Sadar Literasi, Indonesia Telat 12 Tahun

2
741

Siang menjelang sore, tanggal 7 Januari 2016, pukul 15.30, tim kecil Ikapi Pusat, yaitu Ketum Ikapi, Sekum Ikapi, Ketua Bidang Minat Baca, dan saya sendiri mengikuti pertemuan dengan Dirjen Dikdasmen Kemdikbud, Bapak Hamid Muhammad. Bersama kami ada pula Bapak Satria Dharma (penggiat literasi) dan tim dari Dinas Pendidikan DKI.

Pertemuan selain silaturahmi perdana pengurus Ikapi Pusat 2015-2020, juga untuk memberikan proposal terkait program Kebangkitan Literasi Indonesia yang digagas Ikapi. Topik “literasi” memang mengemuka beberapa tahun belakangan ini. Fajar cerah perbukuan nasional tampaknya merekah begitu Menteri Anies mendengungkan pentingnya segera membangun ekosistem literasi yang sehat dan andal. Salah satu penghuni ekosistem itu adalah penerbit yang mesti diberi ruang untuk berkreasi.

Satu kalimat yang saya ingat meluncur dari Pak Dirjen bahwa “kita telah telat mengusung soal literasi ini, padahal negara lain sudah sejak 2003”. Saya langsung menghubungkan tahun 2003 yang dimaksud Pak Dirjen pastilah terkait dengan Deklarasi Praha (Prague Declaration) yang dihadiri 23 negara terkait Literasi Informasi.

Literasi informasi seperti yang terungkap dalam Deklarasi Praha adalah

Literasi informasi meliputi pengetahuan tentang perhatian seseorang terhadap informasi dan kebutuhannya, serta kemampuan untuk mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, mengatur sekaligus efektif membuat, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi untuk mengenali dan mengatasi masalah yang dihadapi; Hal itu merupakan prasyarat untuk berpartisipasi dalam Masyarakat Informasi , dan merupakan bagian dari hak asasi belajar sepanjang hayat. “

Topik literasi informasi menjadi mengemuka pada era masyarakat informasi sekarang ketika kehidupan manusia secara lintas usia tidak terlepas dari informasi. Karena itu, literasi informasi dianggap sangat penting agar seseorang bisa berpartisipasi dan berkontribusi pada dunia. Mereka yang tidak sadar, melek, dan berbudaya literasi informasi, bisa terkucil dari masyarakat dunia ataupun lebih berbahaya menjadi sebatas konsumen yang dikendalikan informasi dari dunia lain.

Kita di Indonesia memang telat karena kita sendiri belum fokus pada literasi informasi yang lebih kompleks. Seperti yang disampaikan Pak Dirjen, selama masa 12 tahun itu kita malah mengurusi hal lain yang tidak seesensial literasi. Bahkan, akibatnya kini kita masih berkutat pada masalah literasi dasar yang menjadi bagian dari literasi informasi. Berikut diagram literasi informasi yang terungkap pada Deklarasi Praha.

 

Model Information Literacy Brian Ferguson.
Model Information Literacy Brian Ferguson.

Lalu, tidak jarang pula kita terjebak menyempitkan literasi hanya pada persoalan baca-tulis. Betul kegemaran membaca atau pembiasaan membaca adalah penanaman literasi, tetapi masih ada literasi lainnya. Jika mengacu pada literasi dasar, baca-tulis adalah bagian yang setara dengan menyimak-berbicara, berhitung-menghitung, dan  mengamati-menggambar. Di samping literasi dasar, ada literasi perpustakaan, literasi teknologi, literasi media, dan literasi visual.

Literasi dasar yang buruk merupakan salah satu penyebab rendahnya kemampuan literasi informasi sebagian besar generasi kita kini. Perhatikan dalam penggunaan media sosial. Kita bisa melihat bagaimana pola penulisan status, komentar, posting tulisan, penyebaran berita/informasi secara berantai, yang kadang mengabaikan etika (kepantasan), validitas sumber dan isi berita/informasi, serta juga ketepatannya.

Ada juga hal yang terkait dengan kurikulum. Misalnya, penghapusan mata pelajaran TIK pada K-13 jelas sedikit banyak berpengaruh “menghancurkan” keterampilan literasi teknologi yang semestinya diajarkan sejak dini kepada peserta didik di tingkat dasar dan menengah. Alhasil, anak-anak peserta didik tumbuh bersama teknologi kini tanpa pendampingan yang berarti.

Gerakan Literasi Sekolah

Saya memberi apresiasi, sekaligus menaruh harapan bahwa Dikdasmen telah memulai kerja membangun ekosistem literasi ini. Salah satunya membentuk tim Gerakan Literasi Sekolah untuk membuat Panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dalam tengara saya akan mengupas soal penanaman literasi dasar. Panduan ini kabarnya sudah rampung pada akhir Januari 2016.

