun, jangan berdecak kagum dulu, penulisan biografi/autobiografi bisa memakan waktu lebih dari enam bulan, bahkan setahunan. Angka segitu memang layak. Lebih layak lagi jika seharga mobil baru kelas menengah. Pasalnya terkadang narasumber sulit menyediakan waktu atau data-data harus dikumpulkan dulu dari berbagai tempat yang jelas memakan waktu.

Supaya bisa mengejar standar penghasilan penulisan tadi, tentu sang penulis pro harus mendapatkan pekerjaan dengan nilai di atas Rp20 juta paling tidak untuk enam pekerjaan selama setahun. Produktivitas menjadi tantangannya, termasuk kecepatan penulisan. Satu lagi tentu adaptasinya terhadap industri jasa penulisan itu sendiri terkait deadline dan metode penulisan.

Di luar yang disajikan ALCS tadi memang ada para penulis pro yang mengambil jalur di luar penerbitan buku. Mereka bekerja dalam ranah jasa.

Periuk Nasi dari Menulis

Saya sudah menggantungkan hidup sepenuhnya dari soal menulis ini sejak awal tahun 2012–tak lagi menjadi karyawan. Penghasilan utama saya banyak ditopang dari pekerjaan sebagai pembicara publik dan konsultan penulisan-penerbitan untuk lembaga pemerintah dan perusahaan swasta. Sekali-sekali saya bekerja untuk klien perseorangan.

Alih-alih bekerja sendiri, saya pun mendirikan bidang usaha berbadan hukum untuk layanan penulisan-penerbitan. Saya melihat kebutuhan ini di tengah kecenderungan industri buku yang kurang bergairah sejak 2-3 tahun terakhir ini dari sisi pendapatan. Sulit sekali mengangkat sebuah buku, kecuali dengan keaktifannya penulisnya menjual dalam training atau seminar-seminar. Penerbit tidak punya kekuatan pendanaan untuk promosi judul per judul.

Jadi, yang saya lihat adalah para penulis perseorangan yang ingin eksis menulis buku bukan untuk tujuan penjualan besar-besaran. Kedua, yang saya lihat lembaga pemerintah dan lembaga swasta yang masih kepayahan untuk menerbitkan sebuah buku secara profesional. Ketiga, adalah lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, yang masih miskin menghasilkan dosen-dosen penulis buku.

Saya mengisi “periuk nasi” ini dari memberi pelatihan dan memberikan konsultasi-pendampingan sampai seseorang mampu menghasilkan karyanya. Saya tidak lagi menggantungkan dari menulis buku meskipun sampai kini saya masih terus menambah portofolio penulisan buku. Saya tetap menulis buku, tetap dengan objektif membantu lembaga/perseorangan.

***

Beruntung di negeri ini angka penghasilan per tahun seperti penulis di Inggris itu adalah sesuatu yang masih mungkin diperoleh. Namun, itu tidak dapat digantungkan dengan menulis buku untuk penerbit. Entah sampai kapan itu bisa diharapkan, kecuali tadi saya sebut, Anda menulis buku pelajaran yang potensi pasarnya sudah jelas: jutaan siswa di Indonesia. Atau Anda beruntung menjadi penulis best seller selanjutnya–tentu best seller yang sebenarnya bukan abal-abal.

Mau tahu banyak lagi? Anda harus menyempatkan diri sekali waktu mengikuti kelas saya di Institut Penulis Indonesia (InstitutPenulis.id). Kami membuat program-program praktis untuk mencetak para writerpreneur sesungguhnya. []

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

13 KOMENTAR

  1. Saya melihatnya berbeda pak. Bisa jadi para penulis di Inggris -dan gaya ini sekarang mulai merebak ke Indonesia- mulai melirik ebook. Mereka angkat kaki dari buku cetak dan mulai berskperimen di ebook. Makanya penghasilan penulis di Inggris (terlihat) berkurang. Nyatanya, mereka kini bergerilya lewat dunia digital sehingga mungkin belum terjamah oleh tangan-tangan peneliti konvensional 🙂

