Misteri dan Tragedi “Buku Bacaan”

0
823

Pertemuan dengan Dirjen Dikdasmen Kemdikbud pada 7/1 kemarin mengalirkan sebuah informasi bahwa akan ada kebutuhan besar-besaran terhadap buku bacaan terkait Permendikbud No. 23/2015. “Buku bacaan di sini jelas bukan buku pelajaran (school book) atau buku referensi”, begitu penjelasannya. Kaum muda di Ikapi sempat agak bingung dengan terminologi buku bacaan. Apakah ada buku nonbacaan sebagai kebalikannya?

Kebingungan penggunaan terminologi tersebut memang bisa dipahami. Puskurbuk sendiri sebagai lembaga yang paling berkompeten mengurusi buku pendidikan juga kadang tidak konsisten menggunakan istilah antara buku pengayaan dan buku bacaan. Jadi, ada kebingungan antara sebutan buku pengayaan atau buku bacaan. Apakah kedua buku tersebut sama?

Penggunaan istilah tersebut dapat ditelusuri dari sejarah perbukuan Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Penyebutan atau istilah yang digunakan sejak zaman Orba maka tetap berlaku dan hidup sampai sekarang. Generasi baru yang memasuki dunia buku tanpa membaca sejarah, tentu akan dibuat kelimpungan dengan terminologi tersebut.

Di Indonesia juga ada istilah buku ajar, buku pelajaran, dan buku teks yang secara definisi sebenarnya sama saja yaitu buku yang disusun berdasarkan kurikulum/silabus dan digunakan sebagai bahan pembelajaran oleh peserta didik. Hanya kemudian ada pembeda bahwa ketika menyebut buku untuk pendidikan dasar dan menengah digunakan lebih umum istilah buku pelajaran. Adapun untuk pendidikan tinggi digunakan istilah buku ajar.

Namun, secara khusus di perguruan tinggi dibedakan lagi antara buku ajar dan buku teks. Buku ajar berbasis kurikulum/silabus, sedangkan buku teks adalah buku pengayaan untuk mata kuliah tertentu yang tidak mengacu pada kurikulum/silabus. Bukti pembeda istilah ini dapat dilihat dari program Hibah Buku Teks dan Insentif Buku Ajar yang dilakukan Kementerian Riset dan Dikti.

Wajar jika di Indonesia, istilah perbukuan yang gado-gado ini memunculkan kebingungan tingkat dewa. Saya kemudian mencoba menyusun klasifikasi apa yang disebut buku pendidikan tersebut berikut pengertian atau penjelasannya, khusus untuk kasus Indonesia.

