Napas Panjang untuk Menulis

0
130

Manistebu.com | Menulis ibarat bernapas bagi orang-orang yang melakoninya sebagai jalan kehidupan. Berhenti menulis berarti berhenti bernapas. Tiada hari tanpa menulis, terutama jika Tuhan menganugerahi kehidupan pada hari baru.

Anugerah yang kemudian oleh sang penulis disyukuri dengan menjentikkan jari-jari menuliskan kata-kata penuh makna akan membuat hidupnya lebih hidup. Namun, tidak semua proses kreatif menulis itu mudah dijalani seperti bernapas. Kadang boleh dikatakan penulis itu ‘sesak napas’ untuk menulis–tersengal-sengal.

Bagaimana seorang penulis memiliki napas panjang untuk menulis? Tentu saja ia sendiri harus berada dalam kondisi rileks atau tenang meskipun tenggat (deadline) mengepungnya. Namun, praktiknya bersikap rileks itu tidaklah mudah, apalagi jika penulis kehabisan energi dan kehabisan bahan pada suatu titik, lalu menyerah.

Saya meskipun telah menekadkan menulis setiap hari pada satu titik juga pernah mengalami kebuntuan menulis (writer’s block) dengan berbagai pemicu. Padahal, saya telah melatih dan membiasakan diri menulis dalam kondisi apa pun–dalam kesunyian atau keramaian; dalam kendaraan atau di tempat diam.

Alhasil, napas panjang menulis itu juga adalah anugerah yang memerlukan “campur tangan” Tuhan melalui doa dan harapan yang dilangitkan. Kita tidak boleh sombong dan berbangga diri dengan kehebatan kreatif menghasilkan tulisan atau menyombongkan produktivitas.

Oksigennya tetap saja berasal dari Sang Khalik. Mau bernapas tanpa oksigen, sama saja bohong.

Apa representasi oksigen itu? Apa lagi kalau bukan gagasan alias ide yang baik dan segar. Tidak ada ide, susah bernapas bagi seorang penulis. Ada ide, tetapi bukan ide yang baik, tulisan juga jadi biasa-biasa saja dan tidak bermutu.

Namun, banyak juga orang memaksakan menulis meskipun tidak punya ide yang baik–ibarat bernapas dengan karbon dioksida, lama-lama mati lemas. Apa yang ditulis tidak memberi efek apa-apa sehingga tidak “memperpanjang umurnya” sebagai penulis.[]

 

 

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here