Bisnis (Penerbitan) ke Depan adalah Bisnis Konten

2
436

Buku kertas (p-book) boleh jadi kehilangan daya tariknya dalam masa penetrasi digital, namu konten (content) di dalamnya tidaklah pernah kehilangan daya jikalau memang memiliki potensi untuk ‘diledakkan’. Memang menarik untuk menimbang-nimbang bahwa ke depan, bisnis konten adalah bisnis yang paling memungkinkan untuk dijalani dan ditawarkan kepada sejumlah penerbitan elektronik berbasis internet.

Maka seorang pengarang (author) tidak akan kehilangan lahan garapan untuk berproses kreatif–hanya ia harus lebih kreatif berakrab ria dengan pengembangan konten digital. Soal konten ini memang ‘menggelitik’ pikiran saya sejak 2009 sehingga saya berpandangan penetrasi digital itu terlalu sederhana kalau hanya diartikan e-book semata.

Pada kesempatan workshop “Be a Star Book Production Manager in 21st Century” yang diselenggarakan IKAPI pada akhir Maret 2011, saya sempat mengemukakan pandangan ini. Bahwa ke depan yang dapat dipertahankan sebuah penerbitan buku adalah unsur kreativitasnya (authoring) untuk mencipta dan mengembangkan sebanyak-banyaknya konten. Karena itu, konsentrasi sebuah penerbitan menjadi penting untuk membagi kerja: 1) akuisisi naskah (acquiring); 2) pengembangan naskah (development). Dua konsentrasi ini ke depan akan membentuk penerbit menjadi terbiasa dengan upaya berkreasi dan berinovasi dengan konten-konten, apakah itu bisnis, parenting, anak/remaja, kesehatan, maupun reliji.

Pengarang (author) maupun penulis (writer) haruslah lebih maju dalam berproses kreatif pada abad ke-21 ini dan janganlah bertingkah seperti katak di bawah tempurung–lebih banyak terbengong-bengong ataupun mengeluh di sana sini. Paling tidak para pengarang dan penulis itu perlu memiliki 9 kompetensi unggulan dalam bidang teknis:

  1. mampu menggunakan bahasa Indonesia baku maupun bahasa Indonesia yang baik dan benar;
  2. menguasai EYD;
  3. menguasai bahasa asing, minimal bahasa Inggris karena banyaknya sumber pemelajaran dalam bahasa ini;
  4. menguasai literasi, khususnya penulisan cerita (penokohan, alur, dan latar);
  5. memahami desktop publishing dan desain komunikasi visual;
  6. menguasai internet dan social media;
  7. memiliki jaringan luas dan akses terhadap sumber-sumber informasi, seperti perpustakaan, tokoh, pusat dokumentasi, maupun media massa;
  8. memahami hak cipta dan Undang-Undang Hak Cipta, baik nasional maupun internasional;
  9. memahami proses kreatif dan alur kerja penerbitan.

Selain sembilan kompetensi ini, tentu dapat ditambahkan kompetensi-kompetensi lain yang mendukung, terutama adanya dorongan atau hasrat (passion) untuk banyak tahu tentang soal-soal aktual di dalam masyarakat kita serta kecenderungan-kecenderungan yang terjadi ataupun tren.

Para pencari konten itu ke depan akan sangat jamak dan bertebaran di mana-mana, mulai perseorangan, pemerintah, hingga korporasi-korporasi menengah maupun besar. Mereka membutuhkan konten, terutama untuk personal image, brand image, maupun kegiatan-kegiatan berbau corporate social responsibility. Konten juga sangat dipentingkan dalam dunia pendidikan serta pelatihan. Para motivator dan trainer sebenarnya menjual konten–mereka akan lemah dan lambat laun ditinggalkan audiensnya ketika mereka sudah tidak dapat menghasilkan konten-konten baru yang segar dan menginspirasi.

Kegagalan banyak penerbit dalam bisnis buku disebabkan kemandekan konten ataupun terjadinya kanibalisasi konten antar satu buku dan buku lainnya. Baru-baru ini lini penerbit buku anak Penebar Swadaya menerbitkan buku pengetahuan berjudul¬†146 yang Ter… di Dunia. Buku ini meledak di pasaran, namun dengan segera juga muncul epigon-epigonnya dan akhirnya kue bisnis buku ‘ter…’ itu pun terbagi-bagi. Namun, memang buku seperti ini dengan kandungan referensial, utamanya dari sumber internet mudah ditiru. Gagasan awal yang brilian, tidaklah sulit untuk kemudian ditiru dan dibuat dengan cara yang sama ataupun sedikit berbeda.

Konten memang mahal dan embrionya berupa gagasan memang lebih mahal lagi. Lalu, tentu yang paling berharga adalah makhluk ciptaan Tuhan bernama manusia yang menjadi produsen gagasan itu, yaitu sang author termasuk sang writer. Karena itu, Tuhan telah menciptakan ‘bluetooth’ pada otak manusia untuk kemudian digunakan menangkap sinyal-sinyal gagasan dari semesta yang mahaluas ini. Ada manusia yang mampu menangkap banyak, ada juga yang cuma satu, dan ada pula yang tidak dapat menangkap apa-apa.

Kalau dulu Alvin Toffler dalam bukunya¬†The Third Wave mengatakan bahwa orang-orang yang berkuasa ke depan adalah mereka yang menguasai informasi, kini saya pun boleh sedikit beropini bahwa ke depan orang-orang berkuasa itu adalah para pemilik konten (author) plus tentunya pemilik informasi. Mereka memang akan dicari untuk sekadar menciptakan bahan perbincangan atau yang lebih mulia bahan perenungan–soal develivery-nya itu urusan lain.

Sekali lagi, para motivator dan trainer sekarang itu lagi jualan konten, baik orisinal maupun sekadar pengulangan-pengualangan. Para ustadz mengusung konten dakwah dengan cara dan kekhasannya masing-masing. Para dosen dan guru harus menyiapkan konten untuk tidak mau disebut ‘tak berisi’. Para pejabat itu butuh konten untuk cuap-cuap soal program mereka, baik yang tulus maupun sekadar tebar pesona. Dan kita pun setiap hari meng-update status di facebook butuh konten yang dapat menggambarkan siapa kita atau kita apa adanya.

Bagaimana Anda dapat mengasah pedang pikiran untuk menghasilkan gagasan hingga membentuk konten yang brilian? Tampaknya kita memang harus mempersedikit bicara atau berkata-kata dan lebih banyak berdiam dalam berkarya. Terlalu banyak bicara membuat daya tangkap kita melemah, apalagi melibatkan diri dalam obrolan sia-sia, gosip-gosip tak bertepi, dan intrik-intrik yang melelahkan hati. Inilah yang terus diembuskan di mana-mana agar orang Indonesia mandek dalam berkarya supaya bangsa kita yang kelak membesar dalam jumlah ini hanya akan menjadi ‘pasar konten’ bangsa lain.

:: catatan kompor Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here