Islam Kreatif

0
942

If you are possessed by an idea, you find it expressed everywhere, you even smell it. — Thomas Mann (1875-1955) German Writer.

Saya hampir tidak melewatkan membaca GATRA seperti halnya dalam perjalanan menjelang lebaran. Menariknya, GATRA Edisi Khusus Lebaran itu mengangkat laporan utama soal “Napas Islam dalam Industri Kreatif”.

Dalam mukadimahnya, Redpel GATRA, Herry Muhammad menulis: “Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia berpotensi besar dalam mengembangkan industri berbasis pada komunitas umat. Potensi tersebut di antaranya adalah produk-produk berbasis seni-budaya bernuansa Islam atau yang dikembangkan oleh komunitas muslim. Layaknya dunia bisnis, industri tersebut terus-menerus memerlukan inovasi, seiring dengan perkembangan masyarakat dan dunia yang mengglobal.”

Ada yang mengusik pikiran saya…. Kreativitas juga diperlukan dalam meningkatkan ghirah keberagamaan di samping juga sebagai penguat identitas keislaman serta kebutuhan spiritual. Zaman yang berganti menuntut kreativitas dan inovasi guna menciptakan sebuah produk industri Islami yang menarik, bermanfaat, dan tentu saja mengaplikasikan teknologi tinggi.

Laporan GATRA menyajikan berbagai ranah industri kreatif dari fesyen, salon dan produk kecantikan, software, situs, sastra, senirupa, komik, animasi, penerbitan al-Quran, hingga musik. Meskipun liputan ini terkesan gado-gado, cukuplah menggambarkan geliat industri kreatif berbasis Islam yang dikembangkan kelas menengah baru Indonesia.

Menarik bagi saya untuk juga membaca dan mencermati kolom Haidar Bagir, tokoh di balik sukses Group Mizan, yang bertajuk “Kebangkitan Industri Kreatif Muslim”.  Haidar memulai tulisan dari pandangan lahirnya kelas menengah baru muslim Indonesia pada pertengahan 1970-an dengan ciri terpelajar, berpenghasilan cukup, dan memiliki kesadaran sosial-politik yang tinggi. Mereka lahir dengan identitas membawa kecenderunga keberagamaan secara lebih tegas yang berbeda dengan generasi kelas menengah priyayi sebelumnya.

Saya dan mungkin juga Anda adalah bagian dari kelas menengah muslim baru itu yang lahir pada 1970-an dan 1980-an atau yang menikmati kreativitas kelas menengah baru muslim awal. Kita hidup dalam gelombang perubahan produk Islami pada 1980-an dengan munculnya pengusung wacana Islam lebih modern yang dipelopori oleh Penerbit Pustaka Salman (ITB), Mizan, dan juga GIP. Saya ingat masa-masa itu juga terbit tabloid Salam yang begitu tegas dan khas.

Kita semua kembali kepada zaman pencerahan spiritual yang justru marak di perkotaan dengan lahirnya komunitas-komunitas keislaman dari masjid-masjid kampus. Munculnya da’i-da’i berkarakter pada 1990-an juga memperlihatkan kecenderungan kebangkitan spiritualitas ini dengan kemasan kreativitas. Alhasil, pada ujungnya memunculkan kebutuhan akan identitas kemusliman serta jalan menjadi muslim yang kaffah. Gelombang jilbab pada 1990-an juga menjadi indikasi kebutuhan identitas keislaman di dalam kelas menengah baru muslim Indonesia yang kelak melahirkan apa yang disebut industri fesyen Islami.

Islam sebagai Samudra Ide

Merenung sejenak bahwa Islam sebenarnya adalah samudra ide. Ungkapan rahmatan lil alamiin menandakan keluasan ide yang perlu digali pada jalan Islam untuk menjadikan Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Macam kreativitas telah ditunjukkan pada masa Rasulullah saw dan para Sahabat, serta para tabi’in. Islam muncul sebagai kekuatan baru karena membawa ide-ide baru dalam perikehidupan masyarakat dunia, sekaligus membawa ide-ide mencengangkan dalam dunia ilmu pengetahuan serta seni-budaya.

Sebuah kisah yang kerap diceritakan tentang ‘kreativitas’ adalah bagaimana ketika Salman al-Farisy memberikan ide kepada Rasulullah saw untuk membuat parit (khandaq) di sekeliling kota Madinah yang kemudian dikenal peristiwa itu sebagai Perang Khandaq. Seorang sahabat hartawan bernama Abdurrahman bin Auf selalu memiliki ide bisnis yang luar biasa meskipun pada saat hijrah ia kehilangan seluruh harta bendanya. Kepada saudara Anshar-nya, ia menolak pembagian harta, tetapi hanya diminta untuk menunjukkan pasar.

