Kartini Dalam Tafsir Hanung dan Tracy

0
396

“Kartini tidak boleh dikecilkan hanya sebagai pejuang emansipasi perempuan. Kartini tidak hanya berjuang melalui pemikiran-pemikiran. Kartinilah yang pertama mengekspor hasil kerajinan ukiran Jepara ke Belanda.” RUMAIL ABBAS, periset Rumah Kartini di Jepara dalam “Baik Buruk Air Susu Kartini” (Kompas edisi Minggu, 24 Maret 2017)

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan April. Di bulan April, ada satu nama yang senantiasa mencuat sekaligus menggelegak: Kartini. Menurut kabar, Hanung Bramantyo—sutradara muda yang berani menampilkan berbagai tafsir tentang para tokoh kondang Indonesia—akan meluncurkan film tentang Kartini pada 19 April 2017. Dalam film tersebut, Hanung Bramantyo mendapuk Dian Sastrowardoyo untuk memerankan Kartini: cerdas, cantik, dan gesit.

Ketika saya melacak sinopsis film Kartini via Google, saya memperoleh hal menarik berikut ini: “Sebagai film drama biopik, film Kartini mengisahkan Kartini (Dian Sastro) yang tumbuh dengan melihat langsung bagaimana ibu kandungnya yang bernama Ngasirah (Christine Hakim) menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri.

“Ngasirah dianggap pembantu hanya karena tidak mempunyai darah ningrat. Ayah Kartini yang bernama Raden Sosroningrat (Deddy Sutomo), yang mencintai Kartini dan keluarganya, juga tidak berdaya melawan tradisi.” (Lihat http://posfilm.com/sinopsis-film-kartini-2017-emansipasi-tak-lekang-oleh-waktu/). Tafsir Hanung tentang Kartini ini, tentu saja, sangat menarik!

Tafsir lain tentang Kartini, yang juga sangat menarik, baru saja saya peroleh lewat Kompas Minggu edisi 26 Maret 2017. Kompas memberitakan tentang pameran fotografi di Erasmus Huis, Jakarta, pada 13-31 Maret 2017, yang diselenggarakan oleh kurator bernama Tracy Wright Webster. “Di dalam pameran itu, Tracy menampilkan 26 foto yang diseleksi dari 75 foto tentang Kartini koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkenkunde) Kerajaan Belanda,” tulis Kompas.

Dari mana foto-foto tentang Kartini itu diperoleh dan kemudian dikoleksi oleh KITLV? Ternyata, Kartini sendirilah yang mengirimkan foto-foto tentang diri dan keluarganya itu ke “negeri kincir angin”. Seperti sudah umum kita ketahui, Kartini punya sahabat pena bernama Rose Manuela Abendanon Mandri. Menurut catatan Tracy, salah satu foto yang dipamerkan yang menampilkan Kartini bersama kedua adiknya, Kardinah dan Roekmini, dikirimkan Kartini kepada Rose Abendanon sebagai kado peringatan ulang tahun perkawinan Rose dengan suaminya, Jacques Abendanon, pada 1 Agustus 1901.

Di belakang foto itu, Kartini menuliskan kata-kata ini, “Hai sayang, kami mengirimkan salam untuk perayaan 1.08.1901. Kami berharap agar hari ini Anda sehat-sehat saja dan berbahagia.” Menurut Tracy lagi, tulisan Kartini di belakang foto lain yang juga dikirimkan ke Rose Manuela Abendanon di Belanda terjadi di akhir Desember 1901: “Untuk kesayangan kami, malaikat yang baik! Ini adalah pertemuan terakhir bagi kami bertiga. Sebentar lagi, nasib akan memetik daunnya satu per satu. Tapi, foto ini adalah kenangan yang membekas tentang tiga daun dalam satu batang pohon, tiga hati dan pikiran yang akan bersama dalam segalanya.” Luar biasa!

Apa yang dapat Anda bayangkan tentang sosok Kartini pada saat ini, kawan? Apakah sosok Kartini itu bagaikan sosok Dian Sastro dalam tafsiran Hanung Bramantyo? Atau sosok Kartini itu seperti tafsiran Tracy Wright Webster yang sangat menyayangi sahabat-penanya? Atau, Anda malah setuju dengan tafsiran Rumail Abbas tentang sosok Kartini yang perannya begitu besar dalam memajukan bangsanya?

Apa pun bayangan Anda tentang sosok Kartini, yang jelas Kartini telah meninggalkan warisan sangat penting dan sangat berharga berupa tulisan. Tulisan-tulisannya, meski hanya berupa surat-surat yang ditujukan kepada sahabat-penanya, sungguh bernas (berisi). Kita pantas belajar kepada Kartini.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here