[Writing Like a Ghost]

5
412

Tulisan ini merupakan pembaruan dari tulisan sebelumnya mengenai ghost writer dan disampaikan dalam OBSESI Ghost Writer pada 19 Juni 2010. Pertemuan OBSESI menjadi cikal bakal terbentuknya komunitas Ghost Writer Indonesia.

Sebuah OBSESI (OBrolan SEru beriSI)

Dipersiapkan oleh Bambang Trim

APAKAH benar-benar ada yang disebut hantu dalam jagat penulisan? Ya benar, hantu itu sering disebut ghost writer–para penulis profesional yang bergentayangan di dunia tulis- menulis. Para ghost writer ini benar-benar paham bahwa menulis bukan lagi pekerjaan, melainkan sebuah bisnis yang dapat mereka kembangkan.

Apa itu ghost writer? Saya kutipkan saja defenisi dari wikipedia berikut ini.

(A ghostwriter is a professional writer who is paid to write books, articles, stories, reports, or other content which are officially credited to another person. Celebrities, executives, and political leaders often hire ghostwriters to draft or edit autobiographies, magazine articles, or other written material. In music, ghostwriters are used in classical music, film score composition, and popular music such as top 40, country, and hip-hop. The ghostwriter is sometimes acknowledged by the author or publisher for his or her writing services.)

[Penulis bayangan adalah penulis profesional yang dibayar untuk menulis buku, artikel, cerita, laporan, atau konten lainnya yang secara resmi dialihnamakan kepada orang lain. Selebritas, eksekutif, dan para pemimpin politik sering menyewa ghost writers untuk menyusun draft atau mengedit autobiografi, artikel majalah, atau bahan tertulis lainnya. Dalam dunia musik, ghost writers digunakan dalam musik klasik, komposisi film, dan musik populer seperti Top 40, musik country, dan hip-hop. Penulis bayangan ini kadang-kadang diapresiasi oleh pengarang atau penerbit untuk jasa-nya menulis.]

***

Penulis bayangan (demikian padanannya menurut saya, bukan penulis hantu) adalah seorang penulis profesional. Artinya, dia memang sudah malang melintang di dunia kepenulisan sebelumnya dan bukan seorang penulis pemula. Ada yang spesialis pada bidang tertentu dan ada pula yang cenderung generalis—mampu menulis jenis tulisan apa pun dan dalam bidang apa pun.

Mereka dibayar atau diberi kompensasi untuk menuliskan sesuatu dengan langsung menyerahkan hak cipta (termasuk hak ekonomi dan hak moral penulisan) kepada si pemesan. Dengan demikian, urusan eksploitasi naskah tersebut menjadi produk bisnis dan nama pencipta yang dicantumkan sudah menjadi hak si pemesan.

Coba kita lihat proses penulisan standar berikut ini:

1) Prewriting; 2) Drafting; 3) Revising; 4) Editing; 5) Publishing.

Lima proses standar dalam menulis ini benar-benar memerlukan keterampilan khusus yang tentunya dimiliki para penulis dengan jam terbang tinggi. Lima proses ini dapat diterapkan dalam jenis tulisan FIKSI, NONFIKSI, maupun FAKSI. Kadang mungkin seseorang merekrut ghost writer hanya untuk melakukan drafting dan revising atau mungkin hanya editing.

Ghost writer memang sebatas dibayar dengan tarif tertentu untuk menuliskan naskah dan dia memang pada umumnya tidak disebut-sebut sebagai penulis naskah itu atau namanya tidak tercantum di cover buku ataupun sebagai pencipta naskah. Pada beberapa kasus, namanya disebut dengan ungkapan “with …” (Diana Putri dengan Bambang Trim) ataupun “as told to …” (Seperti yang Diungkapkan kepada Bambang Trim). Ada lagi yang namanya disebut dalam halaman ucapan terima kasih (acknowledgement), ada yang disebut sebagai kontributor ataupun asisten periset.

Pekerjaan yang biasa diberikan kepada seorang ghost writer adalah menulis naskah, sekaligus terkadang juga menyunting naskah seperti yang disebutkan sebelumnya. Untuk kerja profesional ini, ia pun harus mampu bekerja layaknya seorang jurnalis dan periset. Beberapa naskah memang membutuhkan aktivitas wawancara dan riset yang intensif. Terkadang seorang ghost writer hanya menerima draft naskah mentah dari seorang penulis dan tugas beratnya adalah mewujudkan draft tersebut menjadi naskah yang sempurna (revising).

