Penulis yang Baik (Tentu) Memahami Komposisi

0
747

Satu mata kuliah yang menjadi favorit saya saat berkuliah di Prodi D3 Editing Unpad 23 tahun lalu adalah komposisi. Namun, sangat mungkin mata kuliah ini tidak disukai kawan kuliah yang lain. Komposisi tidak lain adalah mata kuliah tentang mengarang dan menulis.

Dalam KBBI, kata komposisi bermakna

1 susunan; 2 tata susun; 3 Mus gubahan, baik instrumental maupun vokal; 4 teknik menyusun karangan agar diperoleh cerita yg indah dan selaras; 5 Sen integrasi warna, garis, dan bidang untuk mencapai kesatuan yg harmonis

Jadi, yang paling tepat mewakili makna mata kuliah itu adalah makna nomor 4. Sebuah buku lawas tentang menulis karya Gorys Keraf juga menggunakan judul Komposisi. Di dalam buku itu, pembaca akan menemukan tahapan menulis dan berbagai pernak-pernik penulisan sebagai konvensi yang berlaku dalam dunia penulisan.

Sederhananya, komposisi adalah teknik menyusun karangan dan menuliskannya menjadi satu bangunan wacana (karya) yang utuh dan kukuh. Ibarat bangunan yang baik, pembaca dapat mengenali tulisan sebagai bangunan rumah misalnya, yaitu mengenali halaman depan, teras rumah, ruang utama, dapur, hingga halaman belakang.

Itu sebabnya sebuah komposisi mestilah dibangun secara berproses. Proses membangun komposisi kemudian dikenal sebanyak lima tahap, yaitu prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Prewriting atau pramenulis menjadi fondasi awal membangun komposisi–layaknya menyiapkan cetak biru untuk membangun sebuah rumah.

Apakah ada penulis/pengarang yang menghasilkan karya tanpa memperhatikan komposisi? Tentu saja untuk masa kini banyak, terutama mereka yang menganut “aliran” free writing tanpa basis ilmu komposisi.

Mereka berbeda dengan para penulis/pengarang yang sudah terasah keterampilannya soal komposisi. Penulis/pengarang mumpuni akan mudah membangun penciptaan mental lewat prewiriting dengan intuisinya. Secara sederhana, proses menyusun kerangka (outline) dilakukan di dalam kepala, tidak memerlukan lagi coretan-coretan di kertas ala mind map. Untuk sampai ke taraf ini, tentu latihannya juga sangat lama dan terarah.

Para penulis pemula memang baik diajarkan free writing sebagai motivasi awal dan pemacu semangat mereka untuk mau menulis. Namun, untuk pada taraf mampu menulis dengan baik, mereka tetap harus dibekali dengan pengetahuan proses membangun komposisi. Jika free writing yang terus digadang-gadangkan, para penulis pemula itu akan tumbuh sebagai penulis yang mengabaikan komposisi–lebih terjebak pada tren sebagai pengekor.

Komposisi awal karangan: tema-topik-judul (Sumber: Bambang Trim)
Komposisi awal karangan: tema-topik-judul (Sumber: Bambang Trim)

Jika Anda pendengar setia musik, tentu Anda akan mengenali mana komposisi lagu/musik yang baik dan mana yang kacau. Anda mungkin tipe penyuka musik easy listening dan sama halnya dalam menulis, ada tipe tulisan easy reading. Atau Anda penyuka jenis musik agak rumit seperti jazz, tetapi tetap bisa dinikmati. Sama dalam menulis pun ada tipe tulisan yang rumit dari sisi konten dan penyajiannya, tetapi tetap dapat dinikmati. Pilih yang mana?

Pembaca tulisan juga beragam dengan berbagai tingkatan, tetapi kesamaannya mereka tetap menginginkan komposisi yang baik. Contohnya, pembaca anak-anak juga sudah dapat merasakan komposisi tulisan yang baik. Jika ada tulian yang ditujukan untuk anak, tetapi anak justru enggan membacanya, berarti ada yang salah dalam komposisinya.

Buku-buku menawarkan komposisi tulisan untuk menarik pembacanya. (Foto: Bambang Trim)
Buku-buku menawarkan komposisi tulisan untuk menarik pembacanya. (Foto: Bambang Trim)

Pada ujungnya, komposisi adalah seni yaitu seni menata kata dan unsur-unsur karangan. Jika itu fiksi, komposisi menjadi seni menyatukan penokohan, plot/alur, setting/latar, dan amanat yang ingin dimasukkan. Jika itu nonfiksi, komposisi menjadi seni menyusun alur pemikiran (penulis) secara bertahap.

©2015 oleh Bambang Trim

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here