Dilarang Mencintai Buku-Buku

7
409

Pada sebuah kesempatan mewawancarai seorang calon editor buku, saya selalu menyelipkan pertanyaan pamungkas: “Apakah Anda senang membaca buku?” Saya sudah dapat menebak jawaban pasti dengan yakin sang calon editor akan mengatakan bahwa dia sangat senang membaca dan senang dengan buku-buku.

Lalu, saya akan melanjutkan pertanyaan: “Nah, buku apa yang terakhir kali Anda baca?”

Biasanya bola mata sang calon editor akan bergerak ke kiri atas, tanda sedang mengingat sebuah gambaran (visual recalled). Artinya, memang dia akan mengingat-ingat buku apa yang terakhir dibacanya. Kalau sang editor memang orang yang benar-benar telah membaca, tentu dalam kecepatan hitungan detik, ia sudah dapat menyebutkan judul bukunya. Kalau sudah dapat menyebutkan judul bukunya, saya akan memberondong pertanyaan: Siapa yang menulisnya? Siapa yang menerbitkannya? Lalu, mengapa buku itu menarik hatinya?

Kalau sudah sang editor tampak kesusahan menjawab pertanyaan saya, berarti memang harus dilarang menjadi editor. Hehehe berbahaya untuk diteruskan jika sama sekali tidak membaca buku dan tidak pula terpanggil jiwanya untuk mencintai buku-buku. Pekerjaan editor hanya sebuah pilihan di antara sekian pilihan lain yang diperkirakan tampak mudah. Bekerja hanya membaca dan kemudian mencari-cari kesalahan naskah. Soal buku-buku itu soal lain dan mungkin dirasa tidak ada hubungannya dengan mengedit naskah.

Tema pendidikan kita masa lalu atau masa kini juga tampaknya memang mengusung ‘dilarang mencintai buku-buku’. Tidak ada buku yang menarik untuk dibahas dan dibaca dalam ruang-ruang kelas, kecuali mungkin buku yang itu-itu juga. Pun tidak ada hasrat untuk membedah sebuah proses kreatif bagaimana buku itu dibuat, siapa pengarang atau penulisnya, dan juga berusaha mengenal apa itu penerbitan yang jelas-jelas berbeda dengan percetakan.

Para penulis buku, terutama penerbit buku di Indonesia itu seperti berada di medan perang menghadapi orang-orang yang membenci buku, termasuk membaca–dan lebih berbahaya lagi menghadapi orang-orang yang berpura-pura senang membaca buku dan mencintai buku. Bahkan, banyak di antaranya memiliki kelainan jiwa soal buku: seperti senang meminjam buku, tetapi enggan mengembalikan; senang membeli buku, tetapi hanya buat pajangan; dan senang melakukan kekerasan dengan buku (contohnya menimpuk orang dengan buku).

Karena itu, mekanisme utama yang harus dijalankan pada bangsa ini adalah promosi minat baca besar-besaran untuk tidak mengatakan gila-gilaan, yang semoga kemudian menjadi kebiasaan (habit) dan akhirnya menjadi budaya atau juga kebutuhan. Promosi dan usaha yang dijalankan penerbit untuk mengenalkan sebuah buku jelas menjadi ‘serangan pemikiran’ yang efektif untuk melawan perbuatan ‘malas membaca’ meski kadang membawa risiko: lebih besar pasak daripada tiang.

“Dilarang Mencintai Buku-Buku” adalah tema kebodohan yang kadang diselipkan dalam banyak ranah kehidupan bangsa ini seolah buku itu adalah sesuatu yang tidak perlu dan tidak segera untuk didalami. Dalam pemikiran bebal, buku-buku itu dianggap “melelahkan” dan “menyulitkan” saja. Di sisi lain, buku malah menjadi tren dan gaya hidup kepura-puraan: berpura-pura intelek, berpura-pura gaul, dan berpura-pura baca!

***

Sang editor yang saya tanya tadi mati kutu, bukan sebagai kutu buku. Ternyata cintanya terhadap buku-buku adalah palsu. Dia hanya membaca judul, tidak termasuk keseluruhan cover buku. Dia hanya berasumsi soal isi buku dan tidak sedang mencerna pemikiran penulis buku, bahkan dia tidak kenal siapa penulis dan penerbitnya. Terlalu! Kata Bang Rhoma.

