Menggagas dan Menuntas(kan) 100+ Judul Buku

0
368

(Tulisan ini mungkin terkesan narsis. Namun, saya harus menceritakan dan membagi nikmat ini sebagai penulis buku kepada sahabat-sahabat yang bercita-cita menekuni profesi penulis buku. Saya ingin menghapus kebimbangan, kesan streotif [tak dapat hidup dari menulis buku], dan kesulitan mengembangkan karier. Apa pun kesannya, saya harus memberi tahu bahwa 100+ judul buku dalam hidup kita adalah mungkin dan nyata. Karena itu, 10+ judul buku dalam hidup kita adalah niscaya!)

Ada yang menarik ketika menekuni profesi penulis buku; mirip dengan upaya pilot menambah terus jam terbang di angkasa. Gairah itu adalah menambah terus portofolio judul buku dari tahun ke tahun. Lalu, memasuki 2010, saya telah menuntaskan 100+ portofolio buku yang diterbitkan berbagai penerbit di Indonesia, termasuk di Malaysia.

Namun, ibarat sudah kecanduan, keinginan menggagas dan menuntaskan sebuah buku datang terus seiring anugerah ilham luar biasa dari Allah Swt. Dan saya ingat kali pertama menulis buku adalah pada 1994, tepat setelah lulus dari D3 Editing Unpad yaitu mendapatkan order menulis buku pelajaran bahasa Indonesia. Bertubi-tubi kemudian saya pun membuatkan buku untuk mata pelajaran lainnya.

Debut buku umum baru saya mulai ketika bergabung dengan Penerbit Rosdakarya dengan mengedit dan membantu penulisan ulang beberapa buku umum. Saya pun terlibat dalam proyek penulisan buku Inpres; menghasilkan beberapa buku fiksi anak, salah satu yang sangat saya suka adalah novel bertema perang berjudul Tentara Malaikat dengan mengambil setting perang saudara GAM-RI. Lalu, karier penulisan makin menggebu saat bergabung dengan Penerbit Salam Prima Media dan menjadi tonggak saya masuk ke dunia penulisan buku anak Muslim dengan karya awal: Buku Aktivitas Ramadhan untuk Anak, Tuntunan Perilaku Anak Saleh, serta Memahami Halal dan Haram untuk Anak.

Editing memang ilmu yang membawa saya akhirnya masuk terus ke belantara penerbitan buku nasional. Dari sini saya memercayai bahwa kemampuan menulis, khususnya buku akan memperkuat posisi tawar editor, baik kepada penerbit maupun kepada penulis yang menjadi mitranya. Editor harus menulis buku, pun sebaliknya seorang penulis harus menguasai ilmu editing.

Menulis buku adalah sebuah proses dari kata sakti ‘perjuangan’. Upaya aktualisasi diri untuk mendapatkan pengakuan juga selalu menjadi hasrat berbalut tekad luar biasa. Untuk itu, saya coba mengumpan karya-karya pada program penilaian dan juga kompetisi tingkat nasional. Proses ini berbuah ketika buku bahasa Indonesia SMP yang saya tulis lolos penilaian NTEC yang diselenggarakan Pusbuk-World Bank. Lalu, saya pun menuliskan kembali skripsi hasil studi sastra anak di Indonesia hingga kemudian lolos dalam Program Pustaka I, Adikarya IKAPI-Ford Foundation hingga diterbitkan atas bantuan Ford Foundation dengan judul Fenomena Intrinsik Cerita Anak Indonesia Kontemporer: Dunia yang Terpinggirkan (Nuansa Cendekia). Sukses terus berlanjut ketika naskah buku anak Pesta Sayuran mendapatkan penghargaan juara I pada Lomba Penulisan Cerita Keagamaan yang diselenggarakan Depag untuk kali pertama. Cukuplah modal prestasi ini untuk membangun keyakinan menekuni dunia penulisan buku sebagai jalan ‘memperjuangkan’ kekayaan.

Jalan lain yang harus ditekadkan adalah jalan best seller. Jalan ini paling sulit karena melibatkan peran pembaca sebagai end user. Ilmu editing membantu saya untuk menstimulus gagasan dan melek pasar guna mengetahui keinginan dan kebutuhan para pembaca sasaran saya. Debut best seller paling membanggakan saya mulai dari buku Seri Tanya Jawab Akidah-Akhlak yang merupakan buku nonfiksi anak spiritual paling sering direspons anak-anak serta orangtua dan sudah tersebar ke seluruh Indonesia. Buku ini mengalami cetak ulang beberapa kali (lebih dari 15.000 eks) dan masih terus berlanjut penjualannya. Buku ini diterbitkan oleh MQ Kecil, sebuah lini penerbitan MQS.