Karena Islam adalah sebuah jalan kehidupan, Islam pun memberi peluang bagi munculnya kreativitas untuk memudahkan jalan itu sesuai dengan semangat zaman. Kaum muslim yang tumbuh saat ini membutuhkan produk-produk Islam yang selain halal, juga harus memberikan added value, baik itu persamaan maupun perbedaan dengan produk-produk reguler lainnya.

Meskipun agak naif, sebuah produsen bir di Jerman mempromosikan ‘bir halal’ untuk kaum Muslim dengan kandungan nonalkohol dan tidak memabukkan. Produsen bir halal itu adalah GranMalt, perusahaan kecil yang baru saja didirikan setahun lalu. Perusahaan itu menjual bir halalnya ke perusahaan soft drink di beberapa negara untuk selanjutnya dicampurkan dengan air dan susu bagi konsumen muslim. Atas inovasinya ini, GranMalt mendapatkan penghargaan dari pemerintah Jerman.

Bir halal ini beredar di Malaysia meskipun kemudian autoritas ulama di sana tetap melarang kaum Muslim mengonsumsi bir yang diklaim cuma mengandung 0,01 persen alkohol ini dan ternyata berdasarkan penelitian ulama Malaysia mengandung 0,5 persen alkohol.

Kita melihat bahwa begitu banyak upaya untuk menghasilka komoditas bagi kaum Muslim yang juga tumbuh sebagai kekuatan baru dunia. Islam adalah agama yang menyebar dengan sangat pesat di dunia ini. Lalu, muncullah tren gaya hidup Islami yang mendorong kreativitas menciptakan produk-produk Islami berdampingan dengan produk reguler lainnya.

Merebut Peluang Kreativitas itu

Saya termasuk yang berkecimpung dalam industri kreatif yang dominan mengusung produk Islami dalam bidang penerbitan. Laporan GATRA sekali lagi menggetarkan saya betapa sebenarnya begitu banyak peluang kini tercipta karena lahirnya generasi kelas menengah baru muslim di Indonesia.

Pada 2003-2008 saya sempat berkecimpung pada komunitas yang mengembangkan bisnis dalam bidang industri kreatif, yaitu Manajemen Qolbu Corporation. Sungguh saya menikmati kerja kreatif menghasilkan produk yang dapat memikat umat. MQ sukses meluncurkan Qolbu Cola, MQ Jernih (air mineral kemasan), MQ Tabloid, MQ Fashion, MQ Multimedia, MQ Publishing, dan begitu banyak produk kreatif lainnya. Sayang, jejaring industri ini tidak berumur panjang meskipun sempat menjelma menjadi aset umat yang menggetarkan.

Kini, saya melihat kreativitas itu dibutuhkan pada upaya-upaya dakwah yang berkonsentrasi pada komunitas, seperti ESQ Training Ary Ginanjar, Wisata Hati Ustad Yusuf Mansur, Percikan Iman Ustad Aam Amiruddin, Majelis Zikir Ustadz Arifin Ilham, dan beberapa lagi yang lain. Tanpa kreativitas, komunitas-komunitas ini akan kehilangan daya tariknya untuk menghimpun jemaah (umat) dan mempersembahkan inovasi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat kini.

Kini kali pertama masuk dalam komunitas MQ, saya sudah berazzam untuk menjadikan MQ Publishing sebagai kiblat penerbitan buku modern Islam. Karena itu, semua content dan context harus dibenahi dan tampil benar-benar profesional. Saya pun telah membuat business plan untuk lima tahun ke depan dengan menghimpun sebanyak mungkin talent penulisan dan mengurangi dominasi talent Aa Gym sebagai brand as a person agar MQ Publishing tidak bergantung pada figur yang lagi kuat saat itu. Bahkan, waktu itu saya mengangkat karya seorang penulis non-Muslim bernama Parlindungan Marpaung dengan buku Setengah Isi Setengah Kosong di bawah bendera MQS Publishing–dengan pandangan saya yang lebih inklusif terhadap ide-ide penerbitan.

Pada masa kini, daya tarik industri kreatif itu, khususnya penerbitan makin menguat untuk mengusung konten-konten Islami. Saya melihat peluang besar dalam penerbitan buku untuk anak-anak, termasuk konten digital berupa game, enhanced book, e-book, e-learning, dan sebagainya. Begitupun dalam penerbitan referensi dengan inovasi Quran referensi yang dipelopori oleh Sygma Publishing.