Ghost writer tidak sama dengan co-writer ataupun co-author. Co-writer adalah penulis pendamping (profesional juga) yang biasa diajak oleh seseorang untuk menulis buku bersama-sama. Misalnya, Jack Canfield mengajak Mark Victor Hansen untuk menulis buku Chicken Soup. Alasannya, Jack Canfield bukan seorang penulis, melainkan seorang trainer dan penggagas saja. Nama co-writer sebagai penulis jelas dicantumkan dan biasanya menjadi nama kedua setelah penggagas (author).

Ada beberapa kompetensi penting yang perlu dimiliki seorang ghost writer (menurut saya) :

1) kemampuan berbahasa yang baik dan benar, termasuk menguasai ejaan dan tanda baca standar; 2) keterampilan dan kecepatan menulis di atas rata-rata; 3) kemampuan jurnalistik, terutama wawancara; 4) kemampuan berkomunikasi dengan semua kalangan; 5) kemampuan dan keterampilan editing; 6) wawasan kepenulisan dan dunia penerbitan; 7) kemampuan menggunakan teknologi tinggi; 8) wawasan keilmuan bidang spesifik.

Ghost writer dapat bekerja secara mandiri (one man show) ataupun bergabung di dalam lembaga jasa alihdaya penerbitan (publishing service) . Tentu setiap pilihan ada untung dan ruginya. Jikalau memilih bekerja sendiri, paling tidak harus disiapkan peralatan berbasis teknologi tinggi, seperti laptop untuk mobile, mobile modem untuk akses internet, mobile phone (diupayakan smart phone seperti communicator atau blackberry), tape recorder atau yang lebih canggih digital recorder, kamera digital minimal 8 megapixel, dan tentunya PC di rumah serta buku-buku referensi. Namun, bekerja sendiri tentu lebih mengundang kepuasan, termasuk dalam soal penghasilan. Adapun bekerja bersama lembaga, tentu segala sesuatu seperti peralatan sudah disediakan. Namun, dari sisi penghasilan hanya mendapatkan gaji, plus bonus bagi hasil.

Selisik Tarif

Adakah standar tarif seorang ghost writer? Mari kita lihat dulu basis penentuan tarif penulisan seperti yang berlaku di dunia kepenulisan.

1) Tarif dibayarkan per kata (biasanya untuk tulisan ringan atau sedikit halaman, seperti artikel, feature, dan resensi). Tarif per kata di luar negeri bisa mencapai $4 per kata. Wah, mahal sekali! Di Indonesia, tarif per kata bisa kita sebutkan Rp200 per kata. Jika asumsi dalam satu halaman A4 (1,5 spasi) ada 300 kata, berarti Rp60.000 per halaman yang bisa disebut tarif terendah.

Adapun tarif untuk editing Rp30 per kata dengan asumsi Rp9.000 per halaman untuk tarif terendah. Untuk seorang profesional, tarif editing bisa mencapai Rp30.000 per halaman.

2) Tarif dibayarkan per halaman biasanya untuk penulisan buku yang memang tebal dan memerlukan riset. Lembaga jasa alihdaya (outsource) penerbitan di India memberlakukan tarif $12-$18 per halaman atau dengan kurs saat ini (rata-rata Rp9.100) bisa mencapai Rp163.800 per halaman. Hmm… lumayan banget karena menulis 10 halaman saja sudah melebihi UMK di Cimahi (tempat saya bermukim), padahal jasa alihdaya di India ini termasuk sangat murah (bisa hemat 50% dari jasa sejenis di Eropa-Amerika) . Untuk Indonesia, tarif per halaman ini bervariasi minimal di Rp50.000 per halaman dan ada juga pada buku-buku tertentu tarif seorang GW berharga Rp500.000 per halaman.

3) Tarif kombinasi dalam hal ini seorang ghost writer mendapatkan advance fee (uang muka) dengan jumlah tertentu dan selanjutnya mendapatkan bagian royalti antara 2%-3% dari total royalti misalnya 10% (royalti nett dihitung dari harga buku di pasar).