Dalam panduan tersebut tersirat juga kabar bahwa akan ada petunjuk terkait penjenjangan buku bacaan yang selama ini Indonesia tidak memilikinya. Penjejangan memang umum dilakukan untuk buku-buku anak dan remaja yaitu jenis buku dihubungkan dengan usia atau perkembangan psikologi anak. Ada penjenjangan yang didasarkan pada usia anak dan ada pula penjejangan secara psikologis. Itu sebabnya dalam hal penjenjangan buku anak seperti yang pernah saya kutip dari versi Amerika, terkadang terdapat irisan usia pada beberapa jenis buku.

Berikut contoh penjenjangan/pemeringkatan buku anak di Amerika.

Tingkatan Usia Jenis Buku Penyajian Konten (Bahasa)
Batita (Toddler) 1–3 tahun Buku Bergambar (Picture Books) Tanpa kata; satu kata
Balita 3–5 tahun ke atas Buku Bergambar Satu kata; satu kalimat
6–7 tahun Buku Pembaca Mula (Early Readers) Satu paragraf pendek; satu cerita utuh
8–9 tahun Buku Bab/Pembaca Tingkat Peralihan (Middle Grade Books) Satu cerita/materi utuh yang terbagi atas bab-bab
≥9 tahun Buku Pembaca Menengah Satu cerita/materi utuh yang terbagi atas bab-bab
≥12 tahun Buku Pembaca ABG (Young-Adult Books) Satu cerita/materi utuh yang terbagi atas bab-bab

Tingkatan Usia, Jenis Buku, dan Tingkatan Penyajian Buku Anak.

Benar bahwa buku-buku Indonesia pun telah ada yang mencantumkan target usia untuk pembaca sasaran. Biasanya ditempatkan di kover buku. Namun, dasar penyebutan bahwa buku itu cocok untuk usia tertentu juga tampaknya asal saja.

Panduan penjenjangan yang disusun Dikdasmen setidaknya dapat menjadi acuan bagi para penerbit untuk mencantumkan informasi usia pada kover buku yang sesuai. Sebagai contoh, buku anak bergambar (picture books) hanya cocok untuk pembaca usia KB/TK atau paling lambat anak SD kelas 1.

Mengejar Kemajuan

Frasa “mengejar ketertinggalan” tampak tidak logis meskipun sering diucapkan para pejabat. Apa yang logis adalah mengejar kemajuan agar kita bisa menyamainya. Kita sudah tertinggal 12 tahun lebih dalam soal sadar literasi informasi yang di dalamnya terkandung literasi dasar. Karena itu, pembentukan ekosistem literasi harus juga mengandung rencana penanaman literasi informasi secara lengkap, yaitu literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi teknologi, literasi media, dan literasi visual.

Saya dengar bahwa Mas Anies itu senang sekali dengan infografik. Saya pernah menulis di Kompasiana bagaimana para menteri dibuat kelimpungan harus menulis laporan kinerja dalam tiga hari dan hanya dua halaman A4. Salah seorang menteri menyajikan laporan dalam format infografik, begitu kata Seskab Andi (kala itu sebelum diganti). Saya sudah menduga menteri itu adalah Anies Baswedan.

http://www.kompasiana.com/bambangtrim/menulis-efektif-ala-jokowi_5599ba0d949373a60ca543df

Jika Mas Menteri senang dengan infografik kini, itu adalah bagian dari literasi visual yang berhubungan dengan literasi teknologi dan literasi media. Jadi, tidak ada alasan mata pelajaran TIK sebenarnya ditiadakan karena membuat infografik saat ini harus melek TIK.

Karena itu, untuk mengejar kemajuan, kita tidak boleh setengah-setengah. Penanaman dan penguatan literasi dasar harus paralel dengan literasi lainnya dalam bingkai besar literasi informasi. Masa tertinggal 12 tahun mungkin bisa kita lampaui dalam empat tahun ke depan yaitu sampai 2019. Paling tidak sebelum pemilihan presiden baru dengan kabinet baru, ekosistem literasi informasi benar-benar sudah terbentuk dan para penghuni ekosistem benar-benar menciptakan mata rantai kebermanfaatan yang saling mendukung.

©2016 oleh Bambang Trim

Literator, Direktur Akademi Literasi dan Penerbitan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

  1. Reblogged this on dediwiyanto and commented:
    Karena itu, pembentukan ekosistem literasi harus juga mengandung rencana penanaman literasi informasi secara lengkap, yaitu literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi teknologi, literasi media, dan literasi visual. – Bambang Trim

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here