Literasi untuk Melejitkan Kreativitas dan Kemuliaan Anak

3
763

Oleh Bambang Trim*)

Makalah disiapkan secara khusus untuk Diklat Guru-Guru TK

Pertanyaan pertama ketika kita bicara soal literasi untuk anak ialah apa itu literasi untuk anak? Literasi dapat berarti sifat kesusastraan yang mengacu pada kemampuan baca-tulis. Namun, baca-tulis di sini bukan dalam arti harfiah membaca deretan abjad atau kata, lalu menuliskannya. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan memaknai sebuah bacaan atau menuliskan hal-hal yang dirasakan serta dipikirkan dengan lebih mengedepankan perasaan serta keindahan.

Makna sastra sendiri oleh seorang filsuf bernama Horatius dinyatakan dengan ungkapan dalam bahasa Yunani yaitu dulce et utile yang artinya menyenangkan serta berguna. Dalam berbagai hal untuk menyikapi hidup secara lebih bermakna semua bangsa memerlukan sastra di dalam kehidupannya. Bahkan, apa yang patut kita cermati adalah perkembangan sastra anak pada sebuah bangsa.

Penelitian yang dilakukan David Mc Clelland (seorang psikolog dari Harvard) berikut tampaknya dapat kita jadikan sebagai penguat pemahaman. David Mc Clelland meneliti 1.300 cerita/dongeng rakyat anak-anak dengan mengambil sampel dua Negara raksasa pada abad ke-16 yaitu Inggris dan Spanyol. Apa yang diteliti oleh Mc Clelland adalah kandungan ”motivasi” positif dari cerita tersebut yang populer disebut virus N-ach (need for achievement). Dari hasil tersebut dilihat bagaimana Inggris terus menjadi negara maju, sementara Spanyol tidak mampu mengimbangi Inggris. Apa pasalnya? Bacaan anak-anak di kedua negara itu ternyata punya pengaruh besar.

Menurut McClelland, cerita dan dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada masa-masa itu mengandung nilai-nilai optimisme yang tinggi (need for achievement), keberanian untuk mengubah nasib, serta sikap tidak gampang menyerah. Sebaliknya, umumnya dongeng di Spanyol kebanyakan mengandung nilai-nilai komedi berunsur kecerdikan yang licik dan penuh tipu daya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Kita menjadi ingat tentang Dongeng Si Kancil. Bahkan, lirik lagu anak-anak tahun 80-an yang dinyanyikan Adi Bing Slamet dan Chica Koeswoyo pun bernada mengancam: “Si Kancil anak nakal, suka mencuri ketimun. Ayo lekas dikejar, jangan diberi ampun….

Modifikasi Literasi Anak untuk Sebuah Kemajuan

Anak-anak kita pasti akrab dengan tokoh yang satu ini yaitu Doraemon. Pernahkah anak-anak tersebut bermimpi menjadi Doraemon? Doraemon adalah robot kucing dari abad ke-22 yang diturunkan untuk menolong Nobita—seorang murid kelas 5 SD yang pemalas. Dari balik sakunya ia dapat mengeluarkan aneka barang-barang ajaib.

Adalah Fujiko F. Fujio yang menciptakan tokoh Doraemon. Doraemon sengaja diturunkan untuk menyelamatkan keturunan Nobita dari utang finansial karena kemalasan Nobita. Doraemon dikirim oleh cicit Nobita, Sewashi untuk membantu kehidupan Nobita dari malas menjadi pekerja keras agar dapat menyelamatkan keturunannya kelak. Untuk itu, Doraemon ditugaskan selalu membantu Nobita dengan barang-barang ajaibnya dari kantong empat dimensi meskipun terkadang Nobita tidak terkendali dan malah menimbulkan banyak masalah. (Sumber: Wikipedia).

Fujiko, si Pencipta Doraemon

Animasi khayalan ini sarat dengan filosofi tentang penyiapan generasi bangsa Jepang kelak. Kita di Indonesia menikmatinya sebagai hiburan tanpa sadar bahwa di balik Doraemon terdapat pemelajaran imajinasi luar biasa. Pemelajaran utama adalah sindiran untuk orangtua agar mulai memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Orangtua harus menjadi Doraemon yang memberikan solusi canggih sesuai dengan zaman anak-anak kini.

Animasi Jepang ini mampu memberikan stimulus impian kreatif. Impian anak-anak untuk menjadi Doraemon atau memiliki robot kucing layaknya Doraemon yang dapat memunculkan barang-barang ajaib seperti baling-baling bambu sebagai solusi. Anak-anak akan kesal dengan Nobita yang malas dan kadang-kadang menimbulkan masalah. Anak-anak pun terwakili dengan karakter-karakter seperti Suneo ataupun Giant.

Inilah yang saya sebut sebuah modifikasi literasi yang dilakukan oleh negara seperti Jepang. Jepang sadar bagaimana  membangun karakter generasi mudanya ke depan dengan bacaan anak-anak yang imajinatif.

