Gaya Selingkung: Perlu Tidak?

2
638

Sembari membayangkan Pesta Buku Kuala Lumpur 2011 yang sekarang sedang berlangsung (sayang saya tidak sempat ke sana), saya pun teringat dengan sebuah buku gaya selingkung penerbitan (house style book) yang resmi diberlakukan di Malaysia, yaitu buku Gaya Dewan. Saya memiliki buku ini untuk Edisi Ketiga, terbitan 1995. Buku ini kali pertama diterbitkan pada 1987 oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Buku ini saya peroleh sebagai cinderamata saat kunjungan IKAPI ke Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia.

Apa itu ‘gaya selingkung’? Istilah ini kali pertama diperkenalkan dosen saya, Ibu Sofia Mansoor, yang menurut beliau diperkenalkan Bapak Adjat Sakri. Gaya selingkung merupakan padanan dari house style yaitu berupa gaya penulisan-penerbitan yang diterapkan dalam suatu lingkungan yang khas, apakah itu negara atau lembaga atau komunitas/kelompok tertentu. Seperti halnya para penerbit Amerika dapat mengacu pada American Government Printing Style atau juga para penerbit universitas dapat mengacu pada Cambrigde University House Style. Lalu, karena kebutuhan maupun karena ingin menciptakan gaya yang khas, bermunculan berbagai house style book dari berbagai penerbit maupun media yang berwibawa.

Cover depan buku Gaya Dewan

Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Malaysia sebenarnya setara kedudukannya dengan Pusat Bahasa Depdiknas di Indonesia atau juga dulu Pusat Perbukuan (Pusbuk sekarang berubah menjadi Puskurbuk). Namun, dalam soal kedudukan, tampaknya DBP Malaysia ini lebih berwibawa sehingga mereka dapat menerapkan aturan gaya selingkung yang sifatnya resmi dan wajib diikuti setiap lembaga pemerintahan di Malaysia, terutama kaitannya dalam penerbitan buku.

Berbicara dalam konteks Indonesia, sama sekali tidak ada panduan gaya selingkung yang pasti. Tidak Pusat Bahasa dan tidak pula Pusat Perbukuan mampu mengeluarkan buku panduan gaya selingkung sekelas Gaya Dewan ini. Bagaimana lalu di lembaga-lembaga pemerintahan? Setali tiga uang, tidak banyak lembaga pemerintah yang memiliki buku gaya selingkung sendiri, kecuali dalam bentuk tata aturan penulisan yang kadang berbeda-beda, tidak mengacu pada standar penulisan, serta tidak memuat secara komprehensif aturan penulisan. Saya pernah menemukan buku gaya selingkung salah satunya di BPK, itu pun hanya memuat aturan kebahasaan.

Ada juga buku gaya selingkung penerbitan Indonesia yang pernah diterbitkan yaitu gaya selingkung Grasindo bertajuk Buku Pintar Penerbitan Buku. Buku ini sempat diterbitkan dalam dua edisi dan terakhir terbit pada 2007. Buku ini sekarang sulit ditemukan di pasaran, padahal isinya sangat berguna bagi mereka yang hendak menyusun karya tulis dalam bentuk buku. Alhasil, para dosen, guru, widyaiswara, ataupun mereka yang ingin menulis buku, kerap tidak memiliki panduan standar penulisan (bukan hanya masalah kebahasaan).

Buku gaya selingkung Grasindo yang pernah terbit.

Memang miris jika melihat bangsa yang sedemikian besar, tetapi belum memiliki buku panduan gaya selingkung secara nasional dan dapat digunakan semua kalangan sebagai panduan standar. Sempat terjadi mispersepsi menganggap Kamus Besar Bahasa Indonesia itu sebagai buku gaya selingkung, padahal itu hanyalah kamus ekabahasa.

Lalu, apakah menurut Anda buku semacam ini penting? Dengan gejala makin banyaknya orang ingin menulis buku di negeri ini, terutama para dosen, guru, dan widyaiswara, adalah hal penting untuk menanamkan persepsi yang benar tentang menulis buku, seperti soal kutipan, soal anatomi buku, soal ISBN, soal KDT, maupun soal bibliografi. Dengan demikian, tidak terjadi kekeliruan yang tidak perlu dalam soal penulisan dan penerbitan buku.

Pertanyaan lanjutan: apakah  kita tidak mampu menyusun buku gaya selingkung nasional Indonesia? Jawabannya, sangat mampu. Hanya mungkin belum ada kemauan atau menganggapnya gak penting-penting amat.

Karena itu, saya akan memulai kerja penyusunan besar ini dengan cara mencicil mulai tahun ini dan mudah-mudahan IKAPI sudi menerbitkannya untuk membantu para penulis dan penerbit menyelenggarakan penerbitan buku sebagaimana mestinya, misalnya tahu membedakan antara ‘kata pengantar’ dan ‘prakata’; tahu bagaimana menyusun ‘blurb’ untuk cover belakang; tahu bagaimana menggunakan tanda baca; serta tahu bagaimana menerapkan tata letak (reka bentuk) halaman yang standar.

Kalau penulis dan penerbit sudah teredukasi soal gaya selingkung ini, tentu energi yang dihabiskan untuk berdebat soal bahasa maupun tata letak dapat disimpan dan menjadi kesepahaman bersama untuk mengikuti aturan yang sudah dibuat serta memiliki argumen. Semoga buku Gaya Selingkun Penerbitan Nasional ini dapat tuntas sebelum 2012.

:: Bambang Trim

#komporis-buku-indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here