Passion: Tentang Meraih Apa yang Ada di Depan Mata

0
50

Manistebu.com | Sering kali kata passion ini dibawa-bawa di dalam sesi pelatihan-pelatihan motivasi. Di dalam bahasa Inggris, passion memiliki dua makna.

Pertama adalah keinginan atau hasrat yang sangat kuat. Kedua, adalah berahi atau nafsu. Namun, di dalam sesi pelatihan, tentu saja yang dimaksud bukan arti yang kedua.

Di dalam bahasa Indonesia, kata passion sangat mirip maknanya dengan kata ‘renjana’. Renjana diartikan sebagai rasa hati yang kuat terkait rindu, cinta, dan juga berahi. Namun, ‘renjana’ kalah populer dan mungkin juga kurang mentereng dibanding dengan passion.

Passion itu semestinya memang datang dari dalam diri sendiri. Seseorang sering tidak menyadari apa passion dia sesungguhnya sehingga berimbas pula pada kebingungan untuk menentukan cita-cita atau tujuan hidup. Terkadang, passion muncul secara tidak terduga.

Seperti halnya yang terjadi pada diri saya. Saat SMA, saya sudah memutuskan memilih jurusan fisika (A1) dengan harapan kelak melanjutkan kuliah di bidang teknik. Apakah saya menyukai fisika atau teknik? Ragu-ragu juga menjawabnya.

Sejatinya saya tidak tahu mau jadi apa kelak ketika lulus SMA. Lalu, saya berangkat dari Medan ke Bandung untuk melanjutkan kuliah. Saya mengikuti UMPTN memilih pilihan pertama jurusan teknik industri di ITB dan pilihan kedua kalau tidak salah saya memilih hubungan internasional (ini juga aneh). Nyatanya saya tidak lulus.

Lalu, sebagai cadangan saya mengikuti dua tes di luar UMPTN di Unpad. Satu tes masuk PAAP (Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan) di FE Unpad (lebih aneh lagi) dan satunya lagi program studi editing di Fakultas Sastra Unpad.

Takdir membawa saya masuk ke Prodi Editing, Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra, Unpad. Ini prodi yang umurnya saat itu tahun 1991 baru tiga tahun.

Sampai waktu awal masuk kuliah, saya masih tidak mengerti apa itu editing sesungguhnya, selain sayup-sayup mengedit tulisan. Lalu, kuliah demi kuliah saya nikmati yang membawa saya pada satu ilmu yang disebut publishing science.

Rupanya saya menemukan passion saya di Editing pada semester I. Ya, itu jelas bagi saya ketika saya begitu menggebu-gebu mendalami lebih jauh seluk-beluk penerbitan buku. Bahkan, saya sudah menetapkan pilihan untuk menjadi ahli dalam bidang ini.

Ternyata ini sangat berhubungan dengan kebiasaan saya saat SMA yaitu kerap mengomentari paper teman-teman apabila ada kesalahan, paling tidak kesalahan tik. Saya hampir tidak pernah menulis, tetapi saya rajin menulis surat (berkorespondensi) yang kala itu masih populer. Bahkan, gaya menuli saya sangat terpengaruh dengan gaya menulis Hilman “Lupus” Hariwijaya.

Ini mungkin yang disebut pucuk dicinta ulam tiba; sesuatu yang didamba, passion memberi makna. Hasrat yang menggebu itu saya tunjukkan dengan membaca buku-buku terkait penulisan dan penerbitan di perpustakaan. Banyak bertanya kepada dosen saya dan aktif dalam kegiatan kampus yang berhubungan dengan penulisan-penerbitan–meskipun ada satu kegiatan yang kurang nyambung ketika saya menjadi ketua unit Persatuan Catur Mahasiswa Unpad.

Secara tidak sadar saya juga melakukan afirmasi bahwa suatu saat saya akan pergi ke Frankfurt Book Fair–perhelatan pameran buku tertua dan terbesar di dunia. Waktu itu, dosen saya bernama Ibu Sofia Mansoor kerap berkisah tentang Frankfurt.

Afirmasi ini menjadi kenyataan pada tahun 1999, saat saya baru empat tahun bekerja sebagai profesional di penerbit buku. Bahkan, saya pergi ke Frankfurt didampingi oleh Ibu Sofi.

Hingga hari ini saya masih setia berada di bidang ini yang disebut penulisan-penerbitan menunjukkan bagaimana saya meraih apa yang sudah ada di depan mata saya. Dalam usia 31 tahun, saya sudah menjadi seorang direktur di sebuah penerbit–tepatnya di MQ Publishing, penerbit milik Aa Gym. Selanjutnya, hidup saya bergulir memimpin beberapa penerbitan sambil tetap setia menjalani profesi sebagai penulis dan editor.[]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here