Bedah Buku H.M. Rusli: Hijrahnya Sang Pengusaha “Anomali”

0
825

 

Manistebu.com | Seandainya saya tidak ikut membidani lahirnya buku Hijrah: Pergulatan HIdup Bukan Kebetulan H.M. Rusli, tentu sampai sekarang saya belum mengenal Sangkulirang–daerah di pelosok Kaltim yang menjadi tempat kelahiran H.M. Rusli. Putra Sangkulirang ini telah mengalami fase hidup yang begitu dinamis sehingga kadang dalam pandangan awam seperti rangkaian-rangkaian kebetulan. Itu mengapa autobiografinya kemudian dijuduli Pergulatan Hidup Bukan Kebetulan dengan titik fokus adalah hijrah untuk menegaskan bahwa hidupnya telah mengikuti skenario besar dari Sang Maha Pencipta.

Dari titik ia berasal maka pada titik itu ia kembali. Itulah yang dilakukan Haji Rusli (panggilan akrab beliau) kini setelah usianya memasuki 77 tahun. Sangkulirang, tempat indah di teluk yang masuk wilayah Kabupaten Kutai Timur itu selain menyimpan kekayaan alam, juga menyimpan pesona sebagai destinasi wisata unggul. Haji Rusli dengan dibantu putranya membangun Mesra Sangkulirang Bay yang merupakan hotel dan resort dengan pemandangan eksotik ke hamparan laut.

Sangkulirang dalam buku Haji Rusli dikenalkan kali pertama berbasis ingatan beliau pada era 1950-an, setelah Indonesia merdeka. Bahkan, dalam cerita beliau juga disebutkan Wakil Presiden, Moh. Hatta, pernah berkunjung ke daerah ini dengan pesawat yang dapat mendarat di air. Setelah kunjungan Bung Hatta, Sangkulirang diberi sumbangan pakaian dan buku-buku. Ketika pemerintah daerah setempat bingung untuk menampung buku-buku, Abah (ayah) dari Haji Rusli berinisiatif menjadikan rumahnya sebagai perpustakaan. Jadilah kemudian Haji Rusli kecil seperti mendapat “durian runtuh” dengan berbagai bacaan bermutu pada masa itu.

“Hampir semua buku saya lahap untuk dibaca. Hanya buku berbahasa Inggris yang tidak,” kata Haji Rusli mengenang masa kecilnya. Ini juga menjadi tanda awal bagaimana orangtua Haji Rusli sangat paham dengan arti penting ilmu pengetahuan pada masa itu.

Bedah autobiografi karya H.M. Rusli ini bukanlah sebuah kebetulan. Dirancang sejak 2016, baru Allah perkenankan takdir acaranya pada 14 Januari 2017, bertempat di Ruang Melati, Hotel Mesra, Samarinda. Hadir pada saat acara di antaranya Bupati Kutai Timur, Ismunandar; Rektor Universitas NU Kaltim, Farid Wadjdi; pengusaha Jos Soetomo; sastrawan Banjar, Iberamsyah Barbary; dan wartawan senior, Achmad Bintoro dari Tribun Kaltim. Acara juga diramaikan kehadiran kakak, adik, anak, dan cicit Haji Rusli, termasuk juga guru-guru sekolah Bunga Bangsa dan para mahasiswa. Acara tersebut memang dirancang sebagai acara intelektual yang merakyat.

Kehadiran Jos Soetomo, pengusaha Cina Muslim asal Senyiur, mengundang perhatian. Apalagi, setelah beliau diberi kesempatan memberikan testimoni. Komentarnya bergema di seisi ruangan dan menyebut sosok seperti Haji Rusli adalah entrepreneur sejati, bukan makelar.

“Peristiwa (yang terjadi pada) Rusli adalah peristiwa nasional. Kita orang-orang Kaltim harus mengangkat ini,” ujar Jos Soetomo.

“Rusli ini tidak takut kalau tidak kaya, tapi kalau kaya silakan pakai uangku (katanya). Jadi, Rusli ini bukan orang kaya, tetapi keluarga kaya. Keluarga kaya itu seperti pohon beringin, siapa pun bisa berlindung. Sedangkan orang kaya itu seperti pohon rengas, gatal, ngimingi-ngimingi aja ….” lanjut Jos Soetomo memberi pujian yang sontak disambut tawa hadirin.

Jos Soetomo menghadiahkan buku untuk salah seorang tokoh NU yang hadir dan membayarnya langsung kepada Haji Rusli.

