Cara Mengoperasikan Perkakas #3 Free Writing

2
290

Tulisan sebelum ini mengaitkan Free Writing—perkakas ketiga dalam writing toolbox—dengan emosi negatif. Salah satu emosi negatif yang sangat mengganggu proses menulis adalah suasana hati yang galau atau kemrungsung. Kemrungsung ini dapat diakibatkan oleh banyak hal. Misalnya karena tenggat (deadline) yang sudah mendesak, tidak memiliki gagasan, atau hati memang lagi kacau balau.

Free Writing dapat membantu seorang penulis untuk mengubah emosi negatif (kemrungsung) menjadi emosi positif (suasana yang nyaman dan tidak menekan). Bagaimana caranya? Saya akan meminta bantuan Peter Elbow, penulis buku Writing without Teachers (Oxford University Press, 1988), dan Natalie Goldberg, penulis buku Writing Down the Bones (Shambala Publication, 2006) untuk memaparkan cara pengoperasian perkakas Free Writing ini.

Elbow—merujuk ke gagasan penemu Free Writing, Lev Vygotsky—menamakan Free Writing sebagai “menulis dalam proses”. Ketika Anda melakukan Free Writing, Anda harus lebih memperhatikan proses menulis-bebas Anda ketimbang hasil yang akan Anda peroleh. Jadi, abaikan hasilnya dan rasakan (perhatikan) prosesnya ketika mengoperasikan Free Writing. Free Writing atau menulis bebas memang merupakan kegiatan menulis tanpa disertai sensor dan editing.

Dalam bahasa yang lebih lugas, ketika Anda melakukan Free Writing maka Anda hanya mengetik—sekali lagi hanya memencet tombol huruf di papan ketik—tanpa berpikir atau tanpa beban ingin menuliskan sesuatu yang jelas atau bermakna. Anda hanya diminta untuk menggerakkan jari-jari Anda tanpa berhenti (dan tidak untuk memikirkan sesuatu) selama waktu tertentu. Pasanglah alarm selama 10 hingga 15 menit sebelum Anda memulai melakukan Free Writing. Begitu mulai menulis bebas, gerakkan jari-jari tangan Anda (untuk memencet tombol papan ketik) hingga alarm berbunyi.

Selama menulis bebas—atau mengetik secara fisikal tersebut—Anda tidak boleh berhenti di tengah proses. Anda juga tidak boleh memeriksa hasil ketikan Anda. Menulis bebas adalah menulis tanpa sensor dan editing—ini prinsipnya. Ini berarti keinginan untuk mengoreksi atau memperbaiki tulisan benar-benar Anda matikan terlebih dahulu. Sekali lagi, Anda hanya menggerakkan jari-jari Anda!

Senada dengan Elbow, Natalie Goldberg juga berpesan seperti itu bagi yang ingin melakukan Free Writing. Golberg bahkan mengistilahkan Free Writing ini sebagai menulis tanpa bentuk. Sebelum Anda menulis dalam bentuk yang jelas—menulis esai, cerita pendek, makalah, atau yang lain—alangkah baiknya apabila Anda dapat merasakan (menikmati) kenyamanan menulis yang tidak berbentuk.

Menulis tanpa bentuk ini merupakan kegiatan menulis yang berasal dari pikiran Anda sendiri. Sekali lagi, Goldberg tidak berbicara tentang cara menulis pada genre tertentu. Dia begitu mencintai kegiatan menulis sehingga yang penting adalah menulis itu sendiri, berlatih setiap hari, menuliskan sebebas-bebasnya seluruh pikiran yang terlintas di benak tanpa takut-takut, dan—akhirnya—Anda dapat menemukan kesejatian diri lewat tulisan.

Barulah setelah keterampilan (menulis tanpa bentuk) itu bertumbuh, terserah kepada Anda apakah Anda akan mengarahkannya untuk menulis cerpen, puisi, esai, artikel koran, novel, atau brosur iklan. Titik tekan yang ingin disampaikan Goldberg adalah memang tentang kebebasan menulis sebelum Anda terkerangkeng (menjadi tidak bebas) oleh kegiatan menulis yang berbentuk.

Kapan menulis bebas atau Free Writing ini dimanfaatkan? Paling bagus adalah di awal atau ketika Anda ingin memulai menulis. Biasanya, ketika ingin memulai menulis ada semacam tekanan atau kekhawatiran atau ketidakpercayaan diri yang tiba-tiba muncul. Emosi negatif kadang juga bergemuruh menganggu ketenangan Anda. Nah, Free Writing dapat Anda jalankan pada saat itu.

Apabila Anda tidak mendapatkan permasalahan menulis di awal (ketika Anda ingin memulai menulis) tetapi malah di tengah atau di tahap hampir di akhir, Free Writing juga dapat membantu Anda untuk mengatasi berbagai permasalahan menulis tersebut. Misalnya, Anda kehabisan kata-kata, macet, tidak tahu bagaimana menutup tulisan Anda, segeralah ambil perkakas ketiga ini dan operasikan![]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

2 KOMENTAR

  1. Makasih pak Hernowo walau saya belum tercapai keinginan untuk memiliki buku bapak tapi cukuplah sementara ini ngintip ngintip lewat blog ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here