    • Ya, mungkin ada penghasilan dari e-Book. Tapi perlu diingat, di e-Book harga buku bisa tergerus 50-70% dari buku cetak. Dalam beberapa survey, bisnis e-Book tumbuh, tapi apakah nilai transaksinya mampu mengimbangi buku cetak? Saya juga mengikuti informasi ini di Digital Book World. Memang para penulis self-publisher mampu menempatkan buku-bukunya dalam penjualan tertinggi setara dengan penerbit mayor. Atau mereka menyasar pasar ceruk seperti diungkap di buku Long Tail Business. Di Indonesia sendiri setelah saya mendalami dalam tiga tahun terakhir, eBook belum bisa dijadikan sandaran bisnis yang menghasilkan nilai finansial menggiurkan. Ada bermacam eBook store beroperasi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir, seperti Scoop, Wayang Force, Buqu, Qbaca, Bukuon, Moco (Akasaramaya), dan sebagainya, tapi tampaknya sebagian besar masih meraba-raba model bisnis ini hingga bisa mendatangkan keuntungan sekuat buku cetak. Kalau dibilang belum terjamah tangan-tangan peneliti konvensional, saya rasanya nggak yakin. Amerika dan Inggris sangat kuat dalam riset-riset begini. Soal eBook ini sudah menjadi mata pelajaran semacam di Stanford Publishing Course lebih satu dekade lalu. Kalau dibilang Indonesia, baru kita yakin nggak ada riset begini.

      • Temen-temen saya banyak yang nggak lewat Scoop, Force, dan media lain pak. Mereka bergerilya dengan bikin fanspage sendiri, menciptakan group dan komunitas sendiri di dunia maya. Atau mereka menggunakan Facebook Ads, Google Adwords, dan sejenisnya.

        Apa yang mereka jual mungkin tidak sebagus dan sedalam buku-buku yang beredar di Gramedia, tapi jelas mereka menyasar pasar yang tepat -dan ditambah sales letter yang memikat. Makanya ebook mereka bisa laku ratusan sampai ribuan copy. Saya pikir angkanya bisa lebih “gila” lagi di luar negeri.

        Saya pikir mereka inilah yang belum terjamah penelitian-penelitian terbaru.

        • Ya itu tadi Mas, apakah bisa dibuktikan penjualan eBook mereka bisa sampai ratusan dan ribuan kopi. Lalu, berapa harga eBook mereka dengan arti penghasilannya bisa menembus angka puluhan mungkin ratusan juta setahun. Ya, saya berkenalan dengan beberapa orang yang menjual eBook dalam format PDF dengan harga dollar. Ebooknya seharga ratusan ribu rupiah, tetapi penjualan baru merangkak ke puluhan kopi. Masalahnya tetap pada karakter pembaca kita. Apakah benar ada begitu pembaca yang rela mengeluarkan ratusan ribu untuk sebuah eBook dengan iklan yang selalu bombastis? Betul mereka pasti menyertakan bonus-bonus dalam setiap penjualan eBook-nya.

          Jika memang betul, tentu sebuah kejutan bagi dunia penulisan.

  2. Wah, lumayan berat jg utk mendapatkan penghasilan yg besar dr dunia menulis ini yah pak…
    Saya pikir mjd trainer, publik speaker dan mendirikan perusahaan penerbit sdg mjd trend para penulis di indonesia…

    • Menjadi trainer itu efek lain dari menulis buku. Tapi, tidak semua trainer bisa menulis buku (dengan baik); dan tidak setiap penulis bisa menjadi trainer (dengan baik pula). Mengisi training itu jelas “menggiurkan” karena dalam satu hari paling sedikit bisa diraih penghasilan Rp2 juta (kalau hanya ngomong 1-2 jam).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here