Jenis Pengertian
Buku Acuan/Referensi Buku yang berisi informasi dasar tentang bidang atau hal tertentu yang biasanya disusun berdasarkan abjad atau sistematika tertentu. Informasi dasar atau pokok tersebut dapat dijadikan sebagai acuan (referensi) oleh peserta didik atau pendidik untuk memahami sebuah masalah secara teoretis. Contoh: ensiklopedia, kamus bahasa, kamus istilah bidang, tesaurus, buku induk, peta, direktor, dan buku pintar.
Buku Pegangan (Guru/Dosen) Buku yang berisi uraian teknis serta rinci bahan ajar bidang/mata pelajaran tertentu. Buku ini digunakan para pendidik untuk memecahkan, menganalisis, dan menyikapi permasalahan yang akan diajarkan kepada peserta didik. (Secara umum di Indonesia dibuat buku pegangan guru sebagai pendamping buku pelajaran)
Buku Ajar Buku yang berisi uraian bahan pelajaran bidang tertentu sesuai dengan kurikulum/silabus pembelajaran yang disusun secara sistematis serta diarahkan untuk tujuan/kompetensi tertentu. Buku ini digunakan sebagai sarana pembelajaran di dalam kelas/ruang kuliah dan digunakan secara bersama oleh pendidikan dan peserta didik.
Buku Teks
Buku yang berisi uraian pada satu bidang ilmu tertentu, baik secara luas maupun secara mendetail yang dapat digunakan para pendidik, peserta didik, hingga para praktisi di bidang tersebut. Buku teks disajikan lebih populer dibandingkan buku ajar yang taat pada pola penyajian materi di dalam kurikulum/silabus. Istilah ini berlaku untuk konteks perguruan tinggi yang pengertiannya sama dengan buku penunjang/buku pengayaan untuk pendidikan dasar dan menengah.
Buku Latihan Buku yang berisi bahan-bahan pelatihan untuk menilai tingkat kepahaman siswa/mahasiswa terhadap suatu bidang tertentu yang telah diajarkan. Biasa digunakan secara periodik dan sekali pakai.
Buku Kerja/Buku Kegiatan Buku yang difungsikan untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang terkait dengan pembelajaran. Biasa digunakan juga sebagai buku tugas untuk dilaksanakan di luar kelas. (Di Indonesia buku latihan dan buku kerja fungsinya sering disatukan sehingga disebut Lembar Kerja Siswa atau LKS).
Buku Penunjang Buku yang berisi bahan-bahan penunjang untuk pengayaan materi yang telah dipelajari pendidik. Buku ini sering juga disebut sebagai buku pengayaan.
Modul Modul terkadang tidak digolongkan sebagai buku, tetapi sebagai kumpulan bahan ajar yang disusun secara sistematis lengkap dengan tes/uji indikator kemampuan peserta didik menyerap bahan pelajaran. Modul adalah bahan ajar yang digunakan secara mandiri tanpa guru/tutor/dosen. Modul berisi uraian ringkas atas suatu bahasan (kegiatan pembelajaran) dalam bidang tertentu.

Apa yang dimaksud buku bacaan sejatinya adalah buku pengayaan karena digunakan di luar proses belajar-mengajar di kelas atau jika pun digunakan, konteksnya adalah sebagai pelengkap pembelajaran. Buku bacaan lebih khusus lagi didefenisikan sebagai buku cerita.

Misteri Buku Bacaan

Buku bacaan sebenarnya istilah yang digunakan pada saat maraknya proyek pengadaan buku oleh pemerintah atau dikenal dengan proyek Inpres pada akhir tahun 1960-an. Buku bacaan mengacu pada jenis buku non pelajaran atau nonteks. Tahun 1973, proyek itu disebut Proyek Pengadaan Buku Bacaan Anak SD (PBBA-SD). Proyek ini diadakan untuk kepentingan merangsang minat baca anak-anak (Supriadi, 2010: 274).

Hal menarik lagi seperti dipaparkan Supriadi bahwa buku bacaan terbagi atas dua jenis, yaitu buku cerita fiksi dan buku cerita nonfiksi. Buku cerita fiksi adalah buku yang isinya mengisahkan sesuatu hasil imajinasi pengarang; mungkin cerita itu seluruhnya imajinasi atau dilatarbelakangi pengalaman tertentu yang dikemas dalam bentuk cerita. Buku cerita nonfiksi adalah buku yang mengisahkan peristiwa atau keadaan yang benar-benar terjadi atau nyata; mungkin berupa kisah sejarah, seni, tradisi budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, atau cara melakukan sesuatu yang dikemas dalam bentuk cerita (Supriadi, 2000: 274).

Jika kita hubungkan pada jenis tulisan, lebih umum dikenal jenis fiksi dan nonfiksi. Mengutip sebuah buku referensi tentang menulis, saya kemudian menggunakan istilah faksi sebagai genre fakta yang dikisahkan atau disajikan dalam bentuk kisah/cerita. Faksi tidak dapat disebut fiksi dan kurang tepat juga disebut nonfiksi.

