Menikung Konten: Iseng Mencermati Berita Media Daring

4
432

Aplikasi media daring populer Detik.com tertanam di gawai saya. Otomatis banyak berita terbaru yang kadang dalam hitungan menit saya akses dari sana. Namun, semakin lama saya membaca berita media daring itu, semakin saya merasa banyak bahan berita sama diulang-ulang dengan judul berbeda. Atau yang paling telak bikin melongo antara judul dan konten jauh berbeda.

Saya pun berpikir apa ini memang teknik jurnalistik baru untuk model media daring agar mendapatkan banyak klik. Nggak percaya, nih satu contoh berita kemarin.


Rabu 12 Aug 2015, 17:50 WIB
Reshuffle Kabinet

JK Blak-blakan Soal Alasan Reshuffle Kabinet

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja melantik 5 menteri dan Sekretaris Kabinet. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut reshuffle kabinet dilakukan agar pemerintahan mencapai hasil yang lebih baik.

“Ya kan sebagaimana prinsip-prinsip dasar kalau ada reshuffle tentu ingin mencapai hasil yg lebih baik. Tentu alasannya itu, utk mencapai hasil yang lebih baik,” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2015).

Menurut JK tak ada alasan lain reshuffle kecuali pemerintah ingin mencapai hasil kinerja yang lebih baik. “Kemarin itukan faktornya bukan hanya masalah menteri. Sebagian besar karena masalah eksternal. Jadi tidak bisa juga perkembangan itu akibat kabinet atau menteri,” kata dia.

Secara khusus JK memberika pesan kepada tiga menteri koordinator agar bisa melakukan koordinasi lebih baik lagi dan fokus, serta memiliki langkah-langkah program yang jelas.

“Kenapa Menko yang utama diubah,” tanya wartawan.

“Itukan teknis sekali. Masa disampaikan sama kalian,” jawab JK.


Pertama, wartawan atau editor Detik.com tampaknya masih perlu diikutkan pelatihan editing kebahasaan. Kata “blakblakan” adalah satu kata yang bukan berasal dari kata “blak” yang diulang sehingga penulisan blak-blakan jelas keliru. Sama halnya dengan waswas yang juga satu kata.

Kedua, di mana menurut Anda blakblakannya JK soal reshuffle? Apa yang tersirat dan tersurat justru JK tidak mau blakblakan seperti paragraf terakhir berita dan cenderung menjawab diplomatis atau normatif saja. Blakblakan itu kalau disebutkan satu per satu fakta secara terbuka dan nyata, contohnya mengapa Rachmat Gobel dicopot?

JK bisa menjawab kira-kira begini, “Oh itu Anda semua pasti tahu karena dwelling time dan satu lagi yang paling baru, daging sapi menghilang dan melambung. Pak Jokowi marah betul.”–ini contoh blakblakan versi saya.

Dalam KBBI kata blakblakan bermakna “tidak ada yg ditutup-tutupi atau disembunyikan; terus terang; terbuka”.

Jadi, konten telah dibuat menikung dan judul menjadi rambu yang mengantarkan pembaca ke “jurang” informasi bukan sebenarnya. Satu kata lain yang juga sering digunakan untuk menimbulkan efek heboh yang menikung adalah geruduk.

Alkisah sekelompok ibu mendatangi kantor DRPD untuk sekadar menyampaikan aspirasi. Demi menimbulkan efek berita maka ditulislah judul “Kantor DRPD Tegang Digeruduk Ibu-Ibu”.

Judul lebay boleh jadi pantas disematkan. Namun, makin hari ke hari, pengelola media tidak peduli. Redaktur seperti tak punya kerja lagi selain mengamini posting berita demikian.

Mereka menyasar kaum pembaca yang rendah media literacy-nya sehingga tidak cukup awas hingga memamah semua berita. Bahkan, kadang membagi berita tersebut tanpa membacanya alias hanya percaya pada judul yang menikung konten tadi.

©2015 oleh Bambang Trim


Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

4 KOMENTAR

  1. Media daring yang satu ini sudah ditandai oleh rekan-rekan blogger, Pak. Selain gaya redaksional beritanya yang kadang mbulet, akurasinya juga kerap dipertanyakan. Ya itu tadi, tujuannya buat mendulang traffic dan kunjungan semata. Saya sepakat.

  2. Padahal jaman jadi jurnalis di koran dulu bikin angle sama konten susahnya minta ampun. Diomel-omelin editor. Media satu itu blas nggak selektif atau edit-edit sama sekali. Satu berita bisa dipecah jadi 5 judul. Isinya sama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here