Kiat Menulis Buku Ilmiah

0
1923

Anda seorang akademisi atau peneliti yang hendak bertekad menulis buku? Buku memang “karya lompatan” bagi seorang akademisi, peneliti, atau ilmuwan karena lewat bukulah pemikiran dan ilmunya dapat ditebarkan secara luas, sekaligus diawetkan.

Sejak beberapa tahun ini saya telah mengisi berbagai kelas pelatihan penulisan buku ilmiah, baik untuk dosen, widyaiswara, maupun peneliti. Terakhir pada 11-12 September 2014 lalu, saya kembali mengisi untuk peneliti di lingkungan LIPI yang digagas LIPI Press.

Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.
Bambang Trim sedang mendampingi peserta untuk menggagas outline buku ilmiah.

Berdasarkan pengalaman mengisi kelas pelatihan dan mendampingi para calon penulis buku, kelemahan utama seseorang tidak mampu menulis buku ilmiah sebagai berikut.

  1. Tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini biasanya diikuti dengan ujaran, “Ide saya sebenarnya banyak ….”
  2. Penyajian bahasa yang cenderung panjang dan membosankan. Hal ini adalah kelemahan umum tersebab kurang berlatih.
  3. Penyajian to the point tanpa menyisipkan terlebih dahulu unsur-unsur yang mampu memikat pembaca, terutama di dalam lead atau paragraf awal tulisan.
  4. Penyajian yang terkungkung kebiasaan, seperti memulai tulisan dengan definisi, sejarah asal-usul, ataupun latar belakang permasalahan.
  5. Bahasan melebar atau malah sebaliknya, bahasan terlalu sempit tanpa menyertakan bahan atau fenomena-fenomena terbaru.

Dari pengalaman tersebut demi menutupi kelemahan tiada cara lain yaitu memberikan pelatihan dengan praktik langsung. Untuk itu, kunci pelatihan bagi para calon penulis buku adalah memperdalam aspek prewriting yaitu kemampuan menggagas dan mengembangkan ide menjadi draf outline dan drafting yaitu keterampilan menyusun naskah dengan berbagai cara.

Setiap calon penulis itu memerlukan pendampingan, sekaligus stimulus agar ia mampu menyusun satu draf outline jadi yang siap dieksekusi. Selanjutnya, ia dapat berlatih sendiri mengembangkan outline atau kerangka tulisannya.

Tips-tips berikut akan berguna sebagai bahan pelatihan.

  1. Mulailah membiasakan diri untuk menulis buku dengan outline tahapan. Outline tahapan mirip dengan skripsi dengan bagian inti Pendahuluan-Isi-Penutup. Bagian pendahuluan dan penutup biasa merupakan satu bab tersendiri. Adapun bagian isi terdiri atas beberapa bab. Umumnya penulis yang hendak mengambil jalan pintas menulis buku kerap memilih outline butiran yaitu berupa kumpulan tulisan-tulisan pendek (artikel, esai, dsb.). Hal ini tentu tidak akan mampu mengasah kemampuan Anda menulis buku sebenarnya.
  2. Bayangkan apakah Anda memiliki bahan yang cukup untuk mengembangkan sebuah ide penulisan, terutama bahan berupa buku ataupun dokumen tertulis lainnya. Bahan yang terbatas dapat membuat seseorang tidak dapat mengembangkan tulisan dan frustrasi. Akibat lain adalah bentuk penyajian yang akan “berputar-putar” atau “berulang-ulang”.
  3. Persempit topik Anda menjadi lebih spesifik mengingat buku-buku ilmiah cenderung menyasar pasar ceruk (niche). Jika Anda membuat topik “Problema Penyandang Disabilitas”, jelas topik ini terlalu luas. Anda dapat mempersempitnya menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Dunia Kerja”. Jika perlu, persempit lagi menjadi “Problema Penyandang Disabilitas dalam Bidang Kerja Industri Kreatif”.
  4. Pelajari outline atau lebih mudah daftar isi buku-buku ilmiah yang beredar di pasaran. Lihat bagaimana sang penulis menyajikan naskahnya. Hal apa dulu yang mereka kenalkan kepada pembaca?
  5. Sisipkan kisah dalam buku-buku Anda. Kisah tidak berarti mengurangi kadar ilmiah karena lewat kisahlah Anda dapat memikat calon pembaca. Contohnya ketika Anda akan membahas tentang tenaga listrik di Indonesia, Anda dapat memulai kisah tentang sulitnya warga Medan mengalami pemadaman listrik hampir tiap hari. Dari kisah ini dapat Anda telusuri sebab musababnya hingga menyentuh topik yang hendak Anda bahas. Jadi, lewat kisah kita bisa mengantarkan topik.
  6. Opini Anda dalam buku harus terlihat. Anda tidak sedang menulis skripsi, tesis, atau disertasi yang kadang “menyembunyikan” opini penulisnya dengan menyajikan teori-teori pendukung sebanyak-banyaknya. Di buku, opini Anda sebagai penulis harus terlihat eksplisit dan teori-teori pendukung (kutipan) digunakan secukupnya saja.
  7. Ketahuilah apakah di lembaga Anda ada semacam buku gaya selingkung (house style book) seperti yang juga diadakan di LIPI Press. Buku tersebut berisi petunjuk penyusunan naskah buku. Jika ada, buku semacam itu perlu Anda pelajari.
Buku gaya selingkung LIPI Press
Buku gaya selingkung LIPI Press

Itulah tujuh tips awal bagi Anda yang ingin menulis buku ilmiah atau buku nonfiksi populer. Selain menggagas ide baru, Anda dapat juga mengonversi atau menyadur karya-karya dalam bentuk laporan penelitian, skripsi, tesis, disertasi menjadi buku.

Selamat berkarya!

 

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi penulisan-penerbitan buku yang telah menghasilkan 150 judul buku. Ia kini beraktivitas sebagai writerpreneur dengan mendirikan PT Trimuvi (Cimahi, Bandung) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan bisnis/PR dan CV Detikata Media (Solo) dalam bidang pelatihan dan jasa penulisan akademis.

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here