Gerakan Literasi di Mata Menteri Anies

0
317

Jumat, 21 November 2014 adalah jadwal ketiga yang ditentukan untuk kami, tim dari Gerakan Ayo Membaca Indonesia untuk bersua Menteri Anies Baswedan. Dua jadwal sebelumnya diubah lagi.

Lepas Jumatan, kami berlima: saya, Pak Dedi Sjahrir Panigoro, Ikhsan Fauzie, Dewi Utama Fayza, dan Sastri menanti Mas Anis Baswedan–yang memang ogah dipanggil Pak Menteri. Rupanya beliau sedang bersantap siang dulu di kantin Kemdikbud, berbaur dengan pegawai lainnya. Sesuatu yang mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah dilakukan menteri-menteri terdahulu.

Ruangan sangat lega menampung kami berlima. Sekitar pukul 14.00, kami pun diterima dengan senyum khas Mas Anis. Mulailah Pak Dedi membuka obrolan langsung tentang rencana Gerakan Ayo Membaca Indonesia sebagai gerakan partisipatif dari rakyat untuk rakyat untuk kepentingan membumikan kemampuan literasi pada generasi selanjutnya.

“Saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan karya-karya fiksi berbau mysticism seperti halnya Harry Potter. Namun, yang patut dikagumi bahwa lewat novel itu anak-anak terpacu membaca buku setebal 700-an halaman lebih!” ujar Menteri Anies di sela-sela mendengar penjelasan kami.

facebook-20141122-043609

Jadi, salah satu upaya menanamkan minat baca memang buku harus dibuat seperti candu. Tentu hal ini bukan semudah membalikkan telapak tangan untuk Indonesia yang sedemikian luas. Faktor orangtua dan guru sangat berperan.

Menteri Anis juga mencontohkan sebuah gerakan yang merupakan turunan dari Gerakan Indonesia Mengajar yaitu Indonesia Menyala dengan cara membuat orang memiliki perpustakaan asuh. Para sukarelawan pun akan berkomitmen untuk “mengasuh” sebuah perpustakaan, termasuk memantau pertambahan koleksi dan promosi minat baca.

Kami menangkap satu pesan segera bergerak dan menyebar untuk promosi minat baca ini. Karena itu, agenda lain segera disusun, termasuk menyiapkan rencana literacy camp bagi para guru dan orangtua yang berminat di beberapa kota di Indonesia.

Ini adalah gerakan kesekian terkait minat baca karena telah banyak gerakan serupa yang didirikan. Namun, tentu perlu ada cara-cara kreatif untuk tetap melakukannya dan tidak berputus asa soal keadaan bangsa Indonesia yang makin jauh dari bacaannya. [BT]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here