Peran Pelangi Emosi dalam Menulis

0
172

Lewat bukunya yang mudah dicerna, Daniel Goleman berhasil memopulerkan potensi luar biasa kecerdasan emosi atau EQ (emotional quotient). Sebelum kemunculan EQ, sudah ada terlebih dahulu istilah IQ—sebuah istilah untuk mengukur kecerdasan manusia. Danah Zohar dan Ian Marshall kemudian mengenalkan potensi lain—di samping IQ dan EQ—bernama SQ (spiritual quotient) dan Paul G. Stoltz mengenalkan AQ (adversity quotient)—kecerdasan untuk menghadapi tantangan.

Kita akan fokus pada EQ. Buku karya Daniel Goleman yang mudah dibaca itu ada dua: pertama, buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (1995) dan kedua buku Working with Emotional Intelligence (1998). Buku lain yang sangat memperkaya pikiran tentang peran penting potensi kecerdasan emosi (EQ) adalah buku-buku yang mengupas teori multiple intelligences (kecerdasan majemuk) yang ditemukan oleh seorang psikolog bernama Howard Gardner.

Saya memahami multiple intelligences dari praktisinya, Thomas Armstrong. Ada banyak buku karya Armstrong. Beberapa di antara karyanya menarik perhatian saya adalah In Their Own Way: Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences (1965), Seven Kinds of Smart: Identifying and Developing Your Many Intelligences (1993), Multiple Intelligences in the Classroom (1994), You’re Smarter Than You Think: A Kid’s Guide to Multiple Intelligences (2002), dan The Multiple Intelligences of Reading and Writing: Making the Words Come Alive (2003).

Saya akan memulainya dengan membahas karya Goleman yang berjudul Working with Emotional Intelligence. Dalam buku ini, Goleman merumuskan sebuah kecakapan baru untuk abad ke-21. Dia menamakannya soft skill (kecakapan lunak). Kecakapan ini berbeda dengan hard skill. Soft skill merupakan kecakapan yang didasarkan pada kecerdasan emosi. Contoh soft skill yang paling sederhana adalah bagaimana diri kita memahami (berempati terhadap) orang lain.

Menurut Goleman, kecerdasan emosi memang bergerak di dalam dua wilayah, yaitu wilayah pribadi (disebut sebagai kecakapan pribadi) dan wilayah sosial (disebut sebagai kecakapan sosial). Kecakapan pribadi mementingkan tiga hal: (1) kesadaran diri: bagaimana memahami diri, mampu mengendalikan emosi (terutama kemarahan), dan bagaimana meningkatkan kepercayaan diri; (2) bagaimana mengelola diri: eling lan waspodo (tahu dan sadar akan tujuan hidup), serta (3) bagaimana kita membangkitkan motivasi (semangat dan gairah untuk terus memperbaiki diri dan kehidupan).

Kecakapan sosial, sementara itu, terkait dengan dua hal, yaitu kemampuan berempati (memahami, menolong, dan melayani sesama) serta bagaimana diri kita memiliki semacam keprigelan sosial (yaitu mampu memimpin, mempengaruhi, menyelesaikan konflik, menggerakkan tim, dan menjadi katalisator perubahan). Dari apa yang disampaikan oleh Goleman tampak bahwa EQ berkaitan dengan kepekaan atas keadaan/kemampuan diri dan juga kemampuan berinteraksi dengan orang lain.

Apabila kita mampu mengaktifkan kecerdasan emosi yang kita miliki maka diri kita—dalam hal ini pikiran kita—akan sangat kaya raya. Memang, ada dua jenis emosi yang berperan dalam diri kita. Emosi yang satu merusak diri kita (emosi negatif) dan yang satu lagi membangun atau mengutuhkan diri kita (emosi positif). Salah satu tanda bahwa EQ kita bagus atau berada dalam tingkat yang tinggi adalah apabila kita mampu mengendalikan emosi negatif—salah satunya adalah emosi marah—dan mengubahnya menjadi emosi positif. Emosi negatif memang dapat menambah energi. Hanya, jika tidak dikelola dengan  baik, emosi tersebut akan dapat merusak kinerja diri.

Dalam perspektif multiple intelligences, kecerdasan emosi ini dibagi dua juga, yaitu self dan people smart—atau sama dengan rumusan Goleman: kecerdasan pribadi dan kecerdasan sosial. Seperti kita ketahui, multiple intelligences merumuskan sedikitnya tujuh kecerdasan yang berada di dalam pikiran/benak kita. Ketujuh kecerdasan itu adalah musical-rhythmic, visual-spatial, verbal-linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalistic intelligence. Dalam bahasa Thomas Armstrong ketujuh kecerdasan itu disebut music, picture, word, logic, body, people, self, dan nature smart.

Betapa kayanya pikiran kita dilihat dari teori kecerdasan emosi ala Goleman dan teori kecerdasan majemuk ala Gardner. Saya akan membahas kekayaan pikiran kita dari sudut pandang multiple intelligenes dalam tulisan mendatang. Pikiran kita yang berhasil dituliskan—apabila berhasil diperkaya dengan emosi (dalam hal ini EQ)—tentu akan seperti pelangi. Selain indah, itu juga punya wujud yang sangat bervariasi.[]

Hernowo—di dunia maya dikenal dengan nama “Hernowo Hasim”—adalah penulis 24 buku dalam 4 tahun. Dia punya konsep membaca-menulis bernama “mengikat makna”. Ia mulai menekuni dunia menulis di usia lewat 40 tahun. Buku pertamanya, Mengikat Makna (Kaifa 2001) terbit saat usianya mencapai 44 tahun. Kini sudah 37 buku diciptakannya. Buku ke-37-nya berjudul “Flow” di Era Socmed: Efek-Dahsyat Mengikat Makna (Kaifa, 2016). Kini Hernowo sedang mempersiapkan buku tentang “free writing”, bagaimana membuat buku, dan aplikasi “mengikat makna”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here