Aneh itu Lucu: Srimulat pada Buku, Televisi, dan Android Pad

1
454

Seberapa pecah tawa Anda ketika menyaksikan para punakawan Srimulat melucu pada masa jayanya? Pakem pembantu (batur) dan majikan adalah pakem standar yang digunakan Srimulat untuk mengantarkan berbagai cerita pengundang tawa. Srimulat adalah grup lawak legendaris dengan anggota terbanyak di Indonesia, bahkan mungkin di dunia (meskipun belum tercatat di MURI).

Srimulat adalah sebuah nama yang disematkan dari seorang tokoh seni bernama RA Srimulat. RA Srimulat menikah dengan juga seorang seniman muda bernama Teguh Slamet Rahardjo (Kho Tjien Tiong) dengan perbedaan usia mereka kala itu dua puluh tahun lebih. Setelah pernikahan itulah terbentuk rombongan kesenian keliling bernama Gema Malam Srimulat yang menyajikan kesenian musik dan nyanyian. Kelak ketika terjadi perpecahan di dalam tubuh Srimulat, nama grup lawak ini sempat diplesetkan menjadi nama program televisi bertajuk Srimules yang mendapat protes dan kecaman para punakawan Srimulat lainnya–kita pun mafhum setelah membaca kisah RA Srimulat sebenarnya karena selain berkesenian, ia memainkan peran sebagai intelijen tentara Indonesia untuk melawan penjajah.

Srimulat itu dari Solo sebelum terjadi evakuasi besar-besaran kru Srimulat ke Surabaya saat-saat genting terjadinya pemberontakan PKI. Di Solo mereka mendapatkan tempat istimewa pentas di Taman Sriwedari yang merupakan tempat tetirah keluarga Raja Solo. Adalah pentolan dagelan  Mataram bernama Bandempo, Ranudikromo, Sarpin, dan Suparni yang menjadi generasi pertama mengawali masuknya materi lawakan dalam pementasan Srimulat. Dari sinilah Srimulat terus berkiprah dengan berganti generasi, seperti masuknya Hardjo Gepeng dan Johny Gudel.

Nama Gema Malam Srimulat kemudian diganti dengan Aneka Ria Srimulat dan dimulainya pentas keliling daerah di antara pasar malam dan pusat keramaian. Mereka berkeliling di antara kota-kota Jawa Tengah dan Jawa Timur, bahkan sampai ke Sumatra dan Kalimantan. Makin lama content lawakan makin berkembang tidak hanya model dagelan Mataram. Masuknya Kadir dan Nurbuat yang berasal dari komunitas ludruk Jawa Timur menambah warna pada lawakan Srimulat. Lalu, masuk pula seniman ketoprak seperti Betet dan Timbul Suradi.

***

Itulah sepenggal kisah masa awal berdirinya grup lawak Srimulat. Masa selanjutnya adalah masa-masa penuh impresi, bahkan kontroversi yang terjadi di antara kru Srimulat. Sebut saja soal Gepeng yang mencapai puncak popularitas, lalu tersandung kasus senjata api–meskipun kemudian sebuah keanehan terjadi ketika Gepeng mendapat grasi dari Presiden Soeharto lebih karena Gepeng adalah idola cucu sang Presiden yang kala itu hendak berulang tahun. Akhir Gepeng sangat tragis, jatuh miskin dan mati  muda.

Aneka konflik pun terekam dari perjalanan sejarah grup lawak ini ketika mereka memasuki era pertelevisian lewat TVRI dan puncaknya melalui stasiun swasta. Intrik dan konspirasi media televisi ini yang melibatkan Srimulat terekam pada buku kedua dari Trilogi Srimulat yang ditulis oleh Sony Set dan Agung Pewe.

Srimulat dibukukan? Kisah-kisah tadi memang saya comot dari buku pertama trilogi Srimulat bertajuk Srimulat: Aneh yang Lucu. Judul buku ini diambil dari jargon terkenal Teguh Srimulat: “Aneh itu Lucu; Lucu itu Aneh!” Inilah buku yang coba kembali menyegarkan kenangan kita tentang Srimulat, sekaligus merupakan dokumentasi penting kekayaan khazanah kesenian bangsa dari sisi lawakan atau komedi. Hanya ada beberapa buku biografi komedi yang diterbitkan, di antarnya yang paling baru adalah buku tentang Warkop DKI. Adapun buku tentang Srimulat sebelumnya pernah terbit dengan judul Teguh Srimulat: Berpacu dalam Komedi dan Melodi karya Herry Gendut Janarto dan Indonesia Tertawa: Srimulat sebagai Sebuah Subkultur karya Anwari.