Jadi, yang dimaksud istilah buku bacaan dalam program pemerintah adalah buku cerita, baik itu fiksi dan faksi. Di sini juga akan terjadi kebingungan karena di dalam fiksi dikenal juga fiksi imajinatif/fantasi dan fiksi realistis. Fiksi imajinatif/fantasi adalah cerita yang memang tidak mungkin ditemukan di dunia nyata, paling tidak untuk masa kini (karena sangat mungkin apa yang diimajinasikan masa kini, terjadi pada masa depan). Adapun fiksti realistis yaitu cerita meskipun tetap sebuah khayalan, tetapi sangat mungkin ditemukan dalam dunia nyata. Karena itu, dalam penyajian fiksi realistis sebagai film sering dimuat disclaimer bahwa kemiripan nama tokoh, tempat, dan peristiwa adalah kebetulan belaka. Pada perkembangan selanjutnya, genre fiksi pun muncul  lebih banyak lagi, seperti fiksi sains, fiksi misteri, fiksi horor, fiksi sejarah, dan fiksi sains.

Lalu, berkembang pula fiksi lain yang didasarkan kisah nyata (based on true story). Novel kisah hidup Dahlan Iskan seperti Sepatu Dahlan dan Sepeda Dahlan berbasis kisah nyata, tetapi menjadi fiksi karena sudah dibumbui imajinasi penulis/pengarangnya. Memang kemudian dikenal lagi apa yang disebut novel nonfiksi. Novel nonfiksi mengutip penjelasan dari Encyclpedia Britannica adalah cerita dari tokoh nyata dan peristiwa nyata yang disampaikan dengan teknik dramatis ala novel. Di sini mungkin kita tambah dibuat penasaran bermunculannya berbagai genre turunan fiksi.

Alhasil, kalau boleh menyimpulkan bahwa buku bacaan itu adalah dari jenis fiksi dan faksi. Fiksi dapat berupa cerita imajinatif/fantasi seperti Harry Potter, cerita realistis/keseharian seperti Laskar Pelangi, dan cerita rakyat (foklor) seperti Malin Kundang. Faksi adalah fakta-fakta dalam berbagai bidang yang disajikan dalam bentuk kisah, bisa berupa biografi, autobiografi, atau memoar.

Tragedi Buku Bacaan

Tentu ada dasar pemerintah membagi jenis buku bacaan yang diproyekkan itu dalam kategori cerita fiksi dan cerita nonfiksi. Namun, kategori cerita nonfiksi ternyata menimbulkan tragedi dalam versi saya. Apa tragedi itu? Terbitnya buku-buku anak yang tidak layak baca bagi anak karena memaksakan informasi nonfiksi menjadi cerita.

Saya pernah melakukan penelitian untuk ini terkait dengan penyusunan skripsi Sastra Indonesia di Unpad. Skripsi tersebut kemudian dibukukan dalam program Pustaka Adikarya Ikapi dan Ford Foundation dengan judul Fenomena Intrinsik Cerita Anak Indonesia Kontemporer: Dunia yang Terpinggirkan. Saya membaca lebih dari 40 judul buku bacaan anak yang terbit dalam rentang 1980-an hingga 1990-an.

Cerita_Anak_Kontemporer_Page_001

Hasilnya banyak buku bacaan dalam format cerita itu menyajikan konten yang sarat dengan pesan moral, nasihat, serta petunjuk teknis yang disajikan dalam bentuk cerita. Buku-buku semacam itu jelas mematikan minat membaca pada anak-anak.

Hasil penelitian saya didukung oleh penelitian yang disampaikan PAN Asia Research & Communication Services pimpinan Eki Syachrudin terhadap pengiriman buku bacaan anak SD tahun 1993/1994 atas permintaan dari Ditjen Dikdasmen (Supriadi, 2000: 273). Skor relatif rendah atau kategori buku yang kurang disukai anak-anak adalah buku-buku dengan judul bernuansa “novel remaja”, seperti Kunanti Tetes Darahmu; Merajut Pengabdian Menembus Kabut. Pesan-pesan buku tersebut, baik moral maupun pengetahuan, sangat kental sehingga memerikan kesan seperti buku nasihat, penuh dengan dialog yang terlalu dipaksakan, dan jauh dari kehidupan siswa. (Supriadi, 2000: 295-96). Sebuah buku yang saya teliti juga mengandung judul yang sangat abstrak, salah satunya Tegar Memancang Pilar.

