Pendekar Editor!

0
533

Dalam beberapa hari ini, saya memang larut dengan karya Seno Gumira Adjidarma berjudul Nagabumi–sebuah karya tidak biasa dari seorang Seno. Kisah kelelahan dan gejala radang di tenggorokan memaksa saya untuk berada di tempat tidur dan menghabiskan masa dengan ‘mengedit-baca’ novel Nagabumi. Itulah novel silat yang tebalnya luar biasa lebih dari 700 halaman yang mengambil latar tanah Jawa pada masa kekuasaan raja-raja Hindu dan Budha. Adalah Pendekar Tanpa Nama dengan jurus digjaya yaitu jurus Tanpa Bentuk sehingga cerita silat ini mengalir lugas seperti sebuah biografi yang hidup dan mengandung pula filosofi baca-tulis sebagai satu puncak kesadaran yang membuat sang pendekar digjaya tanpa tanding.

Saya mengikuti cermat novel ini dan coba menggunakan insting editor saya untuk menemukan kekeliruan. Nyaris editing buku ini begitu luar biasa yang saya kira juga karena kepiawaian Seno mengolah kata tanpa salah. Seno dengan khas menggunakan kata ‘tak’ yang merupakan singkatan dari ‘tidak’ menyatu pada kata yang mendahuluinya, seperti ‘takgentar’ atau ‘takterperikan’. Penulisan ‘tak’ bersatu dengan kata yang mendahuluinya ini memang sudah dimafhumi oleh para linguis di jurusan sastra Indonesia Unpad karena ‘tak’ dianggap tidak dapat berdiri sendiri seperti juga ‘ku’ dan ‘kau’.

Saya memang tidak ingin membahas novel Seno tersebut. Namun, perlambang novel ini saya gunakan justru untuk menggambarkan dunia editor yang ada di jagat persilatan-perbukuan. Secara berseloroh di depan mahasiswa Polimedia saya menyebutkan bahwa editor pun ada dalam tiga golongan: editor golongan putih, editor golongan hitam, dan editor golongan merdeka.

Sang editor golongan putih memilih kebajikan dalam upaya menyunting naskah dengan mempertimbangkan sangat naskah apa yang mereka sunting dan menghormati sangat siapa yang menulis naskah tersebut. Mereka menjaga betul kode etik penyuntingan, termasuk menjaga diri dari tindak plagiat dan memusuhi siapa pun yang melakukannya.

Sang editor golongan hitam adalah mereka yang memilih jalan kelicikan dalam menyunting atau dengan kata lain terkadang menistakan kebenaran. Mereka bahkan senang mencuri gagasan dari seorang penulis/pengarang untuk kemudian menolak naskah dari penulis/pengarang tersebut, lalu membuat naskah yang sama dengan lebih baik. Editor golongan hitam senang menyembunyikan kebenaran dari para penulis/pengarang.

Sang editor golongan merdeka adalah mereka yang mengambil jalan bebas atau lebih senang bekerja sebagai freelancer. Mereka sangat terlatih dalam menyunting. Namun, bayaran terkadang membuat mereka menerima suntingan apakah itu naskah yang baik/maslahat maupun naskah yang kurang menimbulkan kebaikan atau mudharat. Mereka bekerja dengan kebebasannya tanpa memihak. Namun, terkadang mereka juga membenci para editor golongan hitam.

Dalam jagat persilatan-perbukuan ini memang ada orang-orang awam yaitu pembaca dan juga para ‘penguasa’ yang saya gambarkan sebagai penerbit. Terkadang memang muncul bau kepentingan, persaingan, maupun sindikasi dalam memperebutkan pengaruh di jagat persilatan-perbukuan. Kadang-kadang para penguasa ini bersama dengan para ahli sastra (penulis/pengarang) juga memperebutkan pengaruh lewat sayembara-sayembara, baik nasional maupun internasional untuk membuktikan siapa yang paling digjaya. Untuk itu, mereka pun perlu menyewa atau bersekutu dengan para editor.

