Menguasai Anatomi Buku

0
628

 

Manistebu.com | “Pak Hernowo, apa yang sangat membantu Pak Hernowo ketika membuat buku?”

“Pemahaman akan anatomi buku memudahkan saya dalam membuat buku,” jawab saya.

Apa itu anatomi buku? Eli Syarifah, dalam buku-karyanya Edit-Linguistik: Mahir Menyunting Naskah (Penerbit MCM, 2016), di halaman 66, menunjukkan arti anatomi buku dengan bagus:

“Anatomi adalah bagian-bagian yang harus ada dalam sebuah buku. Salah satu syarat buku dikatakan layak atau baik adalah jika buku tersebut memiliki anatomi lengkap, yaitu memiliki bagian-bagian buku seperti cover, preliminaries, text matter, dan postliminaries.”

Secara bahasa, anatomi adalah ilmu yang melukiskan letak dan hubungan bagian-bagian tubuh manusia, binatang, atau tumbuh-tumbuhan atau uraian yang mendalam tentang sesuatu. Jadi, anatomi buku dapat dikatakan sebagai bagian-bagian buku yang saling berhubungan dan mengutuhlengkapkan tampilan buku.

Menguasai anatomi buku berarti memahami fungsi bagian-bagian buku yang saling berkaitan serta mengutuhkan dan melengkapi tampilan sebuah buku. Seorang penulis buku memang tidak dituntut untuk menguasai anatomi buku. Jika sang penulis buku memiliki pengetahuan dan pemahaman akan anatomi buku, ia dapat merancang tampilan buku—dengan mengisi bagian-bagian buku tersebut—secara lebih baik dan menarik.

Saya, sebagai seorang penulis, sangat menyadari hal itu. Oleh karena itu, di buku pertama saya, Mengikat Makna (Kaifa, 2001), saya pun menunjukkan penguasaan saya atas anatomi buku. Saya menyebut anatomi buku sebagai “Peta Materiil Buku” (lihat secara lebih lengkap dan jelas di “Lampiran A” buku Mengikat Makna).

“Peta Materiil Buku” itu saya rinci menadi tiga bagian: komponen-penting buku, anatomi buku (saya tunjukkan lewat gambar), dan ornamen buku. Komponen-penting buku saya rinci lagi menjadi hal-hal berikut: definisi, perincian sampul buku, dan perincian “tubuh” buku.

Apabila Eli Syarifah membagi bagian-bagian buku menjadi tiga (preliminaries, text matter, dan postliminaries) ditambah sampul buku (cover), saya menyebut hal itu sebagai tiga jenis halaman sebuah buku: awal, tengah, dan akhir. Apa yang harus diisi seorang penulis di halaman-halaman awal, tengah, dan akhir bukunya?

Itulah yang menjadi pokok-bahasan saya kali ini. Kita mulai dari halaman tengah. Halaman tengah ini merupakan materi-inti sebuah buku. Halaman tengah dapat terdiri atas bab atau berisi bagian. Selain itu, halaman tengah bisa juga terdiri dari bab atau hanya tulisan-tulisan lepas yang kemudian dikelompokkan sesuai tema tertentu.

Halaman awal berisi tentang identitas buku (biasanya diberi tanda dengan halaman angka romawi), halaman persembahan, sambutan, prakata, pengantar dari seorang ahli, daftar tabel dan gambar, hingga pendahuluan. Saya sering mengubah dan menambahkan hal-hal baru di halaman-halaman awal buku saya.

Halaman akhir merupakan halaman pendukung dan pelengkap sebuah buku. Di halaman akhir ini, ada berbagai lampiran yang dapat disertakan, catatan-catatan, dan—ini yang paling penting—referensi dan indeks. Biodata penulis bisa juga diletakkan di sini atau di halaman awal.

Saya menjadi mudah membuat buku karena memahami betul apa yang harus saya isi dan siapkan untuk halaman-halaman buku saya. Jadi, anatomi buku akan menghidupkan outline dan membuat seorang penulis dapat merancang bukunya secara berbeda dan tidak itu-itu melulu.[]

 

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here