Tentang Bahasa dan Tulisan Buruk Para Penulis

0
308
Foto: Tim Gouw on Unsplash

Manistebu.com | ADA satu rahasia pribadi yang ingin saya sampaikan. Mungkin Anda tidak percaya. Saat menerima rapor kenaikan di kelas 1 SMA, ibu saya dipanggil oleh wali kelas. Mengapa? Nilai bahasa Indonesia saya jeblok diberi angka 5 berwarna merah! Itulah seumur hidup saya mendapatkan rapor merah.

Pengalaman di kelas 1 SMA itu kontras sekali dengan pengalaman-pengalaman saya di SD dan SMP ketika saya beberapa kali menjadi juara kelas. Tak pernah ada satu pun nilai merah, bahkan 6 di rapor saya. Apalagi, bahasa Indonesia gitu loh ….

Samar memori saya mengingat bahwa sering kali saat itu saya “bentrok” dengan guru bahasa Indonesia dalam soal menulis. Ia mengajarkan menulis ini dengan cara begitu maka saya menulis itu dengan cara begini. Ada satu momen ia begitu marah dengan saya. Mungkin saya saat itu dikategorikan murid yang lola alias lambat loading. Entahlah ….

Saya bukan tidak menyukai dan mencintai bahasa Indonesia. Namun, saat itu bahasa Indonesia saya anggap menjadi sulit. Sampai kemudian takdir membawa saya masuk ke Fakultas Sastra serta Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia pula. Di perguruan tinggi saya menemukan tujuan dan harapan mempelajari serta mendalami bahasa Indonesia yaitu untuk menjadi penulis dan editor.

Kisah saya ada korelasinya dengan tulisan A.S. Laksana atau Mas Sula di Jawa Pos bertanggal 30 Oktober 2017 yang menjadi viral. Tulisan bertajuk “Kenapa Banyak Tulisan Buruk?” itu direspons banyak warganet, termasuk para pegiat bahasa. Pasalnya, Mas Sula menyentil tentang pemelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah yang menurutnya gagal menghasilkan orang-orang berbahasa dengan baik sekaligus benar.

Adalah Steven Pinker, ilmuwan psikolinguistik dari Universitas Harvard, AS, yang dikutip Mas Sula dalam menyampaikan ceramah-ceramahnya tentang penulisan sering mengajukan pertanyaan: Kenapa kebanyakan tulisan buruk sekali dan bagaimana cara menjadikannya lebih baik? Pertanyaan itu dipungut dari buku larisnya berjudul The Sense of Style: The Thinking Person’s Guide to Writing in the 21st Century.

Sebagaimana biasanya para penulis berpikir secara terstruktur dan terkoneksi dengan bacaan atau pengalamannya maka koneksi terhadap buku Steven Pinker yang dilakukan Mas Sula terkait dengan pertanyaan seorang wartawan.

Wartawan itu mengajukan premis mengapa saat ini kecintaan terhadap bahasa Indonesia di kalangan generai zaman now itu merosot. Wacana itu hendak dilaporkan sebagai suatu bentuk keprihatinan menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dan juga Bulan Bahasa.

Sang wartawan membandingkannya dengan kesukaan anak-anak sekarang belajar bahasa asing dan menggunakannya dalam berkomunikasi. Apakah bahasa asing itu akan menggerus eksistensi bahasa Indonesia?

Mas Sula membantah opini tersebut karena penguasaan terhadap bahasa asing tidak merta menyebabkan merosotnya kemampuan berbahasa Indonesia, terutama di kalangan siswa saat ini. Justru, sebaliknya penguasaan terhadap bahasa asing menjadi bahasa tulis dalam bahasa Indonesia lebih baik.

Seperti kasus yang terjadi pada diri saya saat kelas 1 SMA, ada hal menarik dari pendapat Mas Sula bahwa mempelajari bahasa Indonesia bagi anak-anak masa kini tidak lagi mengandung harapan dan cita-cita.

Sebaliknya, ketika mereka mempelajari bahasa Indonesia, apa ”cita-cita” atau ”harapan” yang ada di belakangnya? Hampir tidak ada, jika bukan tidak ada sama sekali. Bahasa Indonesia mereka pelajari sebagai mata pelajaran wajib saja. Mereka tidak tertarik pada materinya, bosan pada cara guru menyampaikan, dan tidak tahu kenapa harus menguasai bahasa Indonesia sebaik-baiknya.

Saya setuju dengan pendapat Mas Sula bahwa kebanyakan orang menulis buruk atau berbahasa secara buruk, itu hal yang lumrah, apalagi bahasa tulis. Di antara mereka yang berprofesi jurnalis pun terkadang menghasilkan tulisan yang buruk dengan tata bahasa yang amburadul. Bahkan, saat ini mereka yang mengaku sebagai penulis pun masih mempertontonkan keburukan berbahasa.

Sejak tahun 2000 saya mulai mengajar tentang menulis dan menyunting, baik dalam pendidkan formal maupun nonformal, hampir pasti saya menemukan buruknya bahasa yang digunakan mahasiswa dan juga mereka yang telah bertitel magister atau doktor. Materi penyuntingan bahasa selalu menjadi materi favorit yang membuat banyak peserta didik mengeluarkan berbagai komentar.

Berbahasa yang baik dan benar itu tidaklah mudah. Kemampuan itu harus diasah terus-menerus dan dipelajari. Konteks pemelajarannya yang memang perlu diperbaiki–seperti pendapat Mas Sula–agar memiliki daya tarik.

Kadang-kadang daya tarik atau kreativitas mengajarkan bahasa Indonesia ini tidak muncul karena bahasa Indonesia seperti dipandang sebelah mata. Pelajaran yang dianggap mudah, tetapi dalam praktiknya menjadi sulit karena tidak didalami dengan saksama.

Terkadang guru yang mengajar bahasa Indonesia justru malah tidak paham kaidah kebahasaan. Ada pengalaman saya soal ini ketika mengajarkan menulis kepada guru-guru yang notebene guru bahasa. Mereka “takjub” dengan tata bahasa sendiri yang sebelumnya tidak mereka ketahui.

Jadi, sebaiknya memang kita berbenah diri dalam soal belajar-mengar bahasa Indonesia ini daripada menyalahkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kemerosotan kemampuan berbahasa Indonesia. Hampir setiap tahun kita melahirkan orang-orang yang tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik, termasuk para penulis.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here