Mengikat Makna: Perkakas #2 dalam Writing Toolbox

3
475

Perkakas kedua yang harus tersedia dalam writing toolbox milik saya adalah mengikat makna. Mengikat makna merupakan sebuah konsep tentang membaca dan menulis. Konsep ini saya bangun pada tahun 2001. Lewat konsep mengikat makna, saya pun menjadi penulis buku yang produktif. Prinsip-pokok mengikat makna adalah menyinergikan membaca dengan menulis. Artinya, setiap kali saya selesai membaca, saya harus melanjutkan kegiatan membaca tersebut dengan menulis. Menulis apa dan bagaimana?

Menulis yang saya maksud adalah menulis untuk mengeluarkan (mengungkapkan) apa pun yang masuk ke dalam pikiran usai membaca teks.Biasanya—agar menulisnya ringan dan mudah—saya tidak membaca terlalu banyak. Saya menyebut kegiatan membaca teks yang tidak terlalu banyak ini sebagai “membaca ngemil”—membaca sedikit demi sedikit dan merasakan apa yang saya baca. Dengan membaca sedikit, saya pun dapat melibatkan diri saya. Saya menjadi lebih mudah fokus dan peduli terhadap teks yang saya baca.

Apa yang saya tulis usai membaca? Ada tiga jenis materi yang akan segera saya tuliskan begitu selesai membaca. Tiga materi itu adalah (1) pengalaman membaca saya, (2) pemahaman saya atas apa yang saya baca, atau (3) pemerolehan gagasan—sesuatu yang sangat penting dan berharga yang tiba-tiba muncul dari teks yang saya baca. Atau, bisa jadi, gagasan itu muncul tiba-tiba dari pengalaman dan pemahaman saya ketika membaca.

Lewat mengikat makna, saya juga ingin menjaga diri saya agar setiap kali membaca, saya kemudian dapat merasakan dampak membaca. Saya tidak ingin kegiatan membaca saya sia-sia atau tidak ada hasilnya. Tulisan, sebagai hasil dari mengikat makna, sering saya sebut sebagai dampak membaca. Dampak itu kemudian saya kumpulkan dan kadang dapat membantu saya untuk membuat buku. Saya menjadi produktif membuat buku berkat mengikat makna.

Mengikat makna memang berhubungan erat dengan membaca—bukan menulis meskipun kedudukan menulis di sini juga penting. Ketika saya menerapkan konsep mengikat makna, yang saya pikirkan adalah bagaimana cara membaca saya agar efektif (berefek atau berdampak). Apabila cara membaca saya tidak baik—misalnya tidak memedulikan teks yang saya baca dan tidak melibatkan diri-unik saya—ada kemungkinan cara membaca saya itu tidak memberikan apa-apa atau tidak berdampak (berpengaruh) kepada diri saya.

Kegiatan menulis, dalam mengikat makna ini, bukanlah menulis yang tertata rapi dan harus sesuai dengan persyaratan standar menulis yang ada. Menulis di sini dapat dikatakan menulis tanpa bentuk. Jadi, hasil menulis dalam mengikat makna ini bukan menulis dalam bentuk yang jelas seperti esai, resensi, opini, atau yang semacamnya. Menulis yang saya rancang dalam mengikat makna adalah semacam menulis bebas dengan tujuan mengikat apa yang ada di dalam pikiran—usai pikiran itu membaca dengan kepedulian yang tinggi dan mampu melibatkan diri.

Perkakas nomor dua bernama mengikat makna sangat berkaitan dengan perkakas nomor satu yang bernama bahasa. Hanya lewat membaca yang baiklah kekayaan kosakata akan benar-benar diperoleh oleh seseorang. Apabila membaca yang baik itu dilanjutkan dengan menulis—sebagaimana sudah saya jelaskan sebelum ini—tentulah kata-kata yang diperoleh dari membaca akan terikat kuat di dalam pikiran. Mengikat makna akan membantu seorang penulis untuk mencari sebanyak mungkin kata—lewat membaca yang berdampak.

Siapa saja yang pernah memiliki pengalaman menulis tentu akan merasakan bagaimana mengalami kemacetan menulis. Tiba-tiba saja ada suasana blank yang membuat seorang penulis mengalami siksaan yang tak terperikan—kehabisan kata-kata atau tidak dapat melanjutkan kegiatan menulisnya atau ada suasana hampa yang mencekam. Menurut pengalaman saya, kemacetan menulis seperti itu tidak disebabkan oleh ketiadaan materi untuk dituliskan. Penyebab utamanya adalah si penulis tidak memiliki perbendaharaan kata yang kaya dan beragam.

Materi yang dimiliki setiap penulis biasanya berlimpah. Apalagi jika materi tersebut ada hubungannya dengan pengalaman si penulis. Baik yang akan ditulis itu fiksi maupun nonfiksi, yang sangat menentukan kelancaran menulis adalah ketersediaan kata di dalam dirinya. Apabila si penulis miskin kata, tentulah dia akan sulit sekali mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Mengikat makna akan membantunya memiliki kekayaan bahasa.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

3 KOMENTAR

  1. Setiap kali motivasi untuk menulis padam, saya selalu membaca kembali buku atau artikel tentang menulis karya mas Hernowo. Dan biasanya bukan hanya semangat yg termotivasi, tetapi ide/gagasan baru utk menulispun bermunculan.
    Terima kasih mas Hernowo. Terus berbagi pengetahuan yg bermanfaat.

  2. Luar biasa..
    Membaca penjelasan Bapak menjadikan saya tahu dan mengerti apa yang terjadi pada saya.
    Alhamdulillah..
    Banyak-banyak bersyukur pada Allah,
    agar Allah senantiasa menambah nikmatNya
    Wallahu a’lam

    Terima kasih, Pak Her..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here