FBF dan Mister Bule, Mentor Saya

0
290

Frankfurt Book Fair (FBF) memang surga bagi penikmat buku, terutama penggiat buku seperti editor. Beruntung saya bisa mengunjungi event perbukuan terbesar di dunia ini kali keempat dan tahun ini negara yang mendapat kehormatan sebagai focal theme adalah Argentina (kapan ya Indonesia?). Satu keberuntungan lagi saya ditemani Mister Bule bernama Erwin Michiels yang telah lama menjadi ekspatriat di TS serta mumpuni dengan pengalaman di berbagai perusahaan percetakan serta penerbitan di berbagai negara. Dia, saya anggap sebagai mentor gratis menemani kunjungan saya ke FBF.

Mister Bule ini usianya sudah kepala 6, tetapi semangatnya membuat saya benar-benar kagum. Mr. Erwin berasal dari Belgia dan menguasai beberapa bahasa, termasuk Jerman serta Belanda. Praktis lima hari di Frankfurt, beliau sudah membuat jadwal pertemuan dari pagi hingga sore hampir tanpa jeda. Baru kali ini saya berkeliling arena FBF dengan full bertemu para penerbit kelas dunia, tak sempat waktu untuk berkeliling kota.

Saya lebih banyak menjadi pendengar yang baik selama meeting sebelum Mister Bule meminta pendapat saya atau ada hal-hal yang memang harus saya tanyakan. Peran sentral memilih buku diberikan kepada saya dan itu memang mengasyikkan. Semua pertemuan efektif kami lakukan hanya dalam tempo 20 menit sambil menikmati suguhan kopi atau jus jeruk yang ditawarkan (tentu saja saya menolak anggur). Setiap perbincangan selalu diselingi dengan canda.

Kadang-kadang saya simak pembicaraan sesama bule antara Mister Bule dan perwakilan penerbit/agen. Saya menunjukkan ketidaksetujuan ketika beliau berkisah tentang mental kebanyakan orang Indonesia: persoalan kerja yang lambat, persoalan suka tidak jujur terhadap perjanjian lisensi, dan lain-lain. Wah… pembunuhan karakter nih, pikir saya. Tapi, ya pembicaraan dipotong dengan bijak mengatakan bahwa tidak semua orang Indonesia demikian. Lalu, dia menunjuk saya sebagai orang Indonesia yang dapat dipercaya. Ada-ada saja.

Apa yang saya pelajari memang efektivitas mereka dalam bekerja, para bule ini. Mereka sigap menawarkan beberapa buku dan menguasai product knowledge dengan baik. Di sebuah stand dari penerbit UK, Mister Bule malah terlibat pembicaraan soal sepak bola–ternyata keduanya pendukung berat MU. Mereka menggunjingkan Rooney dan juga Ronaldo. Lalu, bule penjaga stand itu bertanya saya pendukung siapa. Saya hanya tersenyum karena tidak mungkin saya katakan bahwa saya pendukung berat PSMS atau PERSIB.

Mister Bule kadang juga berlebihan dalam membanggakan Indonesia. Salah satunya soal percetakan. Ketika sempat mampir di sebuah stand percetakan China. Mister Bule bilang bahwa kami di Indonesia mampu mencetak 30% lebih murah dari Anda. Kontan saja penjaga standnya nyengir kuda. Saya tidak dapat menelisik lebih jauh apakah benar demikian bahwa kita mampu membanting harga cetak lebih murah daripada China.

Saya senang ketika Mister Bule membawa saya pada suatu group agensi besar bernama Quarto. Kami diterima penjaga stand wanita yang berkebangsaan China.  Sedikit basa basi lalu kami mulai dengan penelusuran berbagai buku. Saya kagum dengan penjaga stand bernama Meixia Wang ini karena sangat cekatan dan tahu buku seperti apa yang saya inginkan.

“How do you know the books that I want?”

Dia hanya tersenyum sambil membawakan beberapa buku yang semuanya menarik untuk diterjemahkan. Mister Bule turut menggodanya.

***

Di sebuah gerai makanan ringan, saya kerap beristirahat dengan Mister Bule. Ia ternyata mantan pemusik. Dan ia tampak senang serta bersemangat ketika saya ajak bercerita tentang Rolling Stone, Scorpion, ataupun Jimmy Hendrix ketika saya membolak-balik sebuah katalog buku dari sebuah penerbit khusus buku-buku tentang tokoh musik.

Mister Bule seorang Muslim, tapi kalau dalam bahasa kita adalah abangan. Namun, pada Jumat di Frankfurt dia mengikuti saya shalat di sebuah ruangan yang khusus diberikan panitia sebagai ruang shalat kaum Muslim. Letaknya bersebelahan dengan hall tempat para penerbit Timur Tengah dan bekas negara pecahan Soviet berada. Dalam shalat dan khotbah saya lihat Mister Bule menangis. Saya tahu ia tengah dalam masalah. Mungkin ia memang takut bertemu Tuhannya karena mengingatkannya akan sesuatu.

Setiap pertemuan di setiap stand, Mister Bule selalu memperkenalkan saya sebagai orang baru di manajemen TS dan menyebut saya sebagai bossnya. Di tengah jalan ia mengatakan sangat respek kepada saya, “Because you’re my boss.” Lalu, saya ungkapkan apresiasi saya dan penghargaan juga kepadanya karena dia telah menjadi mentor saya selama 5 hari plus selama di Indonesia. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Apa yang saya pelajari adalah semangat kerjanya dengan menyedikitkan tidur. Kedua, ia memiliki beberapa keahlian langka, seperti paper folding atau merancang format buku-buku seperti pop-up. Ia juga apik dan detail dalam mengerjakan beberapa tugas penerbitan, termasuk spesialisasinya kini mengakuisisi lisensi naskah dari luar negeri.

Kelemahannya yang terlihat hanya jiwa temperamental, termasuk ketika ia sedikit berteriak di trem karena ada seorang Jerman menegurnya saat ia berdiri di samping pintu trem otomatis dan memang saat itu pintu kebetulan macet. Mr. Erwin berteriak, “I’m not Germany, but I’m not stupid!” Orang-orang hanya diam pura-pura tidak mendengar umpatannya. ­čÖé

:: catatan lepas FBF

oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here