Uraian Jos Soetomo seperti tiada berhenti dan mengundang gelak tawa hadirin dengan ungkapan-ungkapan yang lugas disertai canda. Jos sebenarnya dikenal juga sebagai rival bisnis Haji Rusli. Mereka ibarat sesama pesaing yang benci, tapi rindu. Seperti pernah disampaikan oleh Jos Soetomo kepada Haji Rusli.

“Rus, aku ini benci sebenci-bencinya pada ikam, tapi juga serindu-rindunya!”

Haji Rusli membalas, “Kalau aku tak beda. Tak ada benci, yang ada hanya rindu dan rindu.”

Dua rival yang sebenarnya bersahabat baik ini telah memulai hubungan bisnis sejak zaman banjir kap–masa berkembangnya bisnis perkayuan di Kaltim. Mereka pun, lalu sama-sama berbisnis hotel. Yos Soetomo mendirikan Hotel Senyiur yang juga sangat terkenal di Samarinda. Adapun Haji Rusli mendirikan Hotel Mesra Samarinda. Karena itu, meski dalam kondisi bersaing, dua orang ini saling menghormati dan menghargai, bahkan dalam banyak hal Jos Soetomo sering heran dengan sikap Haji Rusli. Sikap yang menurutnya anomali sebagai pengusaha.

“Banyak yang belum saya ungkap di dalam buku. Dahulu dengan kedudukan saya sebagai pebisnis dan politikus, saya kenal banyak pejabat. Banyak pejabat yang meminta tolong pada saya ketika saya menjadi ketua Kadin. Saya tentu punya akses untuk meminta kemudahan pada mereka. Tapi, itu tidak saya lakukan …,” ungkap Haji Rusli.

Ya itulah salah satu keanomalian Haji Rusli. Ia mengatakan alasannya: “Kalau saya meminta bantuan mereka, para pejabat itu tak selamanya menjabat. Jika mereka turun, bisnis kita yang bergantung padanya pun bisa ikut turun. Saya lebih percaya bergantung pada Allah.”

***

Setelah acara seremonial penandatanganan mock-up buku, Raimy Sofyan, adik bungsu Haji Rusli yang akrab dengan panggilan Ucup, membedah buku dengan menyarikan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipetik dari buku. Selanjutnya, Bupati Kutai Timur juga diberi kesempatan untuk merespons isi buku yang telah dibacanya. Salah seorang paman dari Bupati Ismunandar ini juga terpetik di dalam buku yaitu Darman Lenggok yang mengalami kecelakaan pesawat Garuda Indonesia pada tahun 1960-an.

Autobiografi Haji Rusli memang boleh dibilang banyak membuka kenangan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Kisah yang terjalin dari episode demi episode hijrahnya Haji Rusli ibarat narasi motivasi yang mengungkap bahwa hidup ini pada intinya adalah mengambil keputusan. Manusia ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi ini dan sebagai khalifah (pemimpin) manusia diberi kapasitas oleh Allah untuk mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya. Jika mau mengambil intisari leadership, buku Hijrah secara gamblang memperlihatkan proses itu yaitu kepemimpinan mulai saat kanak-kanak hingga menjadi dewasa.

Di dalam buku ini juga tersimpan pesan betapa hebatnya peran orangtua itu, termasuk kasih sayang yang mereka berikan. Haji Rusli sempat mengalami fase terpuruk karena kehilangan kedua orangtuanya secara tidak disangka. Namun, kemudian ia bangkit kembali dan mulai mengambil keputusan-keputusan penting di dalam hidupnya.

Seperti pendapat Jos Soetomo, Haji Rusli pantas dicatat dalam sejarah sebagai pebisnis kaliber nasional yang memberi keteladanan. Kiprahnya juga tak lepas dari memajukan dunia pendidikan di Kaltim sebagai daerah yang pernah dicap tertinggal. Lewat Yayasan Melati dan kemudian Yayasan Bunga Bangsa, Haji Rusli telah merintis pendidikan bermutu di Kaltim dan membuktikan anak-anak Kaltim tidak kalah daya saingnya dengan anak-anak di Pulau Jawa.

Apakah ada kelanjutan autobiografi Haji Rusli? Tampaknya itulah yang ditunggu pembaca selanjutnya, terutama generasi muda Kaltim. Masih banyak yang penasaran bagaimana Haji Rusli membangun kapasitas dirinya hingga dapat berkiprah secara multidimensi, yaitu di birokrasi, wirausaha, bahkan politik yang semuanya sama-sama meraih sukses. Sepertinya memang ada episode lanjutanya seperti kata Jos Soetomo lagi, “Ini masih koma, belum titik.”

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here