H. Iberamsyah Barbary: Setelah 30 Tahun Akhirnya Kembali Menulis

0
360

Manistebu.com | Bukan sebuah kebetulan jika saya bersua dengan tokoh sastra dari Banjarmasin yaitu Haji Iberamsyah Barbary. Beliau sengaja datang ke Samarinda untuk menghadiri bedah buku sahabat karibnya, Haji M. Rusli. Bersua di Samarinda dan saling berkenalan, kemudian kami terlibat pembicaraan hangat tentang literasi.

Jika di Riau ada Raja Ali Haji sebagai orang yang berjasa memopulerkan gurindam dengan karya masyhurnya Gurindam 12 pada abad ke-19, di Banjarmasin pada abad ke-21 muncul Haji Iberamsyah Barbary dengan karyanya 1001 Gurindam. Gurindam merupakan bentuk puisi lama yang terdiri atas dua larik dalam setiap bait, dengan pola persajakan a-a atau b-b.

Berikut contoh petikan Gurindam Pasal 1 karya Raja Ali Haji

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.


Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat.


Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.

Ciri isi gurindam adalah nasihat atau petuah. Namun, seperti yang ditengarai Maman S. Mahayana, pakar sastra yang memberikan catatan pada karya Haji Iberamsyah, penulis gurindam pada masa kini makin surut ke belakang. Gurindam kalah pamor dengan pantun.

Buku 1001 Gurindam menjadi buku yang langka menggunakan gurindam untuk menyajikan nasihat-nasihat secara kontekstual. Bagi Maman S. Mahayana, kehadiran buku ini laksana embun yang menyejukkan di tengah ingar bingar politik dan pemberitaan akhir-akhir ini yang jauh dari nasihat kesantunan.

Dari obrolan ringan sambil sarap pagi di Resto Pendopo, Hotel Mesra, Samarinda nan resik, Haji Iberamsyah menjelaskan bahwa ia baru berkonsentrasi menulis setelah 30 tahun tidak menulis sama sekali. Tiga dekade itu ia habiskan sebagai karyawan hingga ke level manajemen di PT Asuransi Jiwasraya. Setelah pensiun, barulah kembali ia terpanggil untuk menggali khazanah sastra, terutama dari tanah kelahirannya. Ia merasa harus kembali ke habitat awalnya sebelum menjadi pegawai BUMN itu yaitu sebagai guru.

Sastrawan yang lahir di Kandangan, Kalsel, ini berkonsentrasi pada penulisan puisi, terutama menghidupkan kembali puisi-puisi lama dan juga menulis cerpen serta buku religi. Tidak hanya menulis, ia pun berkegiatan menggemakan semangat sastra di kalangan kaum muda. Ia pernah mencetuskan kegiatan Olimpiade Sastra yang berhasil dilaksanakan di tingkat provinsi Kalimantan Selatan. Sayang kegiatan ini tidak berkelanjutan karena faktor dana dari pemerintah yang terhenti. Padahal, antusias peserta dari berbagai sekolah kala dilaksanakan kali pertama luar biasa.

Terkait dengan informasi tentang berdirinya Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro) pada 22 Desember 2016 lalu yang saya sampaikan kepadanya, beliau begitu antusias untuk membentuknya di Banjarbaru, kota tempat bermukimnya kini. Ia memang hendak mengkhidmatkan hidupnya pada sastra dan kemajuan literasi, terutama di daerahnya.

Hingga kini Haji Iberamsyah Barbary aktif di Dewan Kesenian Banjarbaru dan mendirikan Yayasan Kamar Sastra Nusantara. Pada tahun 2012, ia menerima Anugerah Seni Bidang Sastra dari Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan dan pada tahun 2013 menerima Anugerah Astaprana dari Kesultanan Banjar.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here