Dilarang mencintai buku-buku; kalau memang hendak menjadi bangsa yang selalu tertipu. [termasuk tertipu Malinda Dee]

:: Bambang Trim

#komporis-buku-indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

7 KOMENTAR

  1. Sebenarnya, di Indonesia hal spt ini sering terjadi pd banyak kasus calon2 editor.

    “Rendahnya minat baca”, terkait langsung dengan rendahnya “keinginan” membeli buku.

    Mungkin sebaiknya pertanyaannya diubah menjadi:

    “Buku apa yg dalam beberapa bulan terakhir ini Anda beli?”. Baru kemudian ditanyakan lebih mendalam pada apa judul, apa isi, apa nama penerbit, dan sebagainya.

    Sebab, kita tak bisa begitu saja mengatakan seseorang tak memiliki minat baca – jika kita tidak mau tahu mengenai latar belakang “kemampuan membeli buku” pd diri seseorang.

    Karena di Indonesia itu, umumnya yang tumbuh adalah “masyarakat pelirik judul buku”, belum pada tahap pd “tingginya” minat ‘membeli buku’.

    Sering dijumpai di toko buku, rak buku sering berantakan dan berubah posisinya hny krn ulah ‘sebagian masyarakat pelirik’ judul2 buku baru.

    Mereka datang ke toko buku, hny sekadar menengok judul buku apa yg ada… atau disebut cuci mata – gitulah istilahnya …

    Jadi .. buat mereka yang ingin menjadi editor… ada baiknya menumbuhkan “cinta membeli buku” – paling tidak dalam 1 tahun membeli 2 atau 3 judul.

    Dengan begitu .. pertanyaan yg diajukan suhu Pak BT dpt terlewati dengan mulus ….

    bener ngak Pak BT?

    Jika Anda Orang Indonesia, maka Cintailah Produk Buku-buku karya Penulis Indonesia … !

    salam sukses …

    – eni setiati –

    • Setuju Mbak Eni soal daya beli yang rendah; bisa karena daya ekonomi yang lemah atau malah tidak ada kemauan dan keinginan memiliki buku karena merasa ‘gak penting’. Namun, tetaplah pada editor saya tanyakan kali pertama adalah apa yang mereka baca, bukan apa yang mereka beli (yang belum tentu dibaca).

      Ada banyak faktor mengapa orang tidak mau beli buku: kadang karena harga buku atau bukunya sendiri memang tidak menarik untuk dibeli. Jadi, saya memang mementingkan bertanya soal hakikat membaca kepada mereka daripada bertanya hakikat membeli dan mengoleksi buku. 🙂 Terima kasih.

  2. Nuwunsewu Pak kalau saya malah melenceng ke urusan pembahasan bola mata. Dari seseorang yg tahu tentang hypnosis, menurutnya kalau seseorang cenderung menggerakkan bola mata ke kiri, berarti ia sedang berencana utk mengucapkan sesuatu. Tapi kalau bola matanya cenderung melirik ke kanan, artinya ia sedang mengingat apa yg sudah terjadi. Kalau dari membaca cerita Bpk, pantas saja ia kurang bisa menjawab. Karena kemungkinan, ia sudah berkata yg tidak benar Pak. 🙂

    • Hehehe Mbak Ika, ini bergantung pada cara melihatnya. Kalau kita yang melihat, berarti bola matanya mengarah ke kanan. Kalau kita menjadi diri orang itu, berarti bola matanya yang ke kiri. Jadi, ada juga istilah visual constructed (Vc) untuk orang yang coba menciptakan gambaran atau sedang merancang kebohongan… hehehe. Jadi, tulisan saya mengibaratkan sebagai orang itu. Bola matanya akan bergerak ke kiri atas. Bukan dari sisi saya yang melihatnya.

  3. kalau gitu saya tak bisa jadi editor nih mas BT. semangat membaca saya cukup bagus, tapi tidak tinggi, dan kesempatan untuk membaca satu bulan dapat 7 buku saja sudah baguuus sekali, karena tak bisa seperti dulu lagi…hehehe

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here