Buku lain dalam lingkungan MQ yang menjadi hits adalah Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi. Saya memang membantu penulisan buku otobiografi Aa Gym ini dengan konsep yang diselesaikan dalam satu hari. Buku ini hingga saya pensiun dari MQS telah mencetak penjualan 130.000 eksemplar lebih; secara subjektif juga didorong popularitas Aa Gym kala itu.

Sebelum dua buku tadi, saya juga sudah menerbitkan secara self-publishing (Penerbit Bunaya) buku berjudul Menggagas Buku yang mengalami cetak ulang dua kali dan masih terus diminati orang hingga kini. Buku tentang kiat praktis menulis dan menerbitkan buku tersebut memang laris manis di tengah tumbuhnya semangat penerbitan pascakrisis moneter 1997. Lalu, buku sejenis yang tak kalah laris adalah Saya Bermimpi Menulis Buku(Penerbit KOLBU, MQS) yang sempat mengalami cetak ulang dua kali dan sekarang tidak dilanjutkan meskipun masih ada permintaan.

Buku best seller lain yang membuat saya melambung sebagai penulis buku pelajaran adalah buku Saya Ingin Mahir Berbahasa Indonesia untuk SD Kelas I-VI (Penerbit Grafindo). Buku ini lulus penilaian standar nasional buku pelajaran dan digunakan luas di seluruh Indonesia. Royalti buku ini mampu membuat saya punya bekal membeli rumah, mobil, dan memberangkatkan haji ayah saya. Gara-gara buku ini pula saya banyak dikenali anak-anak seluruh Indonesia karena biodata dan foto saya ada di sana. Alhamdulillah.

Buku lain yang termasuk baru, terbit pada 2008 adalah Magnet Muhammad (Penerbit Cicero). Dalam tempo beberapa bulan, buku berukuran pocket dengan cover unik ini pun mengalami cetak ulang kedua. Sayang buku ini kurang terkomunikasikan dengan baik, secara display di toko buku ataupun menguatkannya lewat event. Buku ini insya Allah akan saya revisi besar pada 2010 dengan judul tambahan M3: Magnet Mulia Muhammad saw. Siapa yang mau menerbitkannya? Kita lihat saja nanti.

Berkaca pada 2009; Berazzam pada 2010

Saya tidak ingin main-main dengan sisa umur maka gas harus diinjak lebih dalam untuk menambah speed dalam penulisan buku. Saya berkaca pada 2009 seberapa banyak buku yang telah saya hasilkan. Berikut portofolio 2009:

  1. Brilliant Entrepreneur: Muhammad saw (Salamadani)
  2. Taktis Menyunting Buku (Maximalis)
  3. Kamu Pasti Disayang Allah (Chilpress)
  4. Dasar-Dasar Cergas Menulis Fiksi (Tiga Serangkai)
  5. Kisah dan Hadits Terpilih 1 (Tiga Serangkai)
  6. Kisah dan Hadits Terpilih 2 (Tiga Serangkai)
  7. Magical Public Speaking (Medpress)
  8. Menginstall Akhlak Anak (Grafidia)
  9. Petualangan Si Langlang: Marah dan Sabar (Tiga Serangkai)
  10. Petualangan Si Langlang: Takut dan Berani (Tiga Serangkai)
  11. Petualangan Si Langlang: Ragu dan Percaya Diri (Tiga Serangkai).

Pada 2010 rencana pun sudah terpetakan. Beberapa buku yang sudah mulai tergarap dan dituntaskan dalam limit waktu yang sempit, yaitu

  1. Kids on Business: Vaksin Wirausaha untuk Anak Kita
  2. Graphic Guide: Jadi Pembicara Pro itu Mudah!
  3. 99+ Ekspresi Cinta untuk Anak Kita
  4. 99+ Ekspresi Humor untuk Anak Kita
  5. Taktis Menulis Buku
  6. Dasar-Dasar Editing (buku teks editologi untuk Polimedia)
  7. Martha dan Pizza Kebahagiaan (Picture Book)
  8. Malik dan Kebab Persahabatan (Picture Book)
  9. Lingling dan Bakpao Keberanian (Picture Booki)
  10. Putri Ceria dan Putri Cemberut (Chapter Book)
  11. Princess Caroline dan Dua Benih Ajaib (Picture Book)
  12. Masuk Surga karena Ibu: Ampuhnya Ridha dan Doa Ibu
  13. Muhammad saw and Khadijah ra on Business
  14. Seri Allah Mahahebat (lima judul).

dan masih ada beberapa judul lain dalam proses stimulus outline dalam bentuk matriks yang kemudian diturunkan dalam bentuk brief for publishing. Semuanya sekali lagi adalah proses dan perjuangan dengan energi ketekunan.


