Disklaimer

7
566

Jarang sekali memang buku-buku karya penulis Indonesia mengadakan halaman peringatan (disclaimer). Satu contoh yang pernah dilakukan adalah pada buku pelajaran Kurikulum 2013. Pemerintah dalam hal ini Kemdikbud selaku pemegang hak cipta dan penerbit merasa perlu mengadakan halaman “disklaimer” tersebut.

Disklaimer (padanan kata ini digunakan di buku K-13) tersebut berbunyi: Buku ini merupakan buku siswa yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka implementasi Kurikulum 2013. Buku siswa ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakan dalam tahap awal penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan “dokumen hidup” yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini. (lihat tulisan saya tentang disklaimer ini).

Jadi, halaman peringatan memang lazim digunakan oleh para penulis atau penerbit terkait dengan konten isi buku. Berikut ini adalah alasan mengadakan halaman peringatan (disclaimer):

  1. Peringatan demi menghindarkan tuntutan hukum dalam suatu karya. Contoh, dalam karya fiksi kita sering membaca peringatan berikut: fiksi kita pun mafhum ada kata-kata seperti ini: Nama tokoh dan tempat di dalam karya ini adalah khayalan penulis belaka. Jika ada kesamaan nama dan tempat dalan karya ini pada kehidupan nyata, itu hanya kebetula;
  2. Peringatan bahwa materi dalam buku tidak bisa sepenuhnya atau tidak disarankan menjadi rujukan yang akurat. Penulis juga mengingatkan bahwa penggunaan buku ini tidak dapat sepenuhnya diasumsikan sebagai panduan atau konsultan mandiri tanpa bimbingan orang yang lebih memahami atau ahli, termasuk juga terkait dengan hukum di negara tertentu.

Dalam banyak kasus memang kerap pembaca memercayai konten sebuah buku dengan yakinnya, padahal buku tersebut kadang menggunakan judul bombastis. Contohnya, 30 Hari Mahir Cas-Cis-Cus Bahasa Inggris. Setelah mengikuti saran dalam buku, ternyata pembaca tidak mampu berbicara bahasa Inggris dalam tempo 30 hari.

Adalah tanggung jawab penulis ataupun penerbit untuk memperingatkan pembaca sebagai tindakan sportif sehingga mereka tidak asal membeli buku.

Berikut saya berikan contoh halaman peringatan yang disampaikan Joe Vitalae dalam bukunya Hypnotic Writing, edisi terjemahan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

 

2015_0001

 

2015_00022015_0005

2015_0007

Tampak pada peringatan yang dibuatnya, Vitalae hendak menjelaskan lebih dulu tentang hipnosis dan peringatannya agar kemampuan hypnotic writing digunakan untuk jalan kebaikan. Selain itu, ada pula klarifikasi tentang hipnosis sebagai sarana, bukan sebuah “kekuatan” bagaikan dewa bagi seseorang. Penjelasan dan peringatan awal seperti ini cukup fair bagi pembaca agar tidak berpikiran “macam-macam” dulu.

Nah, saya jadi ingat sebuah iklan bombastis pelatihan hipnosis beberapa waktu lalu yang disebarkan via broadcast message. Saya sempat bertanya kepada panitia yang menyebarkan iklan itu karena begitu banyak bumbu bombastisnya. Di satu sisi untuk menarik minat, pelatihannya dijuduli dengan hal berbau spiritual. Di sisi lain dijanjikan peserta akan mampu melakukan hiburan hipnosis sehingga bisa menghipnosis massal. Apa hubungan hipnosis dapat digunakan sebagai hiburan dan meningkatnya daya spiritual–dijanjikan akan lebih khusyu dalam ibadah?

Hal-hal seperti itu jika tidak disertai dengan disclaimer tentu bisa menyebabkan kekeliruan atau sesat pikir bagi orang awam. Begitupun dengan buku-buku berjudul bombastis yang bertebaran kini. Tentu diperlukan sikap fair atau sportif dari penulis untuk mengungkapkan klarifikasinya pada halaman peringatan.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

7 KOMENTAR

  1. Assalamu’alaikum

    Pak Bambang, saya ingin bertanya.
    1. Letak Halaman Peringatan ini ada di bagian mana? Bagian setelah endorsement atau sesudahnya?
    2. Judulnya menjadi halaman peringatan atau peringatan penulis?
    3. Halaman peringatan ini apakah sama dengan “Catatan Editor” yang ada di halaman depan buku?
    4. Sebaiknya disklaimer ini menjadi catatan dari penulis atau editor?

    Terima kasih.

    • Wa’alaikum salam,

      1. Letak halaman diclaimer setelah prakata penulis di halaman prelims.
      2. Judulnya bisa “Peringatan” saja.
      3. Yang membuat halaman peringatan adalah penulis bukan editor. Jadi, tidak sama dengan catatan editor, seperti buku-buku bunga rampai atau antologi.
      4. Disclaimer bukan catatan, tetapi peringatan penulis terhadap konten isi buku.

      Terima kasih kembali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here