Jadi, bukan sebuah keanehan atau kebetulan, jika Esia meluncurkan HP Esia Anak Muslim dengan menanamkan konten-konten digital Islami untuk anak. Sebentar lagi, pad-pad (tablet komputer itu) juga akan diislamisasi untuk pasar muslim Indonesia.

Membincangkan dan mewujudkan industri kreatif berbasis Islam ini menjadi menarik kini mengingat industri kreatif menjadi concern pemerintah Indonesia untuk dikembangkan. Di samping itu, terdapat potensi kebangkitan ekonomi umat melalui industri kreatif ini dengan pangsa pasar yang jelas dan besar dari sisi jumlah. Namun, pertanyaannya, apakah ide itu lahir dari kaum muslim sendiri atau malah lahir dari kaum non-muslim yang melihat peluang besar pasar muslim itu sendiri?

Di sinilah ‘persaingan’ kreativitas menemukan momentumnya. Bukan hanya ‘persaingan’ menciptakan produk dengan sesama muslim, melainkan juga dengan kaum non-muslim yang memang memiliki kesempatan sama untuk mengembangkan kreativitasnya dalam menghasilkan produk Islami.

Gelombang Kreativitas Islam Lima Tahun ke Depan 

Bukan hendak menjadi seorang futurolog bahwa saya menggambarkan akan terjadi gelombang dahsyat kreativitas industri kreatif Islam pada lima tahun ke depan. Pada suatu sore beberapa hari lalu, saya duduk berdiskusi dengan seorang penulis muda bernama Tutik Hasanah, didampingi dua orang editor akuisisi Penerbit TS. Kami membincangkan ide-ide penulisan buku, termasuk al-Quran untuk anak Indonesia dengan pendekatan riset kebutuhan. Lalu, sang penulis yang juga seorang hafidz Quran ini pun memunculkan ide buku komik pengantar anak mencintai al-Quran.

Apa yang membuat saya tercengang dalam hati bahwa ia memunculkan sebuah kisah dengan tiga tokoh setan yang dinamai Worsiee, Darkiee, dan Mohadiee. Tiga setan ini terlibat perbincangan yang mengkhawatirkan kelahiran seorang nabi terakhir dan turunnya buku paling suci, al-Quran. Terus terang saya melihat pendekatan modern pada cara penceritaan sekaligus juga kreativitas dengan mengambil tokoh ‘tiga setan’. Jauh-jauh hari, anak sudah dikenalkan bahwa setanlah musuh manusia sebenarnya.

Generasi penulis atau pengembang konten semacam Tutik Hasanah ini akan lahir banyak dan mewarnai dunia kreativitas konten penerbitan di Indonesia, baik itu penerbitan konvensional maupun penerbitan digital. Kemunculan mereka hanya menunggu waktu seperti halnya kemunculan Habiburrahman El-Shirazy, Andrea Hirata, dan A. Fuadi.

Agak ke Timur dari posisi saya di Jawa Tengah, Solo. Saya sempat berdiskusi dengan seorang yang menyebut dirinya ‘sang penjerat bakat’. Kami bertemu di sebuah hotel di Malang sebelum acara bedah buku karya saya “The Muhammad Effect”. Nama orang muda yang enerjik ini adalah Rio Purboyo. Seorang trainer public speaker. Kami berbincang soal ide, bakat, dan juga bagaimana menanamkan kecerdasan literasi dasar (membaca-menulis-berbicara-mendengarkan) lewat cara-cara kreatif. Kami juga mengkiritisi acara Pildacil yang menampilkan da’i-da’i cilik dengan penerapan public speaking yang kurang baik karena campur tangan orang dewasa. Alhasil, kami sepakat menciptakan sebuah materi training menjerat bakat dengan menstimulus kecerdasan literasi. Selain itu, kami pun mencoba mengembangkan training dengan pendekatan materi novel NIBIRU karya Tasaro GK.

***

Kamu muslim memang harus kreatif dengan segala potensi anugerah Allah Swt dan al-Quran sebagai the way of life yang diturunkan Allah Swt. Islam adalah sebuah jalan kreativitas untuk menggagas sebuah kemajuan, identitas keislaman, serta juga sebagai solusi atas segala problema kehidupan.

