Gagasan Itu Keunikan

0
791

“Cari sifat mental tertentu yang membuat Anda dapat merasakan hidup penuh semangat, yang bersamanya kemudian muncul suara hati berkata, ‘Inilah diriku’ ,dan apabila Anda telah menemukan sikap itu, ikutilah.” -WILLLIAM JAMES

Kata-kata William James tersebut saya cantumkan sebagai pembuka Bab 6 buku saya, Mengikat Makna Update (Kaifa, 2009). Judul Bab 6 itu cukup panjang: “Apakah Sisi-Sisi Paling Baik Diri Anda Senantiasa Berhasil Menyisihkan Sisi-Sisi Tidak Baik Milik Anda?” Bab 6 memang membahas tentang diri—tepatnya diri yang unik. Diri kita berbeda dengan diri lain.

Mengikat makna—konsep tentang bagaimana saya menyinergikan membaca dan menulis untuk menunjukkan dampak membaca—memang sangat mementingkan diri yang unik. Ketika seseorang sedang menjalankan mengikat makna, saya menganjurkan agar orang tersebut membangun ruang privat terlebih dahulu. Di ruang privat hanya ada dirinya. Dia seakan-akan sendirian di muka bumi.

Bahkan, secara khusus saya membuka Bab 1 buku Mengikat Makna Update dengan menunjukkan secara jelas dan tegas pentingnya ruang privat. Bab 1 saya beri judul “Andaikan Saat Ini Anda Hidup Sendirian di Muka Bumi” dan di bawah judul tersebut, saya kemudian mengutip pernyataan Aldous Huxley, “Hanya kamu yang dapat mengubah dirimu.”

Tak berhenti di situ, saya pun menyertakan pernyataan kontroversial Thomas J. Leonard, penulis buku The 28 Laws of Attraction: Saatnya Kesuksesan Mengejar Anda (Kaifa, 2008). Leonard memberikan rumusan baru untuk kata selfish yang artinya egois. “Mementingkan diri sendiri atau selfish adalah sebuah kata sifat yang  bermuatan besar,” tulisnya.

Dalam kamus Webster, selfish didefinisikan sebagai “memerhatikan diri sendiri secara tidak pantas atau secara berlebihan. Selfish juga berarti mendahulukan kenyamanan dan keuntungan diri sendiri, atau mengorbankan kenyamanan dan keuntungan orang lain”. Lawan kata selfish adalah altruis—sikap mementingkan orang lain.

Setelah itu, Leonard menulis, “Demi kesuksesan personal dan profesional Anda, Anda perlu menyerap cara baru dalam memandang sifat mementingkan diri sendiri. Berpegang, dan diatur, oleh definisi orang lain tentang sikap mementingkan diri sendiri barangkali telah menciptakan sebuah penghalang yang perlu Anda runtuhkan.” Cara baru seperti apa yang ditawarkan Leonard?

Leonard meminta diri kita—khususnya yang ingin sukses secara personal dan profesional—untuk menghilangkan frasa dalam definisi Webster yang berbunyi “tanpa memerhatikan atau dengan mengorbankan orang lain”. Leonard ingin agar ketika kita hanya mementingkan diri sendiri saat mengejar kesuksesan, kita sesungguhnya sedang berusaha mementingkan orang lain juga.

Tidak mudah memahami cara baru mendefinisikan selfish ala Leonard. Apalagi menerapkannya sebagai sikap baru dalam mementingkan diri sendiri. Hanya saja, kaitkan semua itu dengan keunikan yang memang sudah melekat di dalam diri kita. Lewat selfish, ada kemungkinan besar diri kita dapat memunculkan keunikan tersebut.

Selain itu, tentu saja, semua itu kita lakukan ketika kita berada di ruang privat. Ya, menerapkan mengikat makna secara kontinu dan konsisten—dengan mementingkan dan memunculkan diri sendiri—telah berhasil membantu saya untuk memunculkan keunikan diri saya. Dan berkat diri saya yang unik tersebut, saya pun terbantu sekali dapat menemukan dan menunjukkan sebuah gagasan.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here