Menjadi Penulis Produktif

0
510

Manistebu.com | Jika Anda telah menyusun rencana dan rancangan tulisan secara terstruktur, pertanyaan terakhir yang segera Anda hadapi adalah: siapkah Anda menjadi penulis produktif?

Saya pernah berpikir, mengapa di dunia ini banyak sekali jumlah profesi yang digeluti manusia? Jika Allah Yang Mahakuasa memberi semua orang kecukupan harta dan benda, mampukah semua orang memiliki profesi yang berbeda-beda dan saling membutuhkan satu sama lain seperti sekarang?

Tentu saja tidak. Mungkin tidak banyak orang yang berterima kasih kepada pengemudi layanan transportasi umum (becak, ojek, dan bajaj) baik dari pemerintah, lembaga, atau perseorangan. Jika tidak ada pengemudi sama sekali, apakah tergambar dalam benak Anda seberapa macet jalan-jalan, terutama jalanan di kota-kota besar?

Profesi di segala bidang memiliki kontribusi berbeda di masyarakat. Lantas, mengapa tidak memanfaatkan kesempatan itu sebanyak mungkin? Berapapun kontribusi seorang profesional kepada masyarakat, alangkah baik bila mereka memaksimalkan kinerja pada profesi yang mereka geluti.

Ketika Anda memilih berprofesi  sebagai penulis, maka Anda telah dan harus siap memajukan masyarakat dengan kekuatan kata-kata Anda. Berkomitmen pada diri merupakan salah satu kunci penting. Alhasil, kita selalu ingat bahwa sebagi penulis, ada kewajiban profesi yang perlu dituntaskan selama masih menyematkan lencana profesi  penulis di kartu nama kita.

Lalu bagaimana dengan penulis pemula, dan penulis yang memiliki kesulitan untuk menjadi penulis produktif? Misalnya, seseorang merasa tidak memiliki waktu luang? Graham Allcot, pengarang How to be a Productivity Ninja membocorkan rahasianya menjadi penulis produktif pada sebuah karya extended version dari buku tersebut yang berjudul How Thinking about S.E.X Helps You to Write Your Essay. Graham punya peraturan 2 jam guna mengoptimalkan kemampuannya dan meningkatkan produktivitasnya. Peraturan 2 jam mengharuskannya berhenti setelah menulis tanpa jeda selama 2 jam untuk menyegarkan kembali pikirannya.

Ia juga menyarankan agar penulis tidak terlalu memaksakan diri; duduk di depan layar laptop atau komputer selama berjam-jam kemudian mengalihkannya pada kegiatan lain. Misalnya, menelusuri internet atau menonton video online. Distraction (pengalih) ini patut diwaspadai. Apabila penulis mengerjakan proyek sambil menyelesaikan pekerjaan lain, biasanya yang terjadi hanyalah menyia-nyiakan waktu atau menunda-nunda pekerjaan.

Teknik Pomodoros and Attention mengajak Anda untuk membagi sebuah proyek besar menjadi beberapa bagian. Misalnya, Anda sedang mengerjakan proyek novel pertama Anda. Aturlah jadwal 25 menit setiap periode bagian, lalu selingi 5 menit istirahat. Beri kesempatan pada diri Anda sendiri untuk meregangkan otot Anda. Kecuali Anda mengerjakan proyek solo, Anda sangat dianjurkan berkolaborasi. Bila Anda ingin menciptakan artikel atau esai dan opini, bekerja sama dengan penulis lain bisa jadi pilihan bagus. Demikian pula dengan jurnal ilmiah.

Istilah “penyakit” DDD (Distant Deadline Defeciency) Graham paparkan sebagai kebiasaan buruk yang sering diabaikan oleh para penulis; menunda pekerjaan karena deadline atau tenggat waktu masih lama. Contoh, Anda punya tugas esai yang batas waktu pengumpulannya 2 minggu lagi. Anda ingin mengerjakannya, namun DDD mencegah Anda dan membisikkan ke telinga, Anda masih punya waktu untuk jalan-jalan bersama kawan terlebih dahulu. Bayangkan kalau Anda terus menunda hingga akhirnya duduk di kelas dan baru ingat ada tugas esai? Sementara sang guru sudah masuk kelas dan hendak menagih tugas tersebut. Ini sering terjadi terutama di kalangan siswa. Di sisi lain, istirahat terlalu lama dan menunda pekerjaan juga tidak baik karena akan mengurangi kualitas tulisan Anda.

Setelah berlatih dan berpengalaman dalam menulis, lama-kelamaan Anda akan menyadari gaya penulisan, mengenali kebiasaan, dan pola kebiasaan tatkala berproses menghasilkan suatu karya. Perlu diingat, kebiasaan bisa dibentuk, dihentikan, dan diubah sebagaimana yang dinyatakan dalam buku The Power of Habits. Mencari atau membentuk suasana myaman agar Anda fokus menulis jadi hal krusial yang perlu diperhatikan.

Apabila menulis di malam hari lebih membuat Anda fokus, habiskan waktu Anda di pagi hari melakukan aktivitas yang berguna dan bervariasi. Sebagai contoh lain, ide Anda bisa jadi datang tatkala Anda duduk sambil memperhatikan orang lalu-lalang dari jendela kafe. JK Rowling pun mendapat ide menulis Harry Potter sejak melihat sebuah perternakan dari sebuah kereta.

Fleksibel namun efisien, penyesuaian saya rasa perlu guna menjaga keseimbangan antara kehidupan penulis dan pekerjaannya. Manajemen waktu pula harus dikuatkan dalam diri setiap penulis. Mari menjadi penulis produktif dan mulai menulis produktif!

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here