Saya merasa beruntung hidup dalam ‘kubangan’ kreativitas di dunia Islam yang kelak menjadi satu pilar ataupun hanya sekadar sekrup bagi kebangkitan Islam. Kreativitas yang dikembangkan itu identik dengan rasa syukur atas potensi yang diberikan Allah kepada kita. Syukur itu salah satu implementasinya adalah mengenali apa yang menjadi kelebihan dan kecenderungan kita.

Saya memang ditakdirkan atau memilih takdir sebagai penggagas konten penerbitan atau dengan kata lain berprofesi sebagai penulis dan editor. Belakangan saya punya bakat baru sebagai ‘komporis’ yaitu orang yang selalu ‘mengompori’ orang untuk mau dan mampu menulis buku. Bagi saya ini bagian dari fokus pada ‘bakat/talent’ yang Allah anugerahkan kepada saya dan ditemukan pada saat saya memasuki usia 20 tahunan.

Ibnu ‘Athaillah pernah mengungkapkan soal fokus: “Jangan sekali-kali berbuat seperti penggali sumur yang mencari air. Ia menggali di sini sedalam sehasta, kemudian menggali di tempat lain sedalam sehasta pula. Dengan begitu, ia takkan dapat menemukan air. Mestinya, ia menggali di satu titik saja dengan sungguh-sungguh hingga air ditemukan.”

Artinya, meskipun kita menyatakan Islam itu kreatif dan seorang Muslim harus kreatif, janganlah menjadi ‘sok kreatif’ dengan mencoba berbagai hal baru yang justru Anda tidak fokus di dalamnya. Begitu melihat banyak orang menjadi penulis dan beberapa sukses, Anda pun ingin jadi penulis. Begitu melihat ada orang yang sukses menciptakan lagu-lagu religi, Anda pun berusaha membentuk group nasyid ataupun band dengan menciptakan lagu-lagu Islami. Begitu melihat beberapa orang berhasil menjadi desainer busana muslim, Anda pun merasa punya minat dan mampu untuk mendesain busana muslim. Begitu melihat banyak ustad, terutama yang muda, naik daun dengan mengusung tema dakwah yang menarik, brand diri yang ngepop, dan materi dakwah dengan brand yang modern (dengan mencantumkan kata ‘quantum’, ‘secret’, atau apa pun), Anda pun merasa mampu menjadi da’i, ustadz, atau trainer spiritual. Anda tidak pernah fokus sebenarnya apa bakat/talent Anda untuk berkreasi.

Dahulu Islam meraih kegemilangan salah satunya karena lahirnya para polymath yaitu seseorang memiliki beberapa kemampuan dengan sama baiknya. Seorang Imam al-Ghazali menguasai ilmu agama (teologi), filsafat, seni musik, dan ilmu logika. Seorang Ibnu Sina menguasai tidak hanya bidang kedokteran, tetapi juga astronomi, kimia, palaeontologi, geologi, psikologi, logika, dan puisi. Dalam buku saya The Muhammad Effect soal polymath ini sempat dibahas dan kini kita sudah tidak menemukan lagi generas polymath ini sehingga keberbakatan menjadi lebih sempit pada ‘fokus’ terhadap kelebihan diri yang paling menonjol. Namun, bukan tidak mungkin seseorang menjadi polymath dengan mengasah diri dan mengeluarkan segenap potensi dirinya–bukan dengan mengedepankan keinginan dan mimpi belaka.

Akhirnya, saya menutup tulisan ini dengan renungan terhadap film “Tendangan dari Langit” yang menceritaka soal keberbakatan dan pilihan. Sudjiwo Tedjo yang melakoni diri sebagai ayah Wahyu, sang anak berbakat sepak bola menyatakan cinta harus memilih salah satunya dan yang lain harus menghormati pilihan tersebut. Wahyu mengambil takdirnya dengan memilih sepakbola sebagai cintanya, bukan sang gadis pujaan. Namun, pada ujung cerita, Wahyu memilih Indah sebagai cintanya dan menyatakan sepakbola sebagai bagian dari jiwanya. Intinya film ini menceritakan ‘pertempuran’ Wahyu dengan dirinya sendiri plus dengan berbagai ujian dari luar dirinya (ayahnya, Indah, dan klub Persema Malang).

Kreativitas adalah pertempuran kita kelak sebagai Muslim dengan diri kita sendiri dan dengan faktor luar. Saya yakin bahwa kreativitaslah yang menentukan salah satu jalan Islam bangkit kembali karena bagaimanapun keteguhan berislam memerlukan magnet kreativitas untuk menghasilkan keistiqamahan.

:: catatan kreativitas Bambang Trim

#komporis-buku-indonesia

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here