Karib Menulis adalah Membaca, Kekasihnya adalah Menyunting

0
634
Foto: Anna Demian

Manistebu.com | Sering kita mendengar petuah bahwa menulis bersahabat karib dengan membaca. Apalah artinya menulis tanpa membaca terlebih dahulu. Bahkan, membaca dan menulis termasuk ke dalam empat keterampilan berbahasa. Urutannya begini: menyimak-berbicara-membaca-menulis. Menulis ditempatkan paling buntut karena dianggap sebagai keterampilan berbahasa tingkat tinggi.

Walaupun demikian, orang yang menulis, tetapi tidak membaca, diragukan hasil karyanya benar-benar berdaya. Benarkah ia mampu menulis tanpa membaca sedikit pun? Jadi, masih mending orang yang membaca, tetapi tidak menulis. Orang dapat memakluminya. Namun, orang yang banyak berbicara, tetapi tidak membaca, apalagi menulis, orang segan dan enggan memakluminya. Alhasil, muncul tong kosong nyaring bunyinya.

Membaca sebagai keterampilan berbahasa, menjadi sahabat karib tulisan yang memberi warna tiap kata yang ditikkan. Apalagi, jika seorang penulis membaca begitu banyak pustaka bermutu, tulisannya akan mencerminkan kedahsyatan samudera ilmu.

Namun, para penulis juga tidak boleh melupakan kekasihnya menulis yaitu menyunting atau mengedit. Dalam menyuntinglah sebuah tulisan “diselamatkan” dari ketidaklayakan dibaca. Lewat menyunting, penulis akan menata tulisan ibarat rangkaian puspa nan indah, memikat, sekaligus menyiratkan dan menyuratkan beragam makna.

Sayangnya, menyunting sering dilupakan, terutama swasunting yaitu kemampuan untuk menyunting tulisan sendiri. Entah lupa atau entah karena tidak pernah mempelajarinya, banyak penulis memublikasikan karyanya tanpa sentuhan sang kekasih ini sehingga karyanya penuh luka-luka. Luka-luka yang semestinya dapat dicegah.

Dalam pendidikan berbahasa di Negeri kita, menyunting juga sering tidak diadakan atau terpinggirkan karena yang dipentingkan adalah berkarya dan berkarya dengan menulis. Alhasil, banyak karya, banyak pula luka.

Di negara-negara maju, pendidikan vokasional menulis selalu menyandingkannya dengan keterampilan menyunting (professional writing and editing). Dua sejoli ini, menulis dan menyunting adalah pangkal kekuatan literasi yang menghasilkan bahan bacaan dahsyat. Jadi, ini adalah “lingkaran malaikat” yaitu membaca-menulis-menyunting, lalu dihasilkan sebuah karya yang kemudian dibaca, dituliskan kembali, dan disunting lagi. Demikianlah sungai literasi akan mengalir sampai jauh meninggalkan riwayat hingga kini.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here