Ini tentang Memasarkan Naskah

1
364

Seorang bernama Michael Hyatt, CEO dari Thomas Nelson Publisher yang juga melakoni diri sebagai literary agent dan sempat memunculkan beberapa penulis best seller, menyebutkan bahwa bagaimana Anda mendapatkan kontrak dari sebuah penerbit bukanlah soal: 1) ide besar Anda; 2) Anda menulis sebuah adikarya sastra; 3) Anda mengenal orang yang tepat (di penerbitan). Rahasia nyatanya justru bagaimana Anda membuat proposal penerbitan buku.

Bagi saya ini memang soal kebiasaan atau juga budaya pada para penulis kita. Tidaklah terlalu dikenal profesi literary agent (agen penulis) di Indonesia sehingga cenderung para penulis tidak merekrut seorang agen untuk mengelola naskahnya. Adapun yang kerap mengaku sebagai literary agent cenderung menjadi perantara naskah tanpa melibatkan penulis berhubungan dengan penerbit. Bahkan, terkadang kontrak penerbitan justru ditandatangi agen, bukan penulisnya. Karena itu, penulis di Indonesia memang cenderung tidak mengenal profesi agen penulis ini yang ibarat manajer artis dalam dunia entertainment.

Hal lain soal proposal penerbitan buku, pun penulis Indonesia tidak terbiasa membuat proposal penerbitan dan mempresentasikannya kepada penerbit. Di samping itu, penerbit Indonesia juga tidak terbiasa dengan kebiasaan menerima presentasi resmi penulis. Hal inilah yang coba saya budayakan ketika membangun Divisi Akuisisi Naskah di Penerbit Tiga Serangkai. Kami mengundang beberapa penulis yang potensial dan dipersilakan untuk mempresentasikan naskahnya. Nama-nama penulis Indonesia, seperti Tasaro GK, Imran Laha, Tauhid Nur Azhar, bahkan N. Syamsuddin Haesy sempat mempresentasikan naskahnya di depan para editor termasuk marketer buku General Book Tiga Serangkai.

Hyatt memang betul terkadang persoalan naskah itu bukan soal Anda punya ide bagus, lalu Anda menuliskan sebuah karya brilian dan punya koneksi di penerbitan; semua terkait bagaimana Anda memasarkan naskah itu dan meyakinkan para editor maupun marketer di penerbit untuk menerima naskah Anda. Anda memang perlu menyusun sebuah proposal penerbitan yang berdaya.

Dalam buku The Art of Stimulating Idea, saya memaparkan satu bab tentang memasarkan ide meskipun tidak terlalu detail. Namun, saya telah memberikan satu clue tentang Brief for Publisher yang memuat poin-poin penting menggambarkan isi naskah dan tentu reputasi Anda menuliskannya. Hal yang terpenting juga termasuk benchmarking naskah dan menyebutkan segala keunggulan naskah dibandingkan karya lain yang sudah terbit. Anda juga harus mampu menggambarkan pembaca sasaran secara luas dan terarah sehingga para marketer dapat juga memetakan pasar untuk buku Anda.

Tambahan lain pada proposal atau presentasi naskah yang perlu Anda tampilkan adalah rancangan outline naskah sehingga penerbit dapat melihat ‘isi perut’ naskah secara lebih jelas dan bagaimana Anda menuliskannya. Lalu, tidak lupa portofolio Anda yang berkaitan dengan naskah. Berhati-hatilah dengan portofolio yang menjebak diri Anda sendiri.

Misalnya begini, suatu ketika saya menerima naskah bagaimana menjadi karyawan yang mampu melejitkan karier dengan cepat. Namun, pada biodata si penulis, penulis mengaku sudah tidak lagi menjadi karyawan dan memilih jalur entrepreneur atau menjadi self-employee.  Biodata ini bertolak belakang dengan naskahnya yang berapi-api menyebutkan menjadi karyawan itu juga sesuatu yang menyenangkan dan dapat menjadi jalan meraih kesuksesan.

Awal 2012, saya sudah akan mulai memasarkan naskah-naskah yang saya tangani kepada berbagai penerbit. Saya akan mulai melakoni diri sebagai literary agent dengan pengalaman 15 tahun lebih di industri perbukuan. Tentu saya akan memilih dengan penulis siapa saya dapat bekerja sama atas dasar kepercayaan dan profesionalitas. Lalu, bersama dengan penulis saya pun akan melakukan presentasi proposal naskah berbasis Brief for Publisher. Saya harus memiliki target mengegolkan naskah penulis dan mendapatkan kontrak yang bagus. Penulis pun akan memberikan fee kepada saya melalui royaltinya dan penerbit pun dapat merekrut saya untuk mencarikan para penulis yang punya talent dibesarkan sebagai penulis berkarakter dan berdedikasi pada bidangnya. Tentu ini adalah pekerjaan yang menyatukan seni, intuisi, dan pengetahuan penerbitan buku.

Hal yang perlu diingat bahwa supervisi terhadap penulis bagaimana membuat naskah buku fiksi, nonfiksi, atau faksi yang baik perlu dilakukan. Para penulis harus memiliki metode, mengenali anatomi buku, mengembangkan gaya yang unik/khas dari tulisannya, serta benar-benar lepas mencurahkan ilmu atau pengalaman yang dimilikinya. Di sinilah peran literary agent juga menjadi editor, mitra bagi penulis.

***

Book Writing Revolution adalah training tutup tahun yang saya adakan di Jogjakarta, pada 17-18 Desember 2011, di Ruko Demangan Square No.4 Jln. Demangan Baru*). Bersama Heri Suchaeri, pemilik Smile Consulting, saya mendirikan Akademi Penulis Indonesia (ALINEA) sebagai salah satu lembaga training, konsultasi, dan keagenanan penulis di Jogja yang bekerja sama dengan TrimKom. Heri Suchaeri termasuk yang saya supervisi menjadi penulis buku bidang pelayanan dengan meluncurkan formula TOTAL Costumer (Bagaimana Membuat Pelanggan Tersenyum, Optimis, Terkesan, Antusia, dan Loyal) ~ bukunya sudah diterima untuk terbit di Penerbit Tiga Serangkai pada 2012. Tentu kami tidak berhenti sampai di situ untuk mengembangkan naskah yang lain buat penerbit lain.

Training ini bukan soal Anda hanya membayar Rp300.000 untuk sebuah training komprehensif menulis buku nonfiksi selama 2 hari. Bukan soal Anda bisa memperoleh informasi gratis bagaimana memasarkan naskah Anda dari kolega atau kenalan Anda di penerbit atau sesama penulis tanpa harus mengikuti training ini. Namun, training ini lebih akan membawa Anda merevolusi cara berpikir Anda soal menulis buku.

Saya, Bambang Trim, telah membantu sebagai editor untuk memunculkan karya beberapa penulis buku yang impresif di Indonesia: 1) Aa Gym lewat “Aa Gym Apa Adanya”, “Jagalah Hati”, “Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya”; 2) Parlindungan Marpaung lewat “Setengah Isi Setengah Kosong” dan “Fullfiling Life” ; 3) dr. Tauhid Nur Azhar lewat “Jangan ke Dokter Lