Tentang Perjenjangan Buku

1
219
Foto: Aaron Burden

Manistebu.com | Kemarin dan hari ini (14-15/6) saya mengikuti rapat penyusunan naskah akademis perjenjangan buku meskipun draf tabel perjenjangan buku sudah rampung. Lazimnya sebuah kebijakan memang harus didasari oleh kajian yang diwujudkan ke dalam naskah akademik. Semestinya kajian memang bukan sekadar ada ataupun dibuat sebagai formalitas pendukung kebijakan.

Kajian betapa pun sederhananya tetaplah sebuah kajian yang perlu dilakukan agar suatu keputusan atau kebijakan memiliki landasan multidimensi dan pertanggungjawaban ilmiah. Begitu pula dengan perjejangan buku yang sedang dikerjakan ini, yang entah mengapa baru dilakukan sekarang setelah Indonesia selama empat dekade menggelontorkan uang ratusan miliar untuk membeli buku, terutama buku bacaan anak-anak dan remaja. Buku-buku itu jelas tidak ada standar penjenjangannya.

Buku-buku yang kita tulis dan kita terbitkan itu sebagian besar buku “yang tidak benar”. Tidak benar secara usia ataupun ketepatan pembaca sasaran. Berdasarkan pandangan pakar tidak terjadi padu-padan antara teks dan pembaca. Buku-buku anak kita banyak dijejali teks berisikan nasihat instruksional dan kerap kali meminjam mulut orang dewasa. Anak-anak tidak dibebaskan imajinasinya untuk mengembangkan pikiran dan perasaan mereka dalam berbudaya.

Kali ini kesadaran itu datang bahwa tidak semua anak itu sama dan setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda-beda, apalagi di Indonesia dengan latar belakang suku dan budaya berbeda-beda. Pada tiap-tiap tahun penting anak sejak ia lahir hingga ia menanjak remaja, berkembang satu kompetensi dan ketertarikan terhadap sesuatu, termasuk buku. Guru dan orangtualah yang berperan menghidupkan ketertarikan anak terhadap buku atau mematikannya. Karena itu, pengetahuan terhadap buku juga menjadi pengetahuan penting bagi guru dan orangtua, kecuali jika kita tidak mau mengambil peduli soal itu. Seperti anggapan buku ya buku … bahkan LKS yang kebanyakan amburadul itu juga disebut buku.

Perjenjangan buku yang disusun oleh pemerintah dengan yang menjadi leading sector adalah Puskurbuk Kemendikbud menggunakan pendekatan pemeringkatan huruf (anak hingga remaja) dengan indikator pembeda pada bahasa dan grafika. Keduanya dalam versi saya mengacu pada tingkat keterbacaan (readability), kejelahan (legibility), dan ketedasan kebahasaan. Ukuran seperti ini juga digunakan di beberapa negara lain yang dihubungkan dengan usia pembaca sasaran.

Melalui penjenjangan ini, para pelaku perbukuan, khususnya penulis, ilustrator, desainer buku, dan penerbit sudah dapat menyesuaikan buku apa yang mau mereka buat dan untuk siapa. Jenis buku memang berkorelasi juga dengan tipe pembaca sasaran. Alhasil, ini tantangan bagi pelaku perbukuan untuk tidak lagi asal membuat buku, apalagi buku abal-abal.

Jadi, kita memang sedang tidak “membual” menyusun penjenjangan buku ini. Meskipun terlambat dibandingkan negara lain, tidak mengapa yang penting kini ada dan muncul kesadaran menangani serius soal buku. Tunggu saja bagaimana implementasinya. Salam literasi![]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

  1. Memang benar guru & orang tualah yang berperan menghidupkan ketertarikan anak terhadap buku. Buktinya, berkat mamaku, aku mencintai buku. Waktu kecil, aku sering membaca buku karena sering melihat dan meniru mamaku yang membaca buku. Mamaku memberitahuku bahwa meski beliau tak suka membaca karena ngantuk, mama tetap berusaha membaca buku di depan anak-anak agar anak-anak semakin cerdas.
    Buku anak-anak yang ada di Indonesia yang bagus contohnya apa?Buku anak di Indonesia yang sering aku baca waktu kecil adalah cerita rakyat, pahlawan. Buku anak terjemahan pun sering kubaca seperti buku cerita rakyat luar negri berseri, buku anak karangan Guid blyton (bukan lima sekawan, buku ini aku baca saat remaja), komik jepang, Fabel, dll. Apakah buku yang kubaca bukanlah buku anak?
    Apakah sesulit itukah menulis buku anak-anak?Seperti apakah menulis kalimatnya?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here