Editor memang pendekar Tanpa Nama itu karena namanya cuma ada di sebalik halaman judul buku, bertumpuk dengan pernyataan hak cipta. Editor adalah tokoh di belakang layar dengan senjatanya ‘pedang pena’ berwarna menyala dan dia berhak untuk memotong setiap naskah atau malah memperpanjangnya. Terkadang editor juga menggunakan senjata rahasia takkasat mata yaitu intuisinya yang diasah melalui puncak kesadaran penggunaan pancaindra.

Mata editor selalu awas melihat kesalahan yang berkelebat meskipun hanya dalam hitungan detik. Pendengaran editor juga kadang dapat dikuasai dengan membuka atau menutup pendengarannya manakala ia tengah khusyuk mengedit di dalam keramaian. Gerak editor juga lincah ketika menguasai ilmu mengetik sepuluh jari di atas tuts komputer, meraih tumpukan referensi, ataupun bergerak taktis menggunakan ilmu meringankan otak–karena terkadang pikirannya lebih cepat dari gerakan lawan manapun.

Seperti halnya jagat persilatan maka editor pun memiliki kitab sakti rujukan–kitab itu dapat berupa kamus, tesaurus, ataupun ensiklopedia. Kitab itu dipelajarinya dengan saksama dan kunci-kunci rahasia untuk menguasai kitab itu didapatkannya dengan mengeja kata demi kata. Dari kitab itulah dia kemudian dapat mengembangkan berbagai variasi jurus yang menjadi ciri khasnya. Jurus-jurus itu dia rangkum dengan apa yang disebut ‘gaya selingkung’ dan karena khidmatnya terkadang kitab itu diserahkan kepada para penguasa penerbit sebagai bukti baktinya.

Editor pada dasarnya juga seorang pendekar yang selalu ingin digjaya. Ia mencari lawan dari berbagai arus pemikiran yang berubah menjadi sungai perbukuan. Kalau ia tidak siap dengan ilmu andalan, ia mungkin terhanyut dan ‘perlaya’ oleh buku-buku itu. Sebaliknya, jika ia mau membuka diri, tidak terkungkung oleh ruang dan waktu maka dirinya itu akan menjadi ruang dan pikirannya akan menjadi waktu sehingga membuat ia bebas mengembara ke mana pun tanpa takut. Bahasa adalah senjata mustikanya.

Itulah pendekar editor hingga dalam jagat persilatan-perbukuan ia pun memiliki tingkatan (kasta) dengan ilmu terendah adalah copyediting. Ia dianggap memiliki ilmu tingkat tinggi jika menguasai juga acquisition dan development editing, bahkan makin berkelas jika sudah menguasai desktop publishing (DTP).

Orang sering terkecoh bahwa sang pendekar editor hanya mengandalkan keterampilan bahasa sebagai senjata mustika. Padahal, bahasa adalah pembuka untuk menguasai ilmu-ilmu lain yang membuatnya mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya dalam menerbitkan buku. Itulah olah pikiran, bukan olah raga. Senjata rahasianya adalah kepekaan dan intuisi sebagai mata yang ketiga. Puncaknya hanya dengan sinyal rasa dan penciuman, ia dapat menimbang-nimbang sebuah naskah punya kekuatan atau tidak sama sekali. Bahkan, tanpa mengandalkan pelihatan, ia mampu menemukan titik-titik kelemahan dari sebuah naskah hanya dengan meraba atau gerak cepat membuka halaman-halaman naskah.

Hehehe, rasanya saya ingin menuliskan lebih jauh kisah Pendekar Editor; Tanpa Nama tetapi Harum Karya. Namun, ini memang bukan cerita silat yang dianggap kaum amah sebagai dongeng pengantar tidur. Ini adalah kisah nyata para editor yang di Indonesia masih dianggap kaum kelas menengah tanpa terendus kiprahnya. Ciaat!

:catatan kreativitas

Hak cipta 2010 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here