Begitu pula dengan buku-buku how to yang difiksikan. “… Buku bacaan yang kurang diminati–meskipun sangat penting–adalah yang berisi keterampilan dengan gaya penyajian mirip sebuah “petunjuk pelaksanaan” sehingga terasa kering dan membosankan; misalnya, Cara Beternak Itik, Beternak Lele Dumbo, Cara Menanam Singkong, Membuat Kue Bolu, dan sejenisnya” (Supriadi, 200: 296).

Banyak cerita yang dalam istilah saya disajikan dengan “cara meminjam mulut orang dewasa” demi menjelaskan sebuah konsep atau pengetahuan kepada anak-anak. Misalnya, ketika si penulis mendapat ide untuk mengajarkan cara merawat gigi kepada anak-anak maka dihadirkanlah tokoh dokter gigi yang kebetulan adalah om/tante si anak. Cerita akan disajikan berupa penjelasan cara merawat gigi yang disampaikan om/tante dokter tadi. Dialog akan diselingi dengan tanya-jawab. Jadi, kehadiran cerita menjadi hambar, tanpa konflik dan alur yang menggiring minat anak untuk membaca lebih jauh.

Tidak percaya? Berikut salah satu petikan dialog buku bacaan yang saya teliti:


 

“Ikan dan udang ini masih benar-benar segar,” ujar Bandi.

“Benar. Memang demikian.”

“Lihat saja ciri-cirinya. Rupa dan warna ikannya tampak cerah, mengkilap, dan khas, sesuai dengan jenis ikan bandeng ini.”

“Akan tetapi, ada lendir tipis, bening, dan encer, Bu,” sahut Komar.

“Memang benar, itu juga salah satu ciri-ciri ikan segar. Selain itu, baunya normal atau khas bau rumput laut.”

“Sisiknya juga masih kuat, Bu,” kata Bandi sambil mencuci tubuh ikan bandeng tersebut.

“Memang benar, ciri dan tanda ikan segar adalah sisik melekat kuat, mengkilap, dan warnanya sesuai dengan ciri dan jenis ikan tersebut.”

“Lihat Bu. Matanya cemerlang,” kata Komar.

“Ya, selain cemerlang, juga cembung, bening, dan pupil mata hitam. Lagi pula tidak berdarah. Sekarang, pijitlah dagingnya dengan jari tangan,” ujar ibu seraya menyarankan Komar.

“Sudah, Bu.”

“Nah, dagingnya elastis atau kenyal. Apabila ditekan dengan jari tangan, bekas tekanan tidak tampak.”

“Lihat Bu. Insangnya juga berwarna merah cerah.”

“Ya, di samping itu tertutup lendir tipis, bening, dan berbau khas rumput laut.”

“Lihat pula bagian pertunya!” saran ibu.

“Ya, bagian perut itu masih kuat, tidak pecah, dan lubang dubur tertutup.” (hlm. 15 novel Mereka yang Berjuang)


 

Buku tersebut menceritakan perjuangan seorang anak serta keluarganya untuk membuka usaha di bidang perikanan. Buku dengan sisipan cerita motivasi usaha kecil memang banyak diterbitkan dan biasanya menggunakan konten utama petunjuk melakukan sesuatu (usaha). Seperti sebuah tren, buku-buku ini pun diterbitkan oleh berbagai penerbit melalui para penulis pesanan.

Faktanya buku-buku tersebut yang masuk proyek bacaan anak banyak sekali dan kerap menjadi “sampah” perpustakaan. Rupanya, proyek Inpres memang menarik sekali bagi banyak penulis, tetapi penulis juga banyak yang lupa bagaimana menulis cerita untuk anak. Itulah yang menurut saya sebagai tragedi sehingga uang negara tidak optimal benar-benar diwujudkan dalam buku yang bermutu, sekaligus disukai anak. Buku-buku yang ada sebagian besar itu justru mematikan minat membaca.