Lalu apa misi penerbitan buku ini? Srimulat telah berganti generasi dan tongkat estafet telah pula dipindahkan. Seorang bernama Eko Saputro yang merupakan anak dari pasangan Teguh dan Djudjuk Djuwariyah. Teguh menikahi Djudjuk setelah dua tahun meninggalnya RA Srimulat. Ekolah yang melanjutkan tradisi panggung Srimulat dan sempat pula memanajemeni grup lawak Teamlo. Dalam organisasi Srimulat kini juga muncul keanehan seperti keanehan-keanehan lainnya… Nama Agum Gumelar tersemat sebagai pembina grup lawak ini yang notabene Pak Agum adalah orang Sunda, sedangkan Srimulat sangatlah Jawa. Kini, terbetik ide untuk meregenerasi kembali Srimulat dengan label Srimulat Next Generation.

Seolah Srimulat mulai beradaptasi dengan era kemodernan dan itulah yang sudah terjadi berpuluh tahun lalu bagaimana dari model pementasan panggung, para kru Srimulat harus berpindah ke pementasan televisi. Tidak mudah melakukan adaptasi seperti ini dan orang yang gigih melakukan perubahan itu memang Teguh Srimulat. Kini Eko Saputro yang akrab dipanggil Koko Srimulat ini pun berhadapan dengan zaman baru perjuangan.

Gayung bersambut… penerbitan buku ini menarik pihak XL untuk menjadikannya ikon XL Baca (sebuah content berbasis e-publishing yang akan diluncurkan XL). Sungguh sebuah pertaruhan meyakinkan pihak XL bahwa Srimulat itu masih ada dan akan berusaha kembali eksis. Kenyataannya XL menjadi ini juga sebagai program CSR seni budaya meski di satu sisi ini seperti keanehan yang lucu dengan menggabungkan tradisi ndeso dan teknologi informasi paling terkini. Tidak hanya itu, konon sebuah stasiun televisi swasta juga sudah menyepakati akan menayangkan audisi Srimulat Next-G tahun ini.

Jadi, akan ada generasi baru Srimulat? Keyakinan ini dipegang betul oleh Koko Srimulat. Seorang Sony Set yang menjadi penulis buku ini bahkan sempat mencuatkan impiannya menggabungkan buku, televisi, dan teknologi informasi. Impiannya itu tampak sebentar lagi terwujud dengan terbitnya trilogi Srimulat yang dilakukan Penerbit Tiga Serangkai asal Solo, lalu masuknya content Srimulat dalam format e-book serta lainnya ke dalam android pad yang didukung oleh XL, serta munculnya program televisi Srimulat Next-G yang tinggal selangkah lagi.

Buku trilogi Srimulat sendiri benar-benar apik dan lengkap merekam sepak terjang grup lawak Srimulat beserta para punakawannya. Ada cerita di balik berita. Lalu, ada yang lebih penting lagi bagaimana tercuat rahasia ramuan lawak grup ini yang menjadi pemelajaran komedi luar biasa. Taruh saja kisah tentang Gogon yang awalnya sangat mengidolakan Charlie Chaplin, Penampilan Gogon awal sangatlah mirip dengan Chaplin, lalu seorang senior menegurnya untuk membuat ciri khas lain dengan menggunduli rambut dan meninggalkan jambul. Gogon menuruti meski agak khawatir dan akhirnya jadilah Gogon yang sekarang. Gerak Gogon sangatlah mirip dengan Chaplin.

Beberapa materi lawak lain dari kru Srimulat sebagian besar memang imitasi di samping mereka juga menciptakan jurus-jurus baru lawakan. Lawakan berbisik, kemudian yang dibisiki seolah-olah mengerti dan ketika ditanya malah tidak tahu, adalah salah satu kreativitas grup Srimulat. Lawakan Timbul yang selalu salah duduk dan terjungkal adalah imitasi. Ada lagi Pak Bendot yang bisa tampil secara mengejutkan tanpa banyak omong. Bahkan, ada cerita bahwa kehadiran Pak Bendot pada setiap panggung Srimulat ‘sangat ditakutkan’ para kru Srimulat yang lain. Bukan hanya penonton yang terpingkal, melainkan seluruh kru Srimulat bisa terpingkal dan tidak bisa melanjutkan materi lawakan.

Itulah penggalan-penggalan keanehan yang lucu dan kelucuan yang aneh. Anda harus membaca buku ini karena formatnya pun handy serta ringan dengan kertas book paper. Anda aneh, belum tentu lucu. Anda lucu, belum tentu aneh. Karena itu, baca buku ini agar Anda menjadi aneh yang lucu. Salam.

 

Bambang Trim

[Komporis Buku Indonesia]

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

  1. Sepertinya menarik. Seingat saya–selain Timbul, Gogon, dan Koko–ada juga Nunung yang saat ini aktif di Opera van Java, serta Lesus dan Topan yang duet-nya konon membuat gerah Timbul. Ingin sekali mengenal dua tokoh yang aksi-aksinya masih membuat saya tersenyum-senyum jika diingat-ingat, meski tidak jelas lagi kabar mereka. Perlu juga diburu buku ini, minimal untuk dibaca beberapa intriknya yang dirasa unik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here