Manfaat Mindmapping

0
1386

“Apa manfaat ‘mindmapping’ dalam pembuatan sebuah buku, Pak Hernowo?”

“Menurut Michael J. Gelb, ‘outlining’ (membuat outline) itu otak kiri dan ‘mindmapping’ (pemetaan pikiran) itu otak kanan,” jawab saya.

Tentu jawaban saya tersebut perlu penjabaran lebih lanjut. Saya lalu mengambil buku saya, Mengikat Makna Update (Kaifa, 2009). Di halaman halaman 4 dan 5 ada contoh pemanfaatan mindmapping untuk pembuatan sebuah buku. Saya membuat mindmapping itu pada 25 Juni 2007.

Buku Mengikat Makna Update diterbitkan pada November 2009. Jadi, umur mindmapping yang saya buat itu sudah dua tahunan hingga saya memanfaatkannya untuk merancang outline buku Mengikat Makna Update. Mindmapping memang sebuah proses mengalirkan sekaligus “memetakan” pikiran secara bebas dan perlahan-lahan. Apa yang ada di pikiran dikeluarkan semua dengan bantuan teks dan gambar.

Cara mengeluarkan pikiran adalah dengan menentukan terlebih dahulu titik pusatnya. Titik pusat untuk buku Mengikat Makna Update saya beri tanda “MM”.  “MM” saya letakkan persis di tengah-tengah kertas ukuran kuarto yang saya posisikan memanjang (landscape). Lalu, setelah itu, saya menentukan empat kata kunci yang saya jadikan cabang utama: MM adalah (1) baca-tulis yang dipadukan, yang (2) dilakukan secara personal, dan (3) kontinu-konsisten, serta didasari oleh konsep (4) brain-based writing.

Keempat cabang utama yang memancar dari titik pusat “MM” itu memang sudah tertanam lama di benak saya. “MM” intinya—pada 2007—memang hanya itu. Secara perlahan-lahan, keempat cabang utama itu saya rinci lagi dan ketemulah beberapa cabang yang lebih kecil. Setelah “peta” itu jadi, saya pun mencoba mengerucutkan agar materi buku yang akan saya buat tidak terlalu luas dan besar. Akhirnya saya hanya fokus pada cabang kedua: secara personal.

Pada halaman 8 buku Mengikat Makna Update, “peta” atau mindmapping yang sangat luas dan besar itu sudah saya kecilkan. Mindmapping yang sudah menjadi kecil itulah yang akhirnya saya jadikan pijakan untuk membuat outline buku Mengikat Makna Update. Dan mengikuti proses perjalanan pembuatan buku tersebut, outline itu kadang mengembang dan kadang menyusut.

Di halaman-halaman awal Mengikat Makna Update, sebelum masuk he halaman full title (halaman ix), saya pun merumuskan terlebih dahulu tujuan buku Mengkikat Makna Update. Terlihatlah ada gambar atau ilustrasi dan bagan-bagan yang memberikan penjelasan tentang maksud saya. Ini sama persis ketika dahulu saya membuat buku pertama saya, Mengikat Makna (Kaifa, 2001).

Saya merasakan sekali, membuat mindmapping sebelum membuat outline, sangat membantu saya membebaskan dan mengembangkan pikiran saya. Merujuk ke pemikiran Gelb, otak kanan saya (mindmapping) bekerja secara kreatif sebelum diringkus oleh otak kiri (outlining yang tertib dan serbapasti). Sebenarnya kedua belahan otak ini—merujuk ke buku Quantum Learning—bekerja secara sinergis. Hanya kebiasaan berpikir dengan otak kiri kadang membuat otak kanan tidak berdaya.

Otak kanan, jika dilatih, jelas akan membantu dan mendukung otak kiri. Begitu pula sebaliknya. Apabila saya tidak belajar dan berlatih memanfaatkan mindmapping, ada kemungkinan saya tidak mampu menyinergikan kedua belahan otak tersebut. Saya tentu harus berterima kasih kepada Tony Buzan (penemu mindmapping) dan terutama Roger Sperry (penemu fungsi belahan otak kanan).

Saya juga merasakan sekali betapa tidak mudahnya mengubah paradigma otak kiri. Otak kanan itu paradigma baru. Selama hampir 40 tahun lebih, diri saya didominasi oleh paradigma otak kiri—rasional, serbapasti, terukur, lurus, dan satu-satu. Paradigma otak kanan sangat berkebalikan dengan paradigma otak kiri. Saya menemukan daya kreatif saya berkat paradigma otak kanan.

Salah satu bentuk kreativitas saya dalam buku Mengikat Makna Update adalah adanya dua bentuk “Isi Buku” (Content). Jadi, selain ada di halaman awal (halaman xxii-xxiv) yang saya sebut sebagai “Isi Buku A”, saya juga membuat “Isi Buku B” (yang saya letakkan di halaman akhir, tepatnya di halaman 196-198). Apa beda “Isi Buku A” dan “Isi Buku B”? Yang B lebih praktis. Yang A saya buat agak imajinatif.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here