4) Tarif total yaitu tarif yang ditetapkan langsung per proyek atau per buku. Seorang ghost writer di Eropa-Amerika dibayar flat per buku antara $12.000-$28. 000. Di Kanada ditetapkan flat fee minimum untuk ghost writing yaitu $25.000 (sekitar Rp227.500.000) untuk buku dengan tebal 200-300 halaman. Biaya flat fee minimum ini di luar biaya riset yang dikategorikan extra charge. Di Jerman, seorang ghost writer untuk penulisan kategori confidential ditetapkan dengan bayaran $100 per halaman. Di India, tarif per buku lebih murah lagi antara $3.000-$5.000 (sekitar Rp27 juta-Rp45,5 juta) untuk buku dengan ketebalan 200 halaman. Koran The New York Times membayar ghost writer untuk buku biografi Hillary Clinton hingga angka $500.000! Di Indonesia, masih banyak penerbit yang menetapkan tarif flat fee untuk naskah dengan ketebalan 80-120 halaman sebesar harga bandrol Rp3 jutaan-Rp5 jutaan. Bahkan, Depdiknas lewat program BSE-nya membandrol harga buku dengan sistem flat fee untuk penguasaan hak cipta selama 10-15 tahun sebesar Rp40 juta-Rp100 juta. Jumlah ini dikatakan sangat layak membantu kehidupan para penulis, tetapi jika Anda bandingkan tarif di luar negeri sangat kurang layak menurut saya untuk sebuah buku pelajaran yang digunakan oleh jutaan siswa di Indonesia dan ditetapkan sebagai public domain.

Selisik Aturan Kerja

Pengguna jasa ghost writer ini banyak sekali, termasuk di Indonesia. Banyak orang yang ingin mencurahkan pemikiran atau gagasannya ke dalam tulisan, tetapi tidak mampu. Karena itu, orang-orang seperti ini cenderung akan menggunakan jasa ghost writer. Di samping itu, memang ada kepentingan tertentu buat mereka, misalnya sebagai penguat brand image, eksistensi, kredit poin untuk naik pangkat, atau untuk mendorong karier.

Yusril Ihza Mahendra pernah populer sebagai seorang ghost writer pidato untuk Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Megawati, bahkan juga Presiden SBY. Dulu kita mengenal almarhum Ramadhan KH sebagai spesialis penulis buku biografi para pejabat. Saya kira pun kini banyak ghost writer yang bergentayangan di Indonesia ini, termasuk saya sendiri.

Ghost writer harus memahami aturan dan kode etik sebagai penulis. Dalam hal ini ghost writer hendaknya mengikat perjanjian tertulis dengan klien ataupun paling tidak mendapat surat perintah kerja (SPK) resmi dari klien. Dalam hal ini patut dipahami perbedaan pekerjaan menulis dan menyunting dan pekerjaan meriset. Anda sebagai ghost writer bisa menetapkan tarif khusus untuk tulisan, sedangkan meriset menjadi extra charge atau ditanggung pembiayaannya oleh klien di luar penulisan, seperti akomodasi, transportasi, maupun pembelian buku- buku referensi.

Hal utama yang harus dijaga oleh seorang ghost writer adalah kerahasiaan content buku ataupun kerahasiaan klien apabila diminta. Ghost writer tidak boleh sembarangan mengumbar pekerjaannya kepada publik secara detail. Hal ini biasanya diungkapkan di dalam perjanjian.

Setelah menerima permintaan klien, ghost writer perlu membuat proposal penulisan buku dengan mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan, riset yang akan dilakukan, serta penawaran tarif sesuai dengan basis yang diinginkan. Jaminan yang dipertaruhkan adalah jaminan kualitas, content yang akurat, serta ketepatan deadline—kadang-kadang ada pula pertaruhan risiko keselamatan bagi seorang ghost writer. Kendala utama ghost writer biasanya kendala waktu untuk mengejar deadline karena terkadang harus menyesuaikan waktu dengan narasumber ataupun klien.

Ghost writer juga harus mempertimbangkan apakah dirinya sanggup menulis di bidang yang memang bukan bidang keahliannya. Sikap profesional perlu ditunjukkan termasuk kejujuran apabila memang tidak mampu.

