Menyambut Harbuknas #1: Sejarah Bulan Buku Nasional

0
275
Foto: Aaron Burden

Manistebu.com

Boleh jadi telah banyak yang melupakan bahwa bulan Mei pernah dicanangkan oleh Presiden Soeharto sebagai Bulan Buku Nasional. Faktanya, tidak banyak program atau pembicaraan terkait dengan buku pada bulan Mei selain dihubungkan dengan Hardiknas dan Harbuknas yang jatuh pada 17 Mei.

Tulisan ini adalah seri pertama dari tulisan menyambut Hari Buku Nasional dengan penekanan pada sejarah perbukuan di Tanah Air mulai dari era Orde Baru hingga kini. Jika membentangkan benang sejarah, perhatian Pemerintah Orba pada buku dimulai saat persiapan kegiatan peringatan Tahun Buku Internasional 1972.

Kala itu, tanggal 2 Mei 1973, Presiden Soeharto mengadakan jamuan makan siang di Istana Bogor untuk menggalang dana untuk kegiatan Tahun Buku Internasional. Soeharto mengundang para pengusaha, termasuk juga pengurus Ikapi yang semasa itu dipimpin oleh Ajip Rosidi. Soal momentum ini akan dikisahkan dalam tulisan seri lainnya.

Sejak 1973 karena mendapatkan “berkah” dari surplus kenaikan harga minyak dunia, Pemerintah memang menaruh perhatian pada pembangunan SDM melalui buku. Presiden Soeharto mengeluarkan Inpres No. 10/1973 yang mulai dilaksanakan pada tahun 1974. Selain itu, kemudian dikeluarkan juga Inpres No. 6/1974 tentang Program Bantuan Pembangunan SD yang di dalamnya termasuk proyek pengadaan buku.

Pengadaan buku besar-besaran itulah yang kemudian dikenal sebagai Proyek Inpres yang mampu bertahan hingga lebih dari dua dekade. Berbagai dinamika terkait perbukuan nasional berlangsung hingga kemudian Soeharto mencanangkan Bulan Buku Nasional ketika dunia untuk kali pertama memasuki era globalisasi.

Indonesia kala itu telah memasuki Repelita VI dan dikatakan bersiap untuk “tinggal landas”. Pada peringatan Hardiknas 2 Mei 1995 di Pontianak–semasa itu Soeharto juga direncanakan meresmikan beberapa proyek di Kalimantan Barat–Presiden Soeharto mencanangkan bulan Mei sebagai Bulan Buku Nasional.

Dalam pidatonya ia menyatakan bahwa Indonesia telah berinvestasi sangat besar untuk pendidikan, terutama buku, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Soeharto mengingatkan bangsa Indonesia tengah memasuki babak awal globalisasi. Daya saing suatu bangsa dalam ekonomi dunia sangat ditentukan penguasaan, pengembangan, dan pendayagunaan ilmu pengetahuan, serta kemahiran manajemen yang semuanya dapat dipelajari.

Karena itu, untuk bertahan dan maju, bangsa Indonesia harus terbentuk menjadi masyarakat belajar yang memiliki minat dan kegemaran belajar sepanjang masa. Ciri utama masyarakat belajar adalah tumbuhnya minat dan kegemaran membaca. Peranan buku dan perpustakaan menjadi sangat penting. Kedudukan buku sama pentingnya dengan kedudukan guru pada masa mendatang. Karena itu, tumbuhnya minat membaca perlu digalakkan dengan berbagai kampanye.

Untuk itu, Soeharto memandang penting upaya mendorong tumbuhnya industri perbukuan, baik melalui buku-buku yang ditulis sendiri maupun buku-buku bermutu yang diterjemahkan. Hanya dengan tumbuh dan berkembangnya industri perbukuan secara kuat menurutnya bangsa Indonesia dapat mendukung perkembangan masyarakat belajar secara berkelanjutan.

Bulan Buku Nasional pada kesempatan itu dicanangkan oleh Presiden Soeharto untuk diperingati setiap tahun. Namun, gaung Bulan Buku ini makin meredup dari tahun ke tahun. Malah kita lebih ingat dengan Hari Buku Sedunia yang jatuh pada tanggal 23/4 daripada Bulan Buku Nasional. Ikapi sendiri juga sudah kurang memperhatikan gaung Bulan Buku Nasional, entah mungkin karena peringatan ini adalah produk Orba yang memang harus dilupakan.

Walaupun begitu, sejarah tidak dapat memungkiri perhatian Soeharto yang temasuk besar dalam masalah perbukuan. Saat pencanangan Bulan Buku Nasional pada 2 Mei tersebut, pada tanggal 29-31 Mei 1995 diadakan Kongres Perbukuan Nasional I yang diikuti oleh 400 orang peserta serta dihadiri oleh beberapa pejabat setingkat menteri dan Komisi IX DPR-RI.

Belum sempat rekomendasi hasil kongres ditindaklanjuti dan dilaksanakan, Indonesia mengalami suksesi kepemimpinan buah dari Reformasi. Sejarah perbukuan di Indonesia pun memasuki babak baru.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here