Buku, Buat Aku Menyejarah!

2
489

Ini judul talkshow yang pernah saya populerkan di Bandung pada rentang 2005-2006 di Radio Paramuda FM dan PR FM. Beberapa tokoh penulis yang menyejarah sempat saya undang, seperti Andrea Hirata, Hernowo, dan Tauhid Nur Azhar.

BAM! Bermula dari sebuah konsep talkshow yang juga awalnya dijadikan judul workshop tentang penulisan buku. Bagaimanapun jalan buku adalah jalan niscaya untuk membuat seseorang menyejarah–baik ketika ia masih hidup di dunia fana ini, maupun ketika ia sudah tiada. Betapa banyak bukti bagaimana orang-orang menyejarah dengan buku, termasuk orang-orang di lingkungan peneliti sejarah sendiri. Contohnya, Prof. Ahmad Mansur Suryanegara yang menorehkan karya sejarah besar bertajuk Api Sejarah. Buku dua jilid yang masing-masing setebal lebih dari 500 halaman ini telah dikerjakan belasan tahun dan baru berani diterbitkan pada era reformasi. Ahmad Mansur pun menjadi pribadi yang menyejarah.

Buku sejak zaman dahulu memang menjadi sebuah eksistensi yang tidak saja menyejarah, tetapi juga berbalut gengsi dan terkesan elit (atau intelek). Sayangnya, tidak semua orang mampu menuangkan gagasan atau pemikirannya ke dalam tulisannya. Karena itu, bermunculanlah profesi seperti co-writer (penulis pendamping) atau ghost writer (penulis bayangan).

Ada juga yang mengambil jalan pintas ‘memalukan’ untuk menyejarah yaitu melakukan plagiat terhadap karya tulis orang lain. Hal ini banyak terjadi di institusi pendidikan seperti kampus-kampus ataupun lembaga penelitian. Mahalnya sebuah gagasan dan juga peliknya sebuah kerja penulisan, membuat beberapa orang yang ‘gelap mata’ melakukan tindakan tidak terpuji dengan menjiplak karya orang lain, lalu mengakui sebagai karyanya.

Banyak juga penulis-penulis TOP yang terkena imbas jiplak-menjiplak ini. Terakhir JK Rowling dituduh menjiplak Harry Potter oleh seorang penulis bernama Adrian Jacobs. Adrian menuduh Rowling menyontek bukunya berjudul ‘The Adventures of Willy the Wizard No 1: Livid Land’ untuk karya Rowling yang berjudul ‘Harry Potter and the Goblet of Fire’. Namun, Adrian sudah wafat pada 1997, para cucunyalah yang melakukan penyelidikan dan melayangkan gugatan. Namun, Rowling menyangkal dan ia merasa tidak tahu-menahu karya Adrian Jacobs tersebut.

Di Indonesia kasus-kasus plagiat yang mendera beberapa penulis juga banyak terangkat ke permukaan dan beberapanya memang dapat dibuktikan. Demikian betapa mahalnya ‘menyejarah’ itu dan eksis dengan buku.

Menyejarah Lewat Buku Bukan Mustahil

Tidak ada yang mustahil bicara soal mewujudkan gagasan menjadi buku. Cara paling gampang adalah merekrut seorang co-writer atau ghost writer. Cara kedua adalah benar-benar melakukan pelatihan terus-menerus untuk mampu menulis dan jangan berhenti….

Karunia Tuhan berupa gagasan sungguh tidak terhingga setiap hari–hanya kadang manusia terlewat ‘membaca’ sekelilingnya atau enggan ‘membaca’ pengalamannya sebagai manusia. Misalnya, saat duduk di bawah rindangnya pohon, kita dapat melihat kehidupan para semut yang berjalan beriring dan saling membantu mengumpulkan remah-remah makanan. Bagi seorang yang baik radar idenya, sangat mungkin kehidupan semut itu menjadi sebuah tulisan.