Bagaimana Rahasia Saya Menstimulus Gagasan Buku?

Gagasan bertebaran setiap hari, demikian pun hidayah dari Allah. Terkadang mustahil mencarinya, tetapi mungkin untuk menjemput atau mendatangkannya dengan stimulus. Rumus ampuh saya adalah banyak baca, banyak jalan, dan banyak silaturahim. Tiga kegiatan ini dapat disatukan dengan hanya berkunjung ke toko buku Gramedia atau toko buku lainnya. Favorit saya di Bandung adalah TB Gramedia Merdeka dan TB Gramedia Paris Van Java. Kalau di Jakarta, favorit saya adalah TB Gramedia Matraman.

Di toko buku tersebut, kali pertama yang saya incar adalah rak buku baru, kemudian dilanjutkan ke rak buku best seller, dan singgah beberapa jenak di rak buku rekomendasi. Dari situ tour dilanjutkan ke rak buku-buku khusus, terkadang saya lama di buku bisnis, lama di buku spiritual Islam, dan lama juga di buku anak. Apa yang saya cari? Kadang-kadang memang gak ada. Saya hanya menstimulus gagasan penulisan buku.

Momen itu saya sempatkan untuk membuat janji bertemu dengan beberapa orang. The Power of Silaturahim. Bertemu dengan orang membuat saya banyak mendiskusikan gagasan-gagasan baru soal penulisan dan penerbitan buku. Nah, banyak berjalannya? Ya, yang tadi berjalan dari satu rak ke rak lain itu sama dengan berjalan dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain, dan dari satu dunia ke dunia lain.

Setiap dari momen tadi yang dapat saya lakukan 2-3 x dalam sebulan, saya langsung menuliskannya di folder-folder komputer. Kadang-kadang hanya satu kalimat, kadang satu paragraf. Jika ada waktu dan semangat, dituntaskan dengan matriks outline. Naskah buku pun siap garap dengan memilih dari lima model outline: tahapan, butiran, kombinasi tahapan-butiran, aliran, dan tanya-jawab.

He-he-he bagi sahabat-sahabat yang sudah pernah mengikut kelas training saya pasti tidak asing dengan model outline ini, pun bagaimana membuat matriks outline. Sayangnya, 2010 ini saya akan ‘istirahat’ banyak untuk memberikan training karena tugas berat profesional menanti untuk memajukan penerbitan yang saya pimpin.

Bagaimana Manajemen Penulisan untuk Meningkatkan Portofolio?

Portofolio bertambah artinya buku Anda benar-benar diterbitkan oleh penerbit dari hasil upaya Anda menggagas serta menuntaskan naskah. Anda dapat memilih menerbitkan sendiri (self-publishing) atau menerbitkan lewat jalur penerbit dengan melewati dulu penilaian penerbit.

Reputasi dan nama memang bukan jaminan naskah Anda diterbitkan. Namun, paling tidak reputasi di tengah bangsa yang miskin penulis seperti ini membuat jalan Anda makin lancar memasuki gerbang penerbitan. Portofolio dan pengalaman akan bicara sehingga begitu mudah bagi Anda memproduksi naskah dan 110% pasti diterbitkan.

Saya memang memimpin sebuah penerbitan buku dan saya betul-betul mengenal seluk-beluk penerbitan-pemasaran buku. Mudah sekali kini bagi saya meminta penerbit yang saya pimpin untuk menerbitkan buku saya atau menerbitkannya sendiri. Namun, saya merasa tertantang untuk mengirimkan konsep naskah ke banyak penerbit atau menawarkan ide agar mereka memesannya. Saya tetap ingin melalui proses seleksi dan mempresentasikan gagasan saya, lalu menuntaskannya dan membuktikannya di pasar. Dengan demikian, hasrat dan tekad berprestasi tetap dihidupkan.