Contoh lain adalah Captain Tsubasa. Cerita ini dimunculkan dalam bentuk manga (komik Jepang) dan dimuat berkala di sebuah majalah mingguan pada 1980-an. Kisah Tsubasa ini ternyata merupakan grand design yang dimaksudkan untuk mendorong generasi muda Jepang mencintai sepakbola dan dapat menjadi juara dunia. Hasilnya, Jepang termasuk kekuatan sepakbola Asia yang sangat diperhitungkan selain Korea Selatan.

Generasi Anak Kini, Generasi yang Berbeda

Kita boleh tercengang dengan kedahsyatan bacaan anak-anak menanamkan karakter. Musuh utama bacaan anak-anak memang televisi. Namun, alih-alih menjadikannya musuh, lebih baik televisi digandeng untuk menjadi mitra menanamkan literasi. Bagaimana caranya? Pembuatan film apakah dalam bentuk animasi atau gambaran nyata harus diikuti dengan penyediaan bacaan secara simultan.

Keberhasilan film animasi Upin dan Ipin adalah contoh nyata. Upin dan Ipin semula diciptakan sebagai fim untuk menyambut bulan Ramadhan. Namun, karena sambutan yang datang luar biasa, Upin dan Ipin pun dibuat dalam sekuel-sekuel selanjutnya. Adalah alumni Multimedia University Malaysia yang menciptakan Upin dan Ipin yaitu Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd. Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Pertaruhan tiga mahasiswa itu adalah mengangkat budaya lokal dan kearifan lokal dari sudut pandang sebuah kampung di Malaysia. Ternyata, pertaruhan mereka berhasil dan menarik perhatian dunia. Kini serial Upin dan Ipin juga disiarkan secara internasional lewat saluran televisi Disney.

Dari segi mengangkat literasi anak negeri, jelas kita di Indonesia kalah telak dengan Malaysia—Upin dan Ipin malah berhasil menarik perhatian anak Indonesia. Literasi kita belum mampu menciptakan tokoh-tokoh baru yang dapat jadi anutan anak-anak Indonesia, bahkan dunia. Kita masih berkutat pada dongeng-dongeng serta cerita-cerita rakyat masa lalu yang kadang juga seperti malu-malu untuk diangkat ke permukaan.

Apa yang perlu disadari kini adalah munculnya generasi anak-anak yang berbeda dengan generasi anak-anak satu atau dua dekade yang lalu. Coba kita lihat beberapa keunggulan anak yang memang mungkin diperoleh dari bakat sejak lahir atau yang paling berpengaruh diperoleh karena mendapatkan stimulus sejak lahir.

1.      Kemampuan menguasai bahasa dengan fasih pada usia sangat dini. Beberapa anak sangat mungkin dapat bertutur dengan kalimat yang kompleks dan pilihan kata lebih beragam semasa usia kurang dari dua tahun. Adapun anak-anak lain mungkin baru dapat mengucapkan beberapa kata saja dan rangkaian kalimat yang sederhana.

2.      Kemampuan membaca pada usia empat tahun. Hal ini pun mungkin terjadi pada kanak-kanak, terutama dapat ditandai ketika mereka membaca semua papan reklame di jalan, nama-nama toko, ataupun membaca tulisan yang terdapat di kemasan makanan.

3.      Kemampuan membilang dan membuat khayalan. Beberapa anak sudah mampu mengenali angka, membilang, bahkan kemudian mampu melakukan operasi penjumlahan dengan tangannya. Mereka sudah masuk pola berpikir logis dan kompleks. Kadang mereka pun mampu membuat sebuah khayalan dan menetapkan jalan keluar dari sebuah masalah.

4.      Kemampuan berpikir logis. Beberapa anak sangat menonjol dalam memahami sebab-musabab sebuah peristiwa dengan cepat. Mereka mampu membuat dugaan terhadap sebuah perisitiwa secara logis. Misalnya, gula yang dapat melarut di dalam air panas atau mainan mereka yang tidak dapat berfungsi karena kehabisan energi baterai.

5.      Kemampuan berpikir tingkat tinggi. Beberapa anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sekali. Hal ini mendorong mereka terus berpikir terkait dengan berbagai peristiwa ataupun proses yang dilihatnya. Anak-anak cerdas ini juga senantiasa memiliki ide-ide baru dan suka berimajinasi. Karena itu, mereka selalu mencoba berpikir dan mencari cara untuk mewujudkan imajinasinya.

6.      Kemampuan berinteraksi sosial. Beberapa anak menampakkan pola pikir yang luar biasa, bahkan mampu mengimbangi cara berpikir orang yang lebih tua darinya. Hal ini menyebabkan anak-anak itu mampu ber­adaptasi lebih baik dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Terkadang hal ini mendorong anak menjadi leader di antara anak-anak lain karena ia lebih dominan serta mudah diterima oleh banyak orang.

