Benarkah Menulis Buku Bisa Dilakukan dalam 1 Hari?

5
486

Seperti hendak mengikuti bombastisnya judul-judul buku akhir-akhir ini—yang seolah dapat menyelesaikan persoalan keterampilan dalam 1 hari atau 24 jam—hal itu tampak pula dalam beberapa klaim yang disampaikan penulis. Benarkah seseorang dapat menulis buku dalam 1 hari? Bisa benar, tetapi …. Bisa pula tidak benar karena ….

Mari kita kembali pada sebuah teori bahwa menulis buku, baik itu fiksi, nonfiksi, ataupun faksi tidak dapat lepas dari proses (lihat tulisan saya berjudul “Adaptasi Prinsip Telor Ceplok dalam Menulis”). Proses sistemik standar dalam menulis itu adalah prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Proses yang memakan energi besar untuk menulis buku adalah prewriting dan drafting. Proses inilah yang sebenarnya dapat dilakukan secara fokus dalam 1-2 hari. Jadi, sangat mungkin membuat draft tulisan dalam satu hari.

Eksekusinya menjadi tulisan dapat memakan waktu mingguan, bulanan, bahkan ada yang tahunan. Di dalam eksekusi itu terdapat proses menulis itu sendiri (bab per bab), lalu merevisi serta mengeditnya. Proses terakhir adalah publishing yang secara teori dapat diselesaikan secara normal 45 hari ditambah 15 hari untuk cetak sebagai proses internal penerbitan buku.

Menggagas buku (prewriting dan drafting) memang sangat mungkin dilakukan dalam satu hari. Bagaimana bisa? Saya tidak sekadar berbicara tanpa bukti. Metode ini pada tahap awal saya kembangkan dengan pola 16 halaman sehingga diujicobakan pada training H16H (hanya 16 halaman) pada 2006 dengan menggunakan asumsi halaman buku berkelipatan 8 dan 16. Lalu, metode tersebut saya sempurnakan menjadi H24H.

Peserta training diberi dahulu materi teori penulisan buku (nonfiksi), lalu dikenalkan dengan anatomi buku dan yang paling penting adalah pola-pola outline penulisan buku nonfiksi (ada empat pola: butiran, tahapan, aliran, tanya-jawab). Eksekusinya dilakukan pada malam hari setelah peserta beristirahat sejenak ‘mendinginkan’ pikiran. Hasilnya, 99% peserta dapat  mengeksekusi ide menjadi draft outline, lalu keesokan harinya dapat menyelesaikan satu bab buku dan mempresentasikannya dengan sangat percaya diri.

Bahasa bombastisnya kita memang dapat menyebut ‘menulis buku itu mudah dan gampang, kok’ dan ‘menulis buku itu dapat dilakukan dalam satu hari’. Dan memang tidak selesai sampai di situ sebelum kita membuktikannya.

Yang Paling Mungkin

Apa itu buku? Menurut UNESCO, buku itu adalah lembaran bertulisan dan berjilid dengan tebal minimal 48 halaman. Artinya, kita dapat menyebut karya itu sebuah buku kalau tebalnya minimal 48 halaman (kelipatan 8 atau 16). Namun, definisi ini tidak berlaku untuk buku-buku kategori buku anak, apalagi picture book. Picture book sering mengambil pola 8, 16, 24, hingga paling tebal 32 halaman. Ketika seorang penulis buku anak bergambar sudah mendapatkan ide dan menggagasnya secara cepat, ia pun dapat mengeksekusi tulisan (baik fiksi maupun nonfiksi) hanya dalam tempo kurang dari 2 jam per buku.

Jadi, klaim menulis buku dalam satu hari memang benar adanya kalau yang dimaksud adalah  buku anak (fiksi maupun nonfiksi) dengan pola halaman 8-16-24-32 meski tidak semua penulis mampu melakukan dengan kecepatan seperti itu—tetap dibutuhkan pelatihan dan jam terbang. Nah, Anda akan melihat seorang penulis buku anak produktif sangat mudah menghasilkan uang dalam hitungan jam. Buku anak bergambar itu dapat berharga paling rendah Rp500 ribu untuk 16-24 halaman dan berharga paling tinggi Rp2-Rp3 juta untuk satu buku (hanya naskah, tidak termasuk layout dan gambar).

Bayangkan kalau dalam satu hari Anda mampu mengeksekusi ide menjadi tulisan menjadi 2-3 judul buku. Eksekusi makin mudah ketika buku anak bergambar yang dibuat termasuk kategori buku serial—tinggal melanjutkan. Sebagai catatan, buku anak bergambar hanya memuat teks ¼ dengan 1-2 paragraf, sisanya dengan porsi paling besar adalah gambar.

Bagaimana dengan buku nonfiksi atau fiksi yang lebih rumit untuk pembaca sasaran remaja atau dewasa. Sangatlah naïf kita dapat menyelesaikan utuh satu naskah meski bertebal 48 halaman hanya dalam satu hari—kecuali tentunya kita mau mengejar Rekor MURI sebagai penulis buku tercepat. Paling cepat sebuah penulisan dapat dikerjakan 3 hari atau 1 minggu dalam hitungan saya untuk naskah di bawah 100 halaman. Ingat, bahwa praktik prewriting dan drafting dapat memakan energy kita menuliis 1-2 hari. Barulah kemudian kita melanjutkan dengan writing, termasuk revising dan editing dalam beberapa hari ke depan. Itu pun jika kita berkomitmen menetapkan deadline ataupun komitmen mencicil tulisan per hari. Sebagai contoh, Tom Clancy secara disiplin menulis 10 halaman per hari sehingga mampu menyelesaikan novel 300 halaman dalam 1 bulan.

