Disrupsi Buku Terjadi di Tangan Para Ibu

0
399
Foto: Bambang Trim

Manistebu.com | Sabtu siang (6/1), saya kedatangan tamu istimewa. Seorang ibu bernama Winarni. Saya akrab memanggilnya Wiwin.

Wiwin datang bersama suaminya, Deni Muharam. Keduanya dulu menjadi staf saya saat bekerja di Penerbit Grafindo Media Pratama. Deni sendiri adalah junior saya di Prodi D-3 Editing Unpad.

Singkat cerita, ia dan suaminya kini menjadi pasangan serasi menjalankan bisnis print on demand di Bandung. Kunjungannya sekaligus mengantarkan pesanan saya mencetak dumi buku tentang sejarah buku untuk Puskurbuk Kemendikbud.

Kami mengobrol ngalor ngidul tentang dunia penerbitan dan pencetakan. Sampai kemudian pada cerita soal “disrupsi” di dunia buku yang dilakukan emak-emak alias para ibu.

Wiwin menjadi seorang pelaku penjualan buku-buku luks berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan sistem direct selling. Kekuatan word of mouth alias getok tular ternyata makin menemukan momentumnya pada zaman media sosial kini.

Buku-buku mewah–umumnya buku anak–itu tak perlu melalui saluran lazim yaitu toko buku. Buku-buku itu terbit ratusan judul dan terjual ribuan hingga puluhan ribu eksemplar dalam watu tidak terlalu lama. Penerbit cukup ongkang-ongkang kaki karena yang berjuang dan bergerak adalah para ibu.

Gejala Disrupsi

Gejala disrupsi–situasi bisnis yang tidak terjadi lagi seperti biasanya–memunculkan beberapa ibu yang berinisiatif menerbitkan buku sendiri. Dengan latar belakang pendidikan psikologi atau kependidikan, para ibu itu mulai merancang buku-buku anak untuk kelas menengah Indonesia.

Bekerja dari rumah, mereka membuat tampilan buku yang luks: hard cover, penuh gambar, dan berwarna. Memang tidak semua buku dapat dikatakan memenuhi kualitas konten optimal. Namun, yang patut dicatat para orangtua kelas menengah itu seperti selalu husnuzan pada produk buku.

Sering kali mereka membeli buku berset-set tanpa banyak berpikir, terutama buku-buku berkonten religi dan pengetahuan. Mereka semua–seperti kebanyakan orangtua–ingin anaknya cerdas dan berakhlak mulia.

Jadi, disrupsinya itu pada gejala penerbitan buku sendiri (self-publishing) dan penjualan menggunakan kekuatan komunitas yang makin mengakar kuat pada era media sosial kini. Suatu buku dalam waktu yang singkat menjadi viral.

Sebuah produk buku bahkan sudah habis dipesan saat pre-order. Angka cetakan pertama itu juga sangat menggiurkan antara 5.000 sampai dengan 10.000 eksemplar.

Penerbit konvensional yang masih cukup kuat bermain di buku-buku luks ini atau istilahnya coffee table book, yaitu Mizan, Sygma, dan Tiga Raksa. Adapun self-publisher yang sempat menjadi buah bibir dengan keberhasilannya menjual buku-buku anak luks yaitu Rabbit Hole.

Iklan rekrutmen book advisor (MDS)

Nama panggilan para pegiat buku ini pun keren seperti Penerbit Mizan melalui lini MDS yang menyebut book advisor. Konon MDS kini memiliki 18.000 book advisor di seluruh Indonesia. Terbayang besarnya kekuatan ini, apalagi umumnya mereka benar-benar para ibu penyuka buku dan mengerti tentang buku, termasuk pendidikan anak.

***

Nah, saya jadi ingat buku Contagious karya Jonah Berger bahwa kekuatan getok tular itu masih lebih ampuh daripada beriklan di internet–perlu ada cara lain membuat iklan di internet efektif dan menjadi viral. Di tangan emak-emak banyak produk yang menjadi hidup dan secara cepat berpengaruh.

Facebook masih menjadi media sosial yang andal untuk para ibu ini, disusul dengan Instagram dan blog atau situs pribadi. Kegiatan offline juga termasuk menjadi titik ungkit, termasuk arisan.

Di Indonesia potensi disrupsi dunia buku yang dilakukan para ibu ini sangat luar biasa dari segi jumlah dan pertumbuhan kelas menengah. Buku itu masih berpengaruh ampuh bagi pendidikan anak, apalagi jika digarap dengan sangat profesional.

Karena itu, tidak heran akan tumbuh writerpreneur dari kalangan para ibu itu lebih pesat lagi dengan potensi pasar Indonesia yang besar dan beragam. Kreativitas akhirnya sangat diperlukan untuk membuat buku yang benar-benar dibutuhkan dan mencerdaskan.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here