Jejak Pengalaman Saya

Saya menjadi ghost writer tidak pernah disengaja. Awalnya memang terdorong dari kemampuan menulis yang sudah saya miliki. Di perusahaan tempat saya bekerja, saya dilanggan untuk menulis berbagai macam dokumen, dari mulai surat dinas, proposal, makalah, teks iklan, hingga pidato untuk atasan saya. Semua saya kerjakan dengan senang hati. Lalu, order tulisan pun mengalir ke bentuk lain, seperti puisi ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat lebaran, hingga termasuk surat pengunduran diri dan surat minta naik gaji (he-he-he). Secara tidak langsung, order tulisan ini meskipun saat itu baru dibayar dengan sebatang coklat ataupun ditraktir makan siang, sangat membantu mengasah kemampuan saya menulis berbagai hal–menjadi seorang generalis.

Di Penerbit Rosda, tempat awal saya berkarier, saya mulai membantu merancang berbagai teks iklan buku. Alhasil, saya pun menjadi seorang copy writer. Selain itu, saya mulai banyak menulis artikel, feature, dan resensi untuk beberapa media massa.

Saya lalu membantu kakak saya yang kebetulan pemusik untuk membuat syair lagu. Satu syair lagu saya buat untuk Dimensi Band. Lalu, saya pun membuat beberapa syair untuk jingle iklan dan mars perusahaan. Untuk hal ini, saya baru dibayar ratusan ribu rupiah.

Di MQS, saya menjadi ghost writer untuk sebagian buku-buku karya Aa Gym. Saya mulai menimbang-nimbang menjadi profesional dalam dunia tulis-menulis untuk membantu beberapa orang tokoh.

Saya pernah menjadi ghost writer untuk buku yang ditulis oleh seorang dokter militer tentang manajemen rumah sakit—jejak pengalaman beliau memimpin rumah sakit besar di Jakarta. Buku ini memberi kesan tersendiri bagi saya karena saat buku ini terbit, saat itu pula terakhir sang dokter tersenyum. Operasi jantung beliau gagal sehingga buku tersebut mengiringi kepergiannya menghadap Sang Khalik.

Kini saya tengah mengerjakan beberapa proyek buku pesanan dengan posisi sebagai ghost writer. Ada juga satu proyek editing buku spiritual. Jumlah ini belum termasuk buku pesanan dengan posisi saya sebagai penulis murni.

Berapa tarif saya? Saya menetapkan tarif tertinggi untuk satu halaman (saya mengambil basis halaman) dalam range  Rp250.000-Rp500.000 per halaman bergantung pada tingkat kesulitannya. Lalu, ada juga tarif di bawah angka tersebut. Tarif terendah yang saya tetapkan untuk buku adalah Rp50.000 per halaman. Rata-rata ketebalan halaman adalah 160 hingga 250 halaman naskah dengan format A4 dan spasi 1,5. Harga demikian di luar extra charge untuk akomodasi serta transportasi yang menjadi beban klien.

Untuk tarif penyuntingan, saya tetapkan minimum adalah Rp10.000 per halaman dalam kategori copyediting. Namun, untuk editing total (termasuk substantive editing dan pictorial editing) adalah >Rp30.000 per halaman. He-he-he mengutip iklan: harga sewaktu-waktu dapat berubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Prosedur yang saya berlakukan untuk menangani klien adalah: 1) tahap penjajakan yaitu pertemuan untuk menelisik kebutuhan dan harapan klien terhadap naskah yang akan dibuat atau melihat draft naskah; 2) tahap pengajuan proposal dan negosiasi untuk mencapai kesepakatan, baik tarif maupun deadline; 3) tahap penandatanganan perjanjian dan penerimaan SPK; 4) tahap penulisan dengan memberikan rencana penulisan serta draft outline.

Kadang-kadang ada juga proyek sosial yaitu jasa penulisan yang saya berikan kepada beberapa kolega ataupun sahabat tanpa dibayar ataupun dengan biaya minim. Bisa jadi saya mengerjakan juga beberapa buku anak dengan bayaran banderol Rp3 jutaan ataupun makalah dengan bayaran ditraktir makan. Untuk soal ini, bagi saya silaturahim lebih penting daripada tarif secara profesional. Nah, saya kira pun ada ghost writer lain yang lebih berpengalaman dengan tarif lebih besar dari yang saya tetapkan. Alberthiene Endah, misalnya, saya kira tarif beliau lebih bersaing karena spesialis menangani buku- buku para selebritas, seperti Krisdayanti dan almarhum Chrisye meskipun posisi umumnya dia adalah co-writer.

