Memintal Bisnis Digital untuk “Anak BerBuDI”

2
454

Bulan November dan awal Desember  2014 ini rasa-rasanya saya terkoneksi terus dengan isu BuDI alias buku digital Indonesia. Pertama, ketika diundang menjadi pembicara dalam sharing session bersama Qbaca Telkom pertengahan November lalu. Kedua, ketika beraudiensi dengan Menteri Anies Baswedan pada minggu yang sama. Terakhir, ketika menjadi peserta sekaligus moderator untuk acara Digital Creative Camp & Business Gathering bersama Kemenpar dan Ikapi.

Topiknya semua menjurus pada pengembangan buku digital di samping isu krusial soal minat baca. Tentu yang menjadi sasaran adalah anak-anak kini yang umumnya lahir pada tahun 2000-an atau disebut-sebut sebagai Generasi Z. Generasi yang menunjukkan tanda-tanda mampu beradaptasi sangat cepat dengan teknologi.

Event-event itu menggumpalkan semangat bahwa bagaimanapun penerbitan digital sudah menjadi tantangan sekaligus peluang di depan mata. Bakal lahir anak-anak yang berBuDI alias belajar dan bermain dengan buku digital. Dari semula muncul buku digital generasi pertama dengan hanya menyajikan teks, kini telah ada buku digital Gen III dan Gen IV yang mulai menggabungkan unsur video, audio, animasi, dan game.

Hari S. Tjandra, pendiri perusahaan pengembang konten edukasi Pesona Edu dan juga Ketua Komunitas Pengembang Software Edukasi MIKTI, menyebutkan betapa peluang bisnis konten digital ini terbuka di ranah edukasi. Indonesia memiliki puluhan juta siswa yang tersebar di seluruh Nusantara dan pola belajar multimedia akan menjadi pilihan yang membuat peserta didik atau siswa menikmati proses belajar sekaligus bermain.

Dua hal pokok dari pengembangan produk penerbitan digital ini disebutkan adalahscript dan programming sehingga para penerbit akan menggabungkan dua kekuatan, yaitu pengembangan konten (content developing) dan penggunaan teknologi IT. Dengan kekayaan konten yang dimiliki penerbit Indonesia, semuanya dapat ditampilkan kini secara audio-visual sekaligus interaktif.

Dalam pertemuan dengan Menteri Anies, beliau menyampaikan salah satu kompetensi yang harus ditanamkan pada guru adalah kemampuan berkisah. Secara teori akademis, ini disebut kemampuan komunikasi naratif. Berkisah itu tidak harus identik dengan story telling atau mendongeng karena story telling adalah bagian dari berkisah. Namun, berkisah contohnya adalah kemampuan menyampaikan materi pembelajaran dengan pengantar  yang membangkitkan rasa ingin tahu anak.

Saya jadi teringat teman saya, Tasaro GK, penulis novel yang kini senang menyebut dirinya sebagai juru cerita. Tasaro yang juga memiliki sekolah PAUD di Jatinangor ini dalam beberapa bulan terakhir kerap mengisi kelas untuk guru terkait teknik menyampaikan pembelajaran secara berkisah. Akhirnya, kami berdua bersepakat ampuhnya komunikasi naratif ini digunakan dalam metode pembelajaran. Bahkan, hal itu semakin menemukan momentumnya dengan pembelajaran multimedia.

Nah, dalam hal ini perangkat pembelajaran digital atau multimedia akan sangat membantu guru mengembangkan sebuah kisah. Contoh sederhana dari sebuah video yang diunduh melalui Youtube, guru sudah bisa menyampaikan pembelajaran secara berkisah berbasis multimedia. Tentu akan lebih mantap jika ada produk yang menyiapkan segalanya untuk guru menjelaskan sebuah pembelajaran dilengkapi animasi, game edukasi, dan tentunya audio-video.

Guru dan  peserta didik sama-sama menikmati aktivitas BerBuDI tadi alias belajar dan bermain dengan buku digital. Ya, produk ini tetap dinamakan sebagai BUKU yang menghimpun segalanya, bukan dinamakan bahan ajar multimedia atau game edukasi. Sebut saja BUKU atau biar lebih spesifik disebut BuDI alias buku digital Indonesia. Jadi, BuDI adalah buku generasi terbaru untuk generasi kini dan masa mendatang Indonesia.

Benang merah, kuning, dan hijau untuk masuk ke dalam ranah atau rimba digital sudah tersedia. Ada Ikapi atau Ikatan Penerbit Indonesia yang memiliki kompetensi pengembangan skrip atau konten dasar buku digital. Ada MIKTI atau Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia yang memiliki kompetensi di bidang programming. Tentulah Indonesia tidak kalah-kalah amat dari negara maju seperti Amerika Serikat ataupun Korea Selatan dalam soal pengembangan teknologi digital. Jadi, tinggal bagaimana benang-benang itu dipintal menjadi sebuah peluang dan kompetensi di ranah bisnis buku digital.

Saya sendiri sudah coba memintal jalan digital itu sejak 2013. Teknologi begitu digjaya dan tidak ada yang mampu membendungnya, termasuk kita. Bahwa buku fisik masih akan tetap bertahan, ya. Namun, bahwa buku digital tidak akan berpengaruh hebat, ini yang masih bisa didebat.

Tidak ada kata lain memang bahwa content is king dan king maker-nya adalah orang-orang kreatif yang mampu membaca peluang dan menciptakan karya yang bergigi. Jadi, tidak peduli apa pun medianya, mau kertas atau bukan kertas, orang-orang kreatif tetap punya lahan untuk berkarya, termasuk di ranah BuDI. Karena itu, bersiaplah menyambut Generasi BerBuDI itu.

©2014 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. semoga bisa meningkatkan minat baca anak, karena kita ketahui bahwa perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini membuat orang tua bahkan anak terlena dengan berbagai fasilitas hingga membuat mereka lupa waktu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here