Pengalaman Terbaru dengan Tim Dosen FSR IKJ

Pengalaman terbaru saya adalah pada 20-21 Oktober 2010 bersama tim dosen dari Fakultas Seni Rupa IKJ. Sebanyak 27 dosen bersiap menggagas buku ajar dan buku teks. Buku ajar didefinisikan sebagai buku yang mengacu pada kurikulum/silabus dan digunakan sebagai sarana pembelajaran di kelas. Adapun buku teks didefinisikan buku yang mengacu pada suatu bidang tertentu sebagai pendalaman atau pengayaan—digunakan sebagai buku pendamping buku ajar.

Aplikasi Metode Matriks untuk Menulis

Pendekatan metode yang saya gunakan dalam 2 hari membuat para dosen itu mau dan mampu menulis adalah metode matriks untuk buku nonfiksi. Kali pertama adalah mengenalkan metode standar prewriting-drafting-revising-editing-publishing. Lalu, pengenalan anatomi buku serta model outline. Dari situ baru kemudian para dosen dibimbing membuat brief for publishing dan matriks outline. Hasilnya dalam satu malam, matriks dapat diselesaikan dan keesokan harinya beberapa dosen mampu menyelesaikan satu bab contoh yang dapat mereka pilih dari sekian bab. Tindak lanjutnya sudah sangat mungkin ketika matriks sudah terpetakan dan deadline sudah ditetapkan.

Di sinilah saya mementingkan training dengan pendampingan. Dibantu rekan saya, Arul Khan, kami melakukan pendampingan satu per satu peserta dan harus menstimulus mereka dengan diskusi maupun pertanyaan. Lalu, selanjutnya yang paling penting adalah kesiapan trainer memberikan pendampingan kapan saja untuk memulai proses revising dan editing. Pada pagi saat hari kedua, saya sempat menyisipkan materi mechanical editing khusus bahasa. Namun, penggunaan bahasa standar tidak terlalu menjadi fokus pelatihan mengingat para dosen harus dibiasakan dulu menulis secara bebas (free writing) dengan bahasa yang mereka biasa gunakan.

Saya benar-benar surprise dengan semangat para dosen tadi dan ilmu-ilmu luar biasa yang mereka miliki. Dengan semangat, mereka mampu mempresentasikan rencana outline bukunya (dalam bentuk matriks tentunya), lengkap dengan uraian pembaca sasaran, keunggulan naskah, serta life time period dari naskah tersebut. Maka tinggal komitmen eksekusi menjadi naskah yang benar-benar dan di sinilah tetap diperlukan pendampingan.

Antara Author, Co-Writer, dan Ghost Writer

Seorang peserta dari IKJ adalah Pak Subarkah yang dikenal sebagai pakar make-up artis. Beliau punya potensi gagasan luar biasa untuk buku tentang art of make-up. Setelah mendapat pembekalan menulis, beliau memosisikan dirinya sebagai author yang memang memiliki keterbatasan untuk dapat menulis. Meskipun demikian, beliau telah berhasil membuat matriks outline untuk buku teks secara lengkap.

Beliau memang akhirnya  membutuhkan pendampingan seorang co-writer ataupun ghost writer. Namun, beliau dapat memosisikan dirinya sebagai author karena dibantu untuk mengeluarkan segenap gagasannya yang tersimpan di benak. Demikianlah sebelum seseorang diberi tahu bahwa ada fungsi co-writer dan ghost writer yang dapat membantu mereka, mereka pun dibekali orientasi sebagai author yaitu orang yang memiliki autoritas terhadap gagasan milik mereka.

Pada prinsipnya seorang co-writer atau ghost writer pun harus mampu memosisikan diri mereka secara tepat sehingga mereka ‘bukan sekadar tukang menulis’ tanpa  mampu menstimulus begitu banyak gagasan dari author. Co-writer dan ghost writer semestinya juga mampu memetakan gagasan dalam bentuk matriks, brief for publishing, dan juga tentunya melakukan pekerjaan revisi serta editing.

***

Tulisan ini untuk mengantarkan sebuah ‘rahasia penulisan buku’ secara cepat, sistemik, dan terarah dengan pola-pola yang standar. Para peserta training penulisan pun sebaiknya sudah menyiapkan ‘gagasan’ kasar dalam dirinya, bukan sekadar datang dengan kepala kosong karena kalau demikian, akan sulit sekali mengidentifikasi diri: apakah sebagai author atau sebagai writer. Dan menulis itu bukan bakat, tetapi keterampilan hidup yang memang dapat dilatihkan layaknya ‘berenang’ ataupun ‘naik sepeda’. Kecepatan satu hari menggagas buku juga diperoleh dari proses yang terus-menerus melenturkan saraf-saraf menulis. Semoga sukses dan Anda mampu menetapkan pilihan menjadi author atau writer; atau menjadi kedua-duanya sebagai seorang profesional dalam penulisan.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

Praktisi Perbukuan Indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Makasih atas pelajarannya. Memang matriks mas Bambang saya rasa sangat ampuh untuk seseorang. Tanpa dapat mencurahkan apa yang ada dalam pemikiran kita, akan sulit untuk membuat sebuah tulisan. Semoga matriks ini akan semakin mempercepat penuangan apa yang ku mau.
    Terima kasih

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here