Kala Dosen Harus Menjadi Editor

0
518

 

Kopi pagi ini terasa sedap di UMM Inn. Pagi agak mendung di Malang, mungkin juga pengaruh dari abu vulkanik Gunung Bromo kemarin. Pukul 8.00 hingga 16.00 saya dijadwalkan mengisi Pelatihan Konversi KTI Nonbuku Menjadi Buku di Universitas Muhammadiyah Malang. Sebanyak 45 orang dosen hasil seleksi akan mengikuti pelatihan satu hari ini.

Ini kali kedua saya ke Malang dalam 2015, kedua-duanya terkait pelatihan menulis buku. Pertama saya melatih para peneliti di lingkungan Balitbangtan, Kementan. Lalu, kini para dosen yang juga diharapkan mampu menghasilkan buku dan menjadi editor untuk menilai kelayakan sebuah naskah.

Ilmu editing boleh dikatakan tidak berkembang di Indonesia. Ilmu ini pernah diajarkan di almamater saya, Prodi D3 Editing Unpad. Namun, kini prodi itu sudah ditutup konon karena sepi peminat. Saat ini, hanya ada Jurusan Penerbitan di Politeknik Media Kreatif (Polimedia) yang masih mengajarkan ilmu ini. Saya sendiri mengajarkannya di Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (Alinea) Ikapi dalam tiga tahun terakhir ini.

Adalah hal yang tidak lazim jika seorang dosen yang ditunjuk menjadi editor untuk sebuah naskah, termasuk juga karya kesarjanaan (skripsi, tesis, disertasi) justru minim, bahkan tidak pernah menghasilkan publikasi tertulis. Kapabilitasnya sebagai editor justru diuji dari keberhasilannya meloloskan naskah di gawang redaksi penerbit. Namun, pada kenyataannya memang ilmu editing jarang dikuasai oleh para dosen, bahkan juga anggota redaksi di sebuah media publikasi.

Dalam kaitan itu pula saya diminta untuk memberikan kilasan ilmu penerbitan dan editing kepada para peserta pelatihan di UMM. Ilmu langka ini memang jarang digelar dalam bentuk pelatihan. Adapun buku terkait ilmu penerbitan dan editing pun sangat jarang bisa ditemukan di Indonesia. Buku-buku tentang karya tulis ilmiah (KTI) banyak, tetapi tidak untuk buku-buku bagaimana mengedit KTI itu.

Ilmu editing sejatinya tidak hanya terkait soal tata bahasa. Banyak hal lain yang harus ditelaah oleh seorang editor, seperti gaya penyajian, ketelitian data dan fakta, legalitas dan kesopanan, hingga beberapa aspek penerbitan dan pencetakan. Memang satu hari tidaklah cukup untuk mengajarkan seluruh ilmu ini. Namun, paling tidak saya bisa membawakan pesan bahwa menulis dan menyunting (editing) itu terkait erat. Editor juga harus menjadi penulis dan sebaliknya, penulis juga harus menjadi editor.

Kopi pagi ini belum seluruhnya saya teguk. Menulis di Kompasiana ini lebih menyita perhatian. Akan tetapi, kopilah yang memberi semangat untuk mengetikkan kata-kata. Salam menulis!

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here