Internasionalisasi UKBI

0
138
Foto: Badan Bahasa

Manistebu.com | UKBI atau uji kemahiran berbahasa Indonesia memang belum sepopuler TOEFL atau IELTS yang mendunia. Namun, tanda-tanda UKBI dapat diinternasionalkan mulai ada. Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Hurip Danu Ismadi, M.Pd., Kepala Pusat (Kapus) Pengembangan dan Pelindungan, Badan Bahasa, saat Rapat Pembakuan II UKBI di Hotel Salak Tower, tanggal 4 Juni lalu.

Kapus menyampaikan bahwa sudah ada permintaan dari Thailand dan Jepang untuk mengadakan UKBI di negara mereka. Artinya, dua negara Asia itu meminta diadakannya tempat uji kompetensi di negaranya karena banyaknya juga mahasiswa yang belajar bahasa Indonesia di sana. Permintaan ini menuntut kesiapan Badan Bahasa sebagai lembaga resmi yang menyelenggarakan UKBI.

Terkait dengan penyusunan soal-soal UKBI dan uji cobanya ditekankan perlunya mempertimbangkan soal untuk para penutur asing bahasa Indonesia yang harus berbeda untuk penutur asli bahasa Indonesia. Soal yang perlu perhatian khusus adalah seksi berbicara dan seksi menulis.

UKBI memang belum terlalu populer karena belum diwajibkan secara massal. Seharusnya, para mahasiswa selain dites TOEFL juga dites UKBI. Tahun ini menurut Kapus Pengembangan dan Pelindungan, UKBI tidak lagi digratiskan, tetapi berbayar yang menjadi penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Di sinilah UKBI semestinya memang dipersiapkan sebagai sertifikasi standar untuk lembaga-lembaga di Indonesia, terutama lembaga pendidikan.

Jika sekarang mahasiswa yang hendak lulus harus memiliki sertifikat pendamping ijazah, tampaknya UKBI pantas dimasukkan sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa Indonesia. Karena itu, UKBI harus dipersiapkan sebagai tes atau uji kompetensi yang standar dan memiliki indikator yang jelas.

Jadi, siap dulu secara nasional, barulah UKBI dapat didorong untuk internasionalisasi dan sangat mungkin banyak negara yang berminat mengadakan tempat uji kompetensi di negaranya. Bahasa Indonesia pun akan menjadi semakin kukuh eksistensinya.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here