7.      Kemampuan cepat belajar dari pengalaman dan adaptasi dengan lingkungan. Beberapa anak memiliki jiwa kreatif dan senang mencoba. Mereka memiliki kemampuan memusatkan perhatian pada sebuah perkara dan cakap pula beradaptasi dengan masalah. Mereka memiliki kemampuan mengayakan pengalaman diri sendiri dan mampu meng­hadapi berbagai situasi.

8.      Kemampuan menyelesaikan masalah secara lebih sistematik. Beberapa anak sudah terlihat menonjol dalam berpikir sistemik, logikal, serta mampu mengurai sebuah masalah sehingga menemukan solusi sederhana.

Anda dapat melihat delapan keunggulan pada anak-anak usia dini yang umumnya diperoleh melalui stimulus. Jika anak memiliki atau menampakkan keunggulan dalam satu atau dua poin, kemungkinan stimulus itu sudah berlangsung sejak ia berada di dalam kandungan ibunya. Multikecerdasan itu justru dapat bertumbuh dari latar penanaman kecerdasan literasi, misalnya membacakan cerita sejak anak di dalam kandungan atau membacakan dongeng penuh motivasi pada saat anak-anak berusia dini.

Mendorong Kegiatan Literasi Baca-Tulis dengan Kreativitas

Ada dua hal yang patut diperhatikan dalam menanamkan kecerdasan literasi kepada anak-anak. Apa saja kedua hal tersebut?

Pertama, adalah memilihkan bahan literasi yang tepat kepada anak-anak dengan memperhatikan muatan berikut: 1) imajinatif (gagasan pengarang/penulis yang menarik untuk anak); 2) amanat atau pesan positif yang terkandung pada bacaan; 3) penokohan dengan karakter yang kuat; 4) kearifan lokal dan pembentukan karakter; 5) penyajian yang kaya khas anak-anak, berwarna dengan ilustrasi-ilustrasi yang baik; 6) tidak berkesan menggurui dan meminjam ‘mulut orang dewasa’. Bahan literasi itu dapat berupa: 1) kumpulan cerita pendek/dongeng anak-anak; 2) kumpulan puisi anak-anak atau syair lagu anak-anak; 3) kumpulan drama anak-anak; 4) novel anak-anak.

Kedua, adalah cara-cara menanamkan literasi tersebut secara kreatif sehingga mendorong motivasi anak untuk membaca ataupun menulis. Guru disarankan untuk mampu mendongeng, memeragakan berbagai gerakan-gerakan menakjubkan, menari, berbicara dengan berbagai jenis suara, serta menggunakan alat-alat peraga yang dapat dibuat dari barang-barang bekas.

Sebagai contoh, guru dapat mengajak anak-anak tamasya ke stasiun kereta sambil setiap anak memegang buku cerita tentang kereta api. Guru dapat membuat buku cerita tentang sebuah lokomotif kereta api tua. Lokomotif kereta api tua itu bersedih karena merasa semua orang sudah tidak lagi menggunakannya. Di sinilah cerita dimulai dengan penanaman karakter bagaimana kemudian lokomotif kereta api modern membantu lokomotif kereta tua. Akhirnya, lokomotif kereta api tua digunakan lagi sebagai kereta wisata.

Jadi, guru pun semestinya mampu menjadi kreator cerita yang imajinatif serta inspiratif bagi anak-anak. Memang hal ini memerlukan pelatihan dan ketekunan mendalam. Apa yang dapat mendorong kita adalah kecintaan terhadap dunia anak-anak. Dan akhirnya semoga kita setuju bahwa literasi yang baik dan berkualitas akan berpengaruh terhadap kreativitas serta kemuliaan anak pada masa depan. Terima kasih.

*Penulis adalah praktisi perbukuan Indonesia yang telah menulis 100+ judul buku, terutama buku anak-anak. Kini, menjabat sebagai advisor di Yayasan Jembatan Pekerti serta General Manager for General Book di PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Penulis dapat dihubungi secara on-line di bambangtrim@yahoo.com dan blog: www.manistebu.wordpress.com.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

3 KOMENTAR

  1. membentuk karakter anak memang baik dilalukan sjak awal, tapi inget konsep ‘masa anak2 adalah masa bermain,biarkan anak yang membentuk karakternya sendiri.Orangtua hanya mengarahkannya.

    • Sangat setuju dengan ‘masa anak2 adalah masa bermain’ karena itu guru/orangtua memerlukan kreativitas untuk tidak ‘merampas’ hak-hak anak dalam bermain. Hanya membiarkan ‘anak membentuk karakternya sendiri’ tetaplah harus dengan sentuhan orangtuanya karena orangtuanyalah yang punya akses khusus menjadikan anak berkarakter kuat atau berkarakter lemah dan berkarakter baik atau berkarakter buruk. Terima kasih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here