Tulisan Tidak Mengandung SARA

0
595

Manistebu.com | Foto: Mari Helin Tuominen | Istilah “tidak mengandung SARA” tampaknya sudah menjadi populer sebagai persyaratan sebuah naskah yang layak dipublikasikan atau diterbitkan di segala media. SARA kita kenal sebagai singkatan dari suku, agama, ras, dan antargolongan.

Secara logika bahasa, istilah “tidak mengandung SARA” sebenarnya tidak logis apabila ada syarat bahwa naskah buku religi tidak boleh mengandung SARA. Artinya, naskah buku religi tidak boleh mengandung isi (konten) bermuatan suku, agama, ras, dan antargolongan. Lalu, apa isi buku tersebut kalau bukan tentang agama, bahkan juga menyinggung suku, ras, dan antargolongan?

Masyarakat Indonesia memang suka melesapkan sebuah kata sehingga mengubah makna. Sebagai contoh lihat saja ungkapan “kebohongan publik”. Kata yang dihilangkan adalah kata kepada sehingga seharusnya “kebohongan kepada publik”. Penghilangan kata itu jadi membalikkan makna sebenarnya.

Begitupun pada kasus “tidak mengandung SARA” seharusnya ditulis “tidak mengandung penghinaan atau penistaan SARA”. Kandungan SARA sendiri adalah kandungan legal yang tidak melanggar hukum atau etika. Apa yang berbahaya justru penghinaan, penistaan, ujaran kebencian terhadap SARA yang dapat menimbulkan pergolakan atas dasar SARA. Jadi, ungkapan “berbau SARA” jika dimaksudkan negatif juga tidak benar karena semestinya “berbau penghinaan/penistaan/pelanggaran SARA”.

Berbeda halnya dengan ungkapan “tidak mengandung pornografi” yang jelas benar sebab pornografi sebagai konten memang terlarang dan memberi pengaruh negatif. Adapun SARA sebagai konten tidaklah terlarang. Buku-buku berbasis kearifan lokal pasti mengandung konten suku dan ras. Buku-buku politik pasti mengandung konten antargolongan dan mungkin juga konten agama.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here