Pasar Buku yang Turun atau Kue yang Terbagi?

3
396

Diskusi dengan Mas Tony dari Penerbit Aqwam Solo membawa saya pada catatan pagi ini soal menurunnya omzet beberapa penerbit dalam kurun 6 bulan terakhir ini. Awalnya ditengarai karena krisis, tetapi alih-alih menyebut krisis, toh malah ekonomi masyarakat secara umum bergerak normal dan bagaimanapun banyak perusahaan yang membukukan keuntungan berlipat, misalnya di bisnis teknologi informasi. Pada seorang penggiat buku, Mas Burhan Shadiq, sempat saya ungkapkan (meski kemudian chat terputus…) bahwa perkembangan teknologi informasi dan era digital turut mempengaruhi pasar buku Indonesia. Apa pasal? Meskipun banyak orang yang makin senang membaca serta menulis, mereka justru tumbuh pesat masuk dalam dunia digital, seperti kelahiran blog, facebook, twitter, dan juga portal-portal berita cepat saji. Orang lebih senang mengakses langsung dan sejenak ‘melupakan’ buku tercetak. Lalu, kehadiran iPad sebentar lagi paling tidak juga akan berpengaruh terhadap perilaku, misalnya mengoleksi buku. Alih-alih membangun perpustakaan rumah dengan buku tercetak, orang-orang masa kini pun akan merasa simpel dengan menyimpannya di dalam iPad–bayangkan puluhan ribu judul buku!

Turunnya omzet dapat pula disebabkan momentum tertentu, misalnya dari group distributor Agromedia saya sempat mendengar asumsi bahwa momentum UN yang dimajukan pemerintah turut mempengaruhi minat orang membeli buku. Konsentrasi ortu dan para anak atau remaja adalah pada UN sehingga buku-buku yang sifatnya topik sekunder tak dilirik. Baru kemarin Kompas menurunkan hasil survey bahwa minat membaca masyarakat di perkotaan mulai tumbuh signifikan (http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/15495174/Minat.Baca.Buku.Mulai.Tumbuh) dan tetap yang berjaya dicari adalah buku-buku bertema spiritual. Lalu, keluhan paling nyaring justru datang dari penerbit-penerbit spiritual Islam yang mengalami penurunan drastis omzet penjualan sejak kurun 6 bulan terakhir ini. Apa pasal? Benarkah UN mempengaruhi?

Saya cuma memainkan prediksi tentang kue penerbitan yang terbatas karena jumlah orang dengan minat baca tinggi sekaligus memiliki daya beli juga tidak terlampau banyak atau persentasenya kecil dibandingkan 240 juta lebih rakyat Indonesia. Kue terbatas ini makin sesak diperebutkan banyak penerbit, dari mulai penerbit gurem (small publisher), penerbit menengah (medium publisher), dan penerbit besar. Judul buku-buku baru dan penerbit baru makin atraktif nampang di rak-rak toko buku, terkadang satu topik dikerubuti oleh lebih dari 10 judul. Lihat saja dalam ranah spiritual Islam, topik shalat dhuha dikerubuti puluhan penerbit. Lebih umum lagi yang lagi ngetren sekarang topik bisnis ‘bermain’ saham dikerubuti begitu banyak penerbit atau soal ‘otak tengah’.

Saya kurang tahu apakah ada peningkatan signifikan kunjungan ke toko buku semisal Gramedia. Apakah di antara ratusan pengunjung tiap hari memang ada pelanggan setia, artinya yang datang rutin berkali-kali? Berapa persentase pelanggan setia dan pelanggan dadakan? Kalau tidak tumbuh, berarti pertumbuhan judul dan jumlah eksemplar yang masuk ke toko tidak sebanding dengan jumlah calon pembaca.

Ada yang unik hasil survey Kompas bahwa pembaca Indonesia tidak terlalu memedulikan ‘penerbit’ dan ‘penulis’. Nah loh, ini patut menjadi perhatian karena ‘nama besar’ penerbit bukan menjadi jaminan best seller-nya sebuah produk. Penerbit gurem atau penerbit ‘kemarin sore’ tiba-tiba bukunya mampu mencuri perhatian dan naik daun seperti ulat bulu–menggelitik rasa ingin tahu. Penulis pun setali tiga uang. Apa pernah pembaca Indonesia menelisik para penulis yang menyusun buku tentang bisnis rumahan atau bisnis dengan modal di bawah 2 jutaan?–selidik punya selidik terkadang penulisnya sendiri pun tidak punya bisnis! Apalagi buku-buku bertema bagaimana mendapatkan kekayaan dengan berbagai cara, selidik punya selidik lha penulisnya belum kaya. Jadi, sekarang memang lahir para penulis instan yang juga ditumbuhkan oleh dunia digital.