Merindu Buku Bacaan Bermutu

Generasi sekarang tentulah berbeda dengan generasi terdahulu yang tidak memiliki alternatif hiburan lain, selain buku. Namun, generasi terdahulu sudah menikmati bahan bacaan yang hebat-hebat mulai roman Pujangga Baru yang dikhususkan untuk orang dewasa sebenarnya, kecuali tentu novel seperti Si Dul Anak Jakarta dan Si Samin; hingga novel terjemahan semacam Petualangan Winnetoe, The Count of Monte Cristo, dan 20.000 Kaki di Bawah Laut. Novel-novel itu memberi khazanah wawasan baru di samping buku bacaan wajib Matahari Terbit yang kala itu berstatus buku pelajaran.

Jika sekarang ada gerakan baru menghimpun buku bacaan dari Kemdikbud terkait dengan Permendikbud No. 23/2015 tentang pembiasaan membaca selama 15 menit dan juga keingingan menciptakan ekosistem literasi yang menghidupkan ekosistem pendidikan dan kebudayaan, harapannya kasus-kasus penilaian dan pemilihan buku bacaan seperti tahun 1970-an hingga awal 2000-an tidaklah terjadi lagi.

Saya lebih setuju Puskurbuk yang kini ada dipisah kembali seperti semula menjadi Pusbuk saja–dipisahkan dari urusan kurikulum. Pusat Perbukuan Kemendikbud bisa menjadi motor untuk membuat kriteria buku bacaan anak-anak kini secara lebih mutakhir dari sisi pembagian jenis dan juga muatan konten yang harus ada.

Para penerbit dan penulis jangan sekadar diiming-imingi adanya proyek pengadaan atau pembelian buku bacaan yang menggiurkan, tetapi juga harus diedukasi untuk membuat buku bacaan anak-anak yang benar-benar layak baca dan paling penting menimbulkan minat untuk membacanya. Saat ini, berkembang jenis atau genre buku anak-anak yang banyak sekali dan semuanya pantas untuk dicoba.

Buku-buku lama bisa jadi relevan untuk didaur ulang. Buku-buku baru pun bisa jadi pantas untuk diciptakan, termasuk buku-buku cerita rakyat yang dapat dikisahkan ulang dengan lebih menarik.

Satu hal lagi Pusat Perbukuan Kemdikbud hendaknya tidak terlalu kaku dalam penetapan spesifikasi buku anak ini dan harus bergerak lebih progresif. Contoh kecil adalah membatasi ukuran buku anak hanya pada ukuran A5, B5, atau A4. Ukuran buku anak saat ini ada yang berbentuk square (bujur sangkar), terutama buku untuk anak-anak SD kelas rendah (kelas 1 dan 2). Biarkanlah penulis dan penerbit serta ilustrator tentunya membuat buku sekreatif mungkin dengan satu tujuan, menarik minat anak-anak untuk membacanya.

Kita sama merindu buku bacaan anak bermutu. Tragedi Nol Buku dan Tragedi Buku Bacaan semoga tidak terjadi lagi di negeri tercinta ini.


 

©2016 oleh Bambang Trim

Literator dan Direktur Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia (Alinea) Ikapi

Sumber:

Trimansyah, Bambang. 2000. Fenomena Intrinsik Cerita Anak Indonesia Kontemporer: Dunia Sastra yang Terpinggirkan. Bandung: Nuansa Cendekia.

Trim, Bambang. 2012. Apa dan Bagaimana Menerbitkan Buku: Sebuah Pengalaman Bersama Ikapi. Jakarta: Ikapi.

Supriadi, Dedi. 2000. Anatomi Buku Sekolah di Indonesia: Problematik Penilaian, Penyebaran dan Penggunaan Buku Pelajaran, Buku Bacaan, dan Buku Sumber. Yogyakarta: Adicita.

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here