Sentuhan Literasi untuk Desa Terpencil

0
73
Foto: Institut Penulis Indonesia

Manistebu.com | Kira-kira dua jam atau paling cepat satu setengah jam perjalanan ditempuh untuk sampai ke Desa Cisarua, Kabupaten Purwakarta jika keluar dari pintu tol Jatiluhur (Tol Purbaleunyi). Desa yang terletak di kaki Gunung Parang dan Gunung Bongkok didapati setelah melewati sentra kerajinan gerabah, Plered.

Rombongan kecil kami yang berangkat dari Jakarta baru tiba pada pagi hari, Sabtu/4 November. Kondisi macet yang masih mengurung Bekasi-Cikarang sangat berpengaruh pada waktu tempuh dari Jakarta. Rombongan sebelumnya yang membawa dua pegiat literasi ternama, Hernowo Hasim dan Tasaro GK, tiba lebih dulu tengah malam Jumat/3 November.

Ada apa di desa terpencil itu? Desa Cisarua dan sekitarnya merupakan daerah binaan yang berhasil diangkat oleh Yayasan Nurani Dunia (YND) dari keterpencilan dan keterpurukan di bidang pendidikan. YND adalah yayasan sosial yang didirikan pakar sosiologi, Imam B. Prasodjo.

Kali pertama yang menarik Mas Imam (begitu beliau akrab disapa) datang ke kampung ini adalah menyelamatkan SD negeri satu-satunya di sana yang nyaris ambruk. Namun, SD itu kini berdiri mentereng dan sangat representatif untuk kegiatan belajar mengajar.

Sebagian besar atau sekira 65% penduduk di kampung ini hanya tamat SMP. Umumnya kaum lelaki bekerja sebagai tukang bangunan atau TKI di luar negeri. Tidak heran ketika saya berkeliling di kampung ini, bangunan-bangunan rumah tampak rapi dan baik sekali.

Walaupun begitu, pendidikan di sini sebelumnya terabaikan. Masuknya YND mengubah segalanya. Pendidikan menjadi prioritas utama untuk mengentaskan masyarakat kampung ini dari kebodohan.

Berdasarkan sejarah pada tahun 2002, Mas Imam mulai berkiprah membangun kampung ini. Lalu, tahun 2003, tiga menteri zaman Megawati didatangkan ke kampung ini, yaitu Malik Fadjar, Kwik Kian Gie, dan Jusuf Kalla. Jejaring Mas Imam Prasodjo sangat memungkinkan tokoh-tokoh nasional berkunjung ke tempat terpencil ini. Banyak tokoh sejak 2003 telah datang dan takjub dengan tempat ini.

Infrastruktur pun dibangun pelan-pelan sampai kemudian pengunjung akan menjumpai jalan-jalan yang sudah dibeton, bahkan di-hotmix. Meski terpencil, fasilitas di kampung ini sangat memadai untuk ditinggali berlama-lama karena YND telah membangun fasilitas di beberapa titik.

Hanya mungkin yang sangat bergantung pada sinyal ponsel, agak sedikit harus menahan diri jika tidak dapat dihubungi atau mengakses internet. Satu-satunya operator yang berjaya sinyalnya hanya Telkomsel.

Kami pun menikmati perjamuan dari Mas Imam Prasodjo untuk melatih guru-guru SD, SMP, dan SMK di Cisarua dan sekitarnya tentang literasi. Karena itu, saya pun membawa pasukan andal untuk memberi sentuhan bagaimana literasi dapat diajarkan. Atas sokongan Patra Niaga Pertamina, jadilah kegiatan literasi ini diselenggarakan lebih dari dua minggu.

Imam Prasodjo memberi kuliah umum membuka kegiatan PELANGI.

Saya membawa serta Mas Hernowo dan Tasaro GK, lalu juga akan membawa Mas Dodi Mawardi dan Dr. Amie ke sini. Kegiatan kami dinamai “Penguatan Literasi Alam Kampung Ilmu” (Pelangi) yang terdiri atas kuliah umum, training of trainer, dan pendampingan serta diakhiri dengan festival.

Kampung Ilmu

Mas Imam melalui Yayasan Nurani Dunia memang bercita-cita menjadikan Cisarua dan daerah sekitarnya sebagai kampung ilmu–tempat semua hal terkait dengan alam dipelajari. Karena itu, fokusnya adalah pada keterampilan beternak dan bertani sebagai literasi alam.

Ini sebuah terobosan untuk memberi alternatif pekerjaan dan pendapatan bagi penduduk desa. Mereka tidak harus jadi tukang bangunan secara turun-temurun atau TKI yang harus jauh dari sanak keluarga karena potensi desanya sungguh luar biasa.

Saat ini yang sedang dikembangkan adalah ternak burung puyuh, kambing etawa, lele, dan cacing sutra. YND langsung mendatangkan para pakar dan praktisi peternakan-pertanian untuk berbagi di Desa Cisarua.

Desa ini masih dikelilingi hutan yang asri, bahkan dilewati juga aliran Sungai Citarum. Batu-batu besar, bahkan ada yang sebesar mobil terserak di mana-mana yang memberi kekhasan tersendiri bagi pemandangan desa ini.

Di beberapa titik, YND membangun area yang difungsikan sebagai tempat belajar. Ada Rumah Ilmu, Rumah Inspirasi, Saung Sehat, Saung Kembar, dan Kebun Ilmu. Bangunan semipermanen dengan artsitektur yang unik menarik hati untuk berlama-lama tinggal. Di tempat ini juga ada camping ground bagi yang senang dengan suasana petualangan.

Saung Sehat

Tempat ini menjadi sangat ideal untuk para penulis “mengasingkan diri” dan menikmati suasana kampung yang benar-benar asri dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Jakarta atau Bandung. Itu juga yang menjadi harapan Mas Imam agar para penulis dapat diajak ke sini untuk menajamkan ilmu kanuragan menulis tentang literasi alam.

Pemandangan indah menjelang senja di Jatiluhur.
Guru-guru yang Antusias

Diberi pelatihan literasi langsung dari para penulis papan atas di Indonesia mungkin sebuah kemewahan bagi guru-guru di Cisarua dan sekitarnya. Karena itu, mereka dari awal sudah sangat antusias menerima ilmu. Sejak pukul 7.00 pagi mereka sudah berkumpul.

Guru-guru antusias mengikuti seteiap sesi.

Selama dua hari, 16 jam pelajaran, para guru tersebut diberi bekal literasi tentang membaca dan menulis. Hernowo mengeluarkan ilmu Quantum Reading dan Mengikat Makna, Tasaro GK mengeluarkan ilmu Juru Cerita, dan saya sendiri berbagi tentang membaca dan menulis haiku.

Mas Hernowo beraksi dengan Quantum Reading dan Mengikat Makna.

Dua hari rasanya cepat berlalu. Selang seminggu ke depan. Tim dari Institut Penulis Indonesia akan kembali meluncur memberi pendampingan menulis untuk para guru di dua SDN Cisarua dan SDN Tegalsari di Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Tim akan mendampingi saat kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai dan pemelajaran di kelas. Ini sebuah tantangan.

Tertarik ke tempat ini? Tunggu saja gebrakan Institut Penulis Indonesia dan Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) yang akan menggelar kegiatan pelatihan tahun 2018 di desa yang tidak terpencil lagi ini meskipun butuh kesabaran untuk mencapai salah satu sudut “surga dunia” ini.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here