Mari kita simak beberapa buku fast book instan tersebut, terbanyak daftar pustakanya berasal dari blog. Celakanya sumber sekunder yang digunakan ini, misalnya dari blog, adalah hasil pengutipan dan pengutipan dari sumber utamanya. Adapun sang penulis instan tadi enggan melakukan cek serta ricek sumber aslinya. Saya pernah mendapatkan sebuah naskah tentang editing yang isinya hampir semua tulisan saya dan ketika saya melihat daftar pustaka, yang dirujuk adalah blog orang lain sebagai sumber yang dituliskan. Lha, saya penciptanya gak disebut-sebut. Hehehe.

Jadi, pergerakan ‘minat menulis’ dan lahirnya penulis-penulis baru memang makin menggila karena begitu mudahnya orang mendefinisikan buku yang nyaris sebagian besar terbit tanpa ‘kedalaman’ dan ‘keseriusan’ menggarapnya, baik dengan riset maupun penelusuran sumber yang valid. Karena itu, tumbuh pula judul-judul buku yang penuh dengan topik dan tema saling bertubrukan serta desain yang memang semakin baik sehingga butuh keterampilan untuk ‘memilih’ dan ‘memilah’ buku mana yang paling tepat untuk para pembaca. Apakah banyak pembaca yang kecele? Setahu saya memang banyak yang demikian karena tertipu judul atau penampilan luar sebuah buku.

Kue pasar buku umum tidak tumbuh signifikan tampaknya, sedangkan penerbit, penulis, dan produksi judul terus tumbuh berangsur-angsur. Regulasi pemerintah yang menelikung bisnis buku teks di sekolah-sekolah, membuat beberapa penerbit buku teks sekolah mendapat ide memutar haluan ke bisnis penerbitan buku umum. Hal ini mendorong antrean kue yang makin sesak, apalagi sebagian besar penerbit buku teks itu bermodal kuat. Di sisi lain, banyak pula percetakan yang seperti mendapat katarsis untuk sekaligus menerbitkan buku biar mesin-mesinnya ‘punya makanan’ juga. Alhasil, kini bos percetakan pun mencari para penggiat penerbitan ataupun penulis untuk direkrut guna mendirikan penerbit.

Jadi, zaman sekarang semakin mudah menerbitkan buku sekaligus semakin mudah menulis buku. Lalu, seorang teman membisikkan, “Gak apa-apa Pak Bambang, pasti ada yang namanya seleksi alam.” Betul, lambat laun penerbit dan penulis yang memang tidak punya passion dan skill sebenarnya dari penerbitan pasti tak berumur panjang. Namun, geliat industri saat ini dengan persaingannya dan kemajuan teknologi informasi sungguh memanjakan banyak orang untuk masuk pada industri yang terbilang elite di Amerika maupun Eropa ini.

Alhasil, memang para penggiat buku, khususnya penerbit di Indonesia selalu ditantang untuk berpikir kreatif, bukan soal produksi, tetapi juga soal pasar buku. Edukasi masyarakat adalah penting sehingga penerbit jangan hanya fokus pada bagaimana menjual sebanyak-banyaknya tanpa melakukan kontak langsung dengan pembaca maupun calon pembaca lewat community development maupun mengembangkan apa yang disebut duta-duta buku (ambasador buku) itu sendiri. Perlu ada sinergi antarpenerbit alih-alih mempertajam persaingan. Boleh jadi terdapat 1.001 ide sinergi yang dapat menumbuhkan minat baca sekaligus minat membeli secara signifikan kepada anak-anak, remaja, ibu-ibu, eksekutif muda, dan juga akademisi. Fokus kita bersama adalah memperbesar kue meskipun antrean penerbit makin panjang atau juga menyasar niche market yang mungkin masih sepi antrean. Sekali lagi, masih perlu kajian lebih mendalam–padahal kita sering tidak suka dengan yang dalam-dalam. 🙂

:catatan perbukuan
Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. Saya cuma mau menambahkan, saat ini terjadi pergeseran pola hidup masyarakat. Peranan buku cetak sedikit demi sedikit diganti oleh ebook (electronic book). Apalagi di internet tersedia banyak ebook gratisan. masyarakat pilih praktisnya.

    • Betul Pak, tapi memang belum berlangsung massal karena buku konvensional masih sulit tergantikan oleh buku digital. Buku digital dengan formatnya memang tidak untuk enjoy reading (dinikmati baca), tetapi polanya justru lebih ke referensi. Mungkin dg adanya i-Pad atau e-book reader lainnya, para akademisi lebih senang menentengnya karena seperti membawa perpustakaan ke mana-mana. Dan simpanan buku itu mereka gunakan untuk menulis, menyiapkan bahan ajar, melakukan penelitian, dan sebagainya. E-book gratisan juga umumnya buku-buku yang sudah public domain (sudah habis masa hak ciptanya). Adapun buku baru umumnya dari kalangan sendiri dan terkadang kurang terukur kualitasnya. Jadi, tidak seperti koran yang ‘mati’ karena ada koran elektronik, buku konvensional masih berjaya dengan terbukti masih besarnya omzet penjualan buku-buku ini dibandingkan versi e-book-nya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here