Akses penerbitan juga kini terbuka luas, dari mulai dapat melakukan aktivitas menerbitkan sendiri (self-publishing), atau menggunakan jasa penerbitan subsidi (vanity publishing), atau juga mengirimkannya secara langsung ke penerbit, baik penerbit kecil-menengah (small-medium publisher) maupun penerbit besar sekelas Gramedia.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa semata-mata seseorang itu menulis buku bukan sekadar ingin diterbitkan dan langsung menyejarah. Proses ‘menyejarah’ adalah proses melakukan empati dan meraih simpati pembaca. Karena itu, bagaimanapun gagasan yang diusung harus dapat dipasarkan dengan baik, dikomunikasikan dengan sebanyak mungkin orang, dan kemudian yang paling penting sebagai gizi sebuah buku mengutip istilah Mas Hernowo adalah mampu membuat orang berubah ke arah lebih baik. Itu baru buku yang ‘menyejarah’!

Sebaliknya, andaikan buku dibuat asal ada, asal terbit, dan asal menyebar, belum tentu buku itu memberikan impresi sejarah bagi penulis atau pengarangnya. Bisa jadi buku itu hanya teronggok di rak, judul dan covernya sudah lebih dulu mati gaya, editing isinya amburadul, dan akhirnya orang-orang yang terlanjur membeli pun kecewa, lalu mengumbar sumpah serapah.

Buku Dulu atau Orang Dulu

Bisa jadi orang menyejarah karena buku terlebih dahulu dan bisa jadi pula orang menyejarah karena personal branding yang dibangunnya terlebih dahulu. Kita lihat contoh berikut ini.

Orang-orang yang menyejarah lewat buku terlebih dahulu:

  1. Ary Ginanjar Agustian (ESQ);
  2. Habibburrahman El-Shirazy (Ayat-Ayat Cinta);
  3. Andrea Hirata (Laskar Pelangi);
  4. Erbe Sentanu (Quantum Ikhlas);
  5. Moamar Emka (Jakarta Undercover); dst.

Orang-orang yang menyejarah lewat personal brandingnya terlebih dahulu:

  1. Aa Gym (Aa Gym Apa Adanya; Jagalah Hati);
  2. Rhenald Kasali (Change!; Change Your DNA)
  3. Jalalluddin Rakhmat (Psikologi Komunikasi; Islam Aktual)
  4. Dewi Dee (Supernova; Akar; Perahu Kertas)
  5. Tung Desem Waringin (Financial Revolution; Marketing Revolution)
  6. Inu Kencana Syafi’i (IPDN Undercover);
  7. Antonio Syafi’i (Muhammad saw Superleadar Supermanager); dst.

Deteksi kemenyejarahan ini berbanding lurus dengan buku gampang. Kalau versi pertama kita lihat kejadian bahwa bukunya meledak di pasaran, lalu meminjam istilah Tung Desem memperoleh faktor kali yaitu salah satunya diundangnya penulis untuk membedah buku, memberi pelatihan, dan akhirnya menjadi seorang selebritas juga. Jadi, buku yang mendorong kemenyejarahan seseorang.

Versi kedua, orang tersebut sudah eksis di publik sebagai tokoh dengan branding tertentu, seperti artis, da’i, pakar komunikasi, pakar politik, tokoh kontroversial, wartawan senior, atau misalnya pakar kedirgantaraan seperti Bapak Cheppy Hakim. Kepopuleran mereka mendorong buku hasil karya mereka pun laris jual karena mereka sebelumnya memang sudah punya massa atau konstituen yang fanatik.

Apa pun pilihannya, tetaplah sebuah buku berdaya untuk membuat seseorang atau bahkan sebuah bangsa menyejarah. Sebuah buku harus menjadi pilihan sepanjang masa sebagai buah dari gagasan, pemikiran, dan tindakan maslahat yang diawetkan dari satu generasi untuk generasi lainnya. Karena itu, sangat menyedihkan sebuah bangsa yang tidak mampu meningkatkan jumlah para penulis buku dari satu dasawarsa ke dasawarsa lainnya.

***

Buat aku menyejarah! Maka engkau tulislah sebuah buku dan 100+ buku adalah mungkin. Jangan sia-siakan iqra (membaca) lewat pancaindramu sehingga mengaktifkan sensor radar pikiranmu dan terbetiklah sebuah gagasan brilian untuk umat manusia. Menulis bukulah… buat engkau menyejarah.

:catatan motivasi

Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here