Karena itu, saya memang ‘tidak suka’ perkenalan dengan seorang penulis pemula disusupi anggapan bahwa kenal dengan direktur penerbit akan memudahkan saya (penulis pemula) itu untuk menerbitkan buku. Saya punya naskah, apakah bisa diterbitkan di penerbit Anda? (kira-kira begitu pertanyaan yang kerap dilontarkan). Ya, silakan kirimkan dan biarkan tim editor mengevaluasinya; saya tidak mengintervensi sesuatu untuk terbit disebabkan karena ‘perkenalan dan pertemanan’.

Saya sangat menghargai proses dan perjuangan. Menawarkan memang bagian dari perjuangan, tetapi bagi saya tidak harus dimulai dengan pertanyaan: Saya punya naskah, bisakah diterbitkan di penerbit Anda? Hehehe rahasianya lebih baik begini: 1) kenali dulu apa yang diterbitkan oleh penerbit lewat website penerbit atau katalog yang dibagikan di pameran buku; 2) buat naskah yang pas pada salah satu kategori yang diterbitkan; 3) rancangan outline atau matriks naskah dibuat dengan dilengkapi daftar buku pembanding, alasan keunggulan, dan latar belakang penulis; 4) baru kirimkan langsung ke email saya, dan cc ke email redaksi penerbit dengan surat pengantar; 5) tunggu hasil review saya dan penerbit untuk maju ke tahap berikutnya. Itu proses dan itu perjuangan yang lebih baik dari sekadar bertanya yang terkadang si penulis sendiri sampai tidak dapat mengeja nama penerbit dengan benar atau tidak tahu di jagat maya ini sangat gampang melihat portofolio sebuah penerbit, termasuk alamat emailnya.

Karena itu, lakukan manajemen penulisan naskah dengan baik yaitu mendaftar gagasan, memilah yang paling layak dan paling mungkin ditulis secara cepat, dan menawarkannya dengan penerbit yang betul-betul sudah Anda kenal. Tentang menggagas ini pun saya punya kiat yang saya sebut kecerdasan menghubungkan (interconnecting quotient). Hubungan pertama adalah pada pasar: kebutuhan atau keinginan pembaca saat ini. Hubungan kedua adalah pada buku pembanding (kompetitor buku sejenis yang hendak Anda garap). Hubungan ketiga adalah pada referensi (seberapa banyak referensi tersedia: baik primer maupun sekunder yang dapat Anda temukan dan gunakan untuk menulis). Hubungan keempat dengan pembaca sasaran (seberapa luas, seberapa khusus [niche], dan seberapa dalam). Hubungan kelima dengan penerbit sasaran (seberapa banyak, seberapa profesional, dan lama atau baru).

Dengan manajemen seperti ini, kerja penulisan seorang penulis akan lebih terarah. Naskah tergarap tadi pun akan memudahkan penerbit untuk menyeleksi, lalu mengatakan setuju. Portofolio Anda pun siap bertambah yang berdampak pada reputasi. Sampai akhirnya Anda sudah terkenal sebagai penulis profesional dengan tarif tertentu yang dimafhumi oleh sebagian besar penerbit. Jadi, langkah penawaran sudah menjadi bagian profesionalitas Anda yang menggunakan pendekatan hypnotic writing dan membuat penerbit benar-benar yakin menerbitkannya. Karena itu, benefit dari sebuah naskah pun harus mampu Anda deskripsikan.

***

Baiklah, saya tidak mau berpanjang-panjang lagi dengan pengisahan nikmat ini. Kelak, saya akan sambung lagi dengan ‘note’ untuk mengompori orang terus dan tetap menulis buku. Jadi, 100+ buku adalah mungkin dan nyata; 10+ buku adalah niscaya. Best seller adalah niat, tekad, prestasi, dan reputasi. Feedback positif, apresiasi, dan kebermanfaatan yang diungkapkan pembaca adalah doa dan pahala sebagai tiket masuk surga.

Bagi sahabat penulis yang Muslim, tekadkan berumroh atau naik haji berbasis penulisan-penerbitan buku. Saya sering mengungkapkan mimpi paling rendah dari seorang penulis adalah memiliki laptop. Laptop seharga 7-10 jutaan itu dapat impas hanya dengan 3-4 judul buku. Bagaimana dengan rumah atau mobil, silakan hitung sendiri berapa judul yang harus Anda kejar! 🙂

Terima kasih untuk mau dan tergugah membaca note ini.

Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here