Tarif Editing Setengah Tarif Menulis?

0
262
Foto: Bench Accounting

Manistebu.com | Sampai per tanggal 9 Juli 2017 saya melihat tulisan saya di situs ini bertajuk “Seharga Ini Editor Harus Dibayar” sudah dibaca 3.119 orang. Ini termasuk tulisan yang “laris” dibaca mungkin karena ada bau-bau duitnya, terutama bagi para editor yang berkepentingan ataupun orang yang ingin mencari tahu berapa harus membayar seorang editor.

Seharga ini Editor Harus Dibayar

Saya mau cerita sedikit bagaimana beberapa waktu lalu saya ditelepon oleh seorang pejabat militer. Beliau meminta bantuan saya untuk mengedit laporan kajian. Singkat cerita saya pun resmi bekerja sebagai editor lepas. Berapa tarifnya? Kira-kira Rp80.000 per halaman.

Mahal? Tidak juga bergantung pada tingkat kesulitannya karena editing naskah itu memang ada tiga tingkatan, yaitu ringan, sedang, dan berat. Tingkatan editing ringan itu sebatas memperbaiki ejaan dan tata bahasa. Tingkatan editing sedang yaitu selain memperbaiki ejaan dan tata bahasa, juga memperbaiki penyajian, termasuk struktur kalimat dan paragraf. Tingkatan berat sudah masuk kategori menulis ulang, bahkan merombak penyajian.

Pekerjaan mengedit laporan kajian tersebut masuk kategori pekerjaan editing sedang dan editing berat. Saya menetapkan tarif untuk editing sedang dan editing berat minimum Rp60.000/halaman dengan format kertas A4, margin normal, dan 1,5 spasi. Maksimalnya? Terkadang lebih dari Rp100.000,00.

Kok boleh sampai melebihi harga menulis naskah? Ya, coba kita ambil patokan standar biaya umum pemerintah. Satu-satunya SBU versi pemerintah hanya untuk penulisan artikel di internet dengan harga Rp100.000/halaman. Jadi, kalau editing naskah itu Rp60.000/halaman, menurut saya wajar saja jika memang masuk kategori editing sedang.

Saya sering mewanti-wanti para editor lepas untuk tidak memastikan tarif sebelum ia melihat naskah dari penulis atau klien. Pasalnya, sering kali penulis/klien berpersepsi bahwa naskahnya hanya memerlukan editing ringan sebatas ejaan dan tata bahasa. Padahal, banyak kasus sebenarnya naskah sangat tidak layak untuk terbit. Jelas, mana ada editor tega untuk mengedit seadanya karena itu juga akan berdampak pada kredibilitasnya.

Editor profesional tidak hanya akan mengerahkan pengetahuan kebahasaannya saat mengedit naskah, tetapi juga pengetahuan lain-lain, termasuk tata tulis. Karena itu, sebuah naskah akan dibaca dan ditinjau dari berbagai sisi. Pekerjaan membaca naskah saja sudah termasuk berat karena menggunakan teknik membaca analitis untuk menemukan kesalahan dan kelemahan pada naskah.

Ada banyak orang yang menghubungi saya untuk menanyakan pekerjaan editing ini. Saya sering bilang kalau paling rendah tarif editing yang saya tetapkan dan dikerjakan oleh tim adalah Rp15.000/halaman. Tapi, tunggu dulu, saya harus melihat naskahnya. Tarif sedemikian hanya berlaku untuk naskah yang hampir sempurna dan editor lebih berperan sebagai pembaca pruf (proof reader) yang hanya mencari salah tik, salah ejaan (kata nonbaku), atau kesalahan kecil lainnya.

Kesalahan tata bahasa tidak semuanya tergolong kesalahan kecil atau sepele. Ingat itu! (meminjam gaya seorang selebritas). Saya ambil contoh kesalahan yang paling sering terjadi yaitu kesalahan pemerincian. Para penulis sering tidak terhindarkan untuk memerinci suatu bahasan, baik rincian ke samping atau ke bawah.

Saya berani jamin hampir 90% penulis melakukan kesalahan. Mereka tidak tahu bagaimana caranya memerinci kata, frasa, klausa, dan kalimat. Kapan menggunakan huruf kapital dan kapan tidak perlu. Kapan menggunakan tanda titik (:) dan kapan tidak perlu. Mengedit soal ini saja “cape deh” bagi seorang editor. Bahkan, kadang juga editor harus memastikan konsistensi penerapan gaya.

Jadi, wajar saja jika tarif seorang editor setengahnya tarif menulis, bahkan lebih. Mengapa? Soalnya editor sering “terpaksa” ikut campur tangan terlalu jauh pada naskah, sedangkan penulis sudah pasrah. Begitulah romantika pekerjaan seorang editor. Mohon dimaklumi, Yang ….[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here