Imajinasi Jinak (untuk Para Penulis dan Para Editor)

0
452

Belum ada penelitian terbaru yang mampu mengungkap cara kerja otak kanan. Demikianlah yang saya baca dari buku “The Mystery of Right Brain” karya Makoto Shichida. Kemampuan otak ini begitu unik seperti raksasa yang sedang tidur nyenyak–sulit terbangun. Lalu, otak ini umumnya terstimulus oleh kekuatan imajinasi. Karena itu, fungsi otak ini dominan berkembang pada bayi, balita, maupun anak-anak yang hidup dalam dunia imaji. Kemudian, kita pun mengenal istilah anak-anak indigo yang memiliki kemampuan di luar nalar orang pada umumnya.

Saya teringat kata-kata ‘nyastra’ soal imajinasi liar. Imajinasi yang melambung menembus batas absurd ataupun yang mengandung kenakalan berkhayal. Sampai kini pun seorang dewasa tetap dianugerahi kemampuan berimajinasi hingga terkadang imajinasi itu pun dapat dibawa ke alam nyata dengan kekuatan bawah sadar. Tapi tidak demikian dengan imajinasi liar, yang kadang menjadi bahan berbahaya untuk dibawa ke dunia nyata.

Salah satu contoh imajinasi liar (menurut saya) adalah membawa Miyabi ke Indonesia untuk membintangi sebuah film. Lucunya orang Indonesia begitu reaktif hingga santri di pelosok pesantren melakukan protes (saya ndak tahu apa mereka memang begitu kenal Miyabi). Gelombang imaji Raditya (penulis Kambing Jantan), sang penggagas boyong Miyabi, tertangkap oleh saya. Sengaja Raditya mengundang sensasi, lalu terkekeh-kekeh begitu rencana film tersebut diributkan seluruh orang di Indonesia ini sebelum jadi. Istri saya yang tidak mengenal Miyabi, jadi pengen tahu artis porno blasteran Jepang-Prancis ini seperti apa. Nah lo!

Berhenti soal Miyabi, soal imajinasi ini juga menghubungkan saya dengan Bang Syam (Syamsuddin Haesy) yang ramai bicara tentang imagineering dalam bukunya “Indigostar”–ilmu mendesain imajinasi agar dapat diwujudkan menjadi visi dan misi konkret. Konon, Disney Corporation sampai perlu merekrut beberapa orang yang tugasnya hanya berimajinasi dan mereka dibayar mahal untuk sekadar berkhayal ria. Kelola imajinasi ini menjadi industri.

Dalam industri kreatif seperti penerbitan, imajinasi menjadi sungguh berarti. Beberapa pertanyaan soal tren, kebutuhan, dan keinginan pembaca pada masa mendatang–diperlukan imajinasi para editor maupun para penulis untuk menangkap hal-hal ‘ghaib’ seperti ini.

Sichida mengumpulkan anak-anak yang dianggap memiliki kemampuan khusus penggunaan otak kanan tersebut. Pelatihan konsentrasi lewat meditasi, pengaturan nafas, dan kemudian membangun imajinasi adalah satu hal yang diajarkan sehingga anak-anak itu pun dapat mengendalikan imajinasinya. Kalau demikian, saya pikir para penulis dan editor pun dapat dilatih bermeditasi, dapat difasilitasi tempat yang kondusif agar mereka bisa berimajinasi, atau bagi yang Muslim dapat meningkatkan aktivitas tahajud pada malam hari dan dhuha pada pagi hari.

Semata-mata memang Tuhan yang menciptakan otak kanan dan bagian dari rahasia-Nya yang belum terpecahkan. Dan semata-mata ilham super yang merupakan embrio imajinasi juga dijentikkan oleh-Nya kepada orang-orang yang Dia kehendaki.

Mereka yang menguasai dirinya berarti mampu menguasai otaknya. Dan mereka yang menguasai otaknya mampu mengembangkan imajinasi yang jinak, bukan yang liar tak terkendali. Imajinasi jinak ini adalah imajinasi yang membumi dengan menyadari apa yang disebut dalam imagineering sebagai focal concern (sentra kepedulian) hingga kemudian juga dapat menetapkan driving force (kekuatan pengendali).

Seorang editor dan seorang penulis dapat mulai menetapkan focal concern serta driving force-nya. Lalu, mulailah mengontruksi sebuah imajinasi, misalnya imajinasi bahwa Indonesia akan memunculkan tokoh sekelas Princess ala Disney dengan menciptakan putri-putri jelita berkarakter asli Indonesia. Mungkin seorang putri dilahirkan dengan nama Putri Batik yang lahir dari kerajaan di pegunungan dan dilengkapi senjata bertuah bernama canting.

Aha imajinasi memang luar biasa. Imajinasi bisa merupakan anugerah atau juga upaya membangunkan ‘raksasa tidur nyenyak’ dalam diri kita yang di sebelah kanan. Makanya biasakan memulai sesuatu dengan tangan kanan, pakai arloji di tangan kanan, menggerakkan mouse dengan tangan kanan, hm.. sory malah jadi menyimpang. Intinya: jangan main-main dengan imajinasimu. Terima kasih.

:catatan kreativitas Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here