Menjelang Pemilu atau Pemilukada, peran ghost writer tampaknya akan semakin signifikan dan mungkin laris manis. Saya kira para calon pejabat negara itu tidak akan ragu-ragu merogoh kocek puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk sebuah buku bermutu ataupun artikel berbobot di media massa. Begitupun para caleg yang berebut simpati. Tidak pelak sebuah tulisan membuat posisi intelektual mereka akan naik di mata publik.

Anda berminat menjadi ghost writer? Mengapa tidak? Writing is not a job; it’s a business.

Meluruskan Kekeliruan tentang Ghost Writer 

Satu hal yang saya catat sering terjadi dalam dunia kepenulisan di Indonesia adalah kesalahkaprahan. Misalnya, kita kerap tidak dapat membedakan antara penerbit dan percetakan. Banyak yang menganggap penerbit ya juga percetakan, padahal keduanya berbeda secara signifikan. Ada juga yang tidak memahami perbedaan mendasar penulisan kata pengantar (foreword) dan prakata (preface). Dan saya pun menangkap kekeliruan soal memandang profesi ghost writer—kebanyakan orang Indonesia justru tidak tahu ada profesi semacam ini.

Ghost writer dianggap orang yang ‘kepepet’ duit, lalu ‘menjual’ kemampuannya itu dengan cara menciptakan segala jenis tulisan. Nah, hasil tulisannya itulah yang kemudian dijajakan kepada orang yang membutuhkan, lalu orang itu menabalkan namanya sebagai pencipta karya tersebut. Hal ini berbeda karena objek yang dijual langsung adalah real karya tulis yang sudah jadi—sama sekali murni pikiran sang penulis. Padahal, dalam sisi lain yang disebut ghost writer adalah mereka yang direkrut untuk menggunakan keterampilannya menulis sesuatu berdasarkan pemikiran orang lain (author). Jadi, objek yang dijual ghost writer bersifat maya  yaitu keterampilan menulis dan sekaligus konsultasi—belum ada bentuknya.

Tulisan memang kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan, misalnya ada lembaga  yang menyiapkan beberapa list judul skripsi atau tesis yang malah sudah ada isinya, tinggal mengubah nama-nama saja. Ada penulis yang sudah menyiapkan berbagai artikel untuk dijual kepada siapa pun yang memerlukan eksistensi dan angka kredit. Bagi saya, ini adalah penulis-penulis golongan hitam yang (mohon maaf) ‘melacurkan’ keelokannya dalam menulis.

Nah, boleh jadi kita berbeda pandangan soal ini. Namun, sepemahaman saya demikianlah seorang ghost writer menjunjung juga etiket profesi untuk tidak membantu orang-orang yang sebenarnya tidak kredibel menjadi seolah-olah kredibel—atau malah ikut berpartisipasi menciptakan kebohongan kepada publik. Ghost writer murni seorang profesional siap rekrut untuk membantu seorang klien mewujudkan gagasannya ke dalam tulisan.

©2010 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Nice info, pak Bambang. Saya belum pernah dengar ada payung khusus untuk ghostwriter di Indonesia dan nampaknya mereka lebih banyak bekerja individu. Apakah ada organisasi di mana para penulis bisa bergabung dan memperoleh project dari organisasi tersebut? Thx & Salam Kenal.

    Zaynur Ridwan
    Penulis Novel Islami, The Greatest Design (Pemenang Islamic Book Fair Award 2010), novel Novus Ordo Seclorum dan novel The Khilafah.

    • Terima kasih Pak Zaynur. Salam kenal kembali. Saya hadir pas penganugerahan IBF Award 2010. Novelnya hebat. Organisasi GWI ini baru informal dan ngumpul di Group FB bernama Ghost Writer Indonesia.

  2. Terima kasih penjelasannya Pak Bambang. Dalam menjalankan Professi GW pada beberapa project, saya menganut paham “Membantu Client memaparkan Ide, gagasan, pengalaman, dan kiprahnya” So So lah dengan penjelan Bapak ini.

    Jika tak ingin dibilang sesumbar, buku yang saya terbitkan cukup memadai untuk guidance mereka yang ingin menyasar “bisnis” ini.

    Tks Pak, jika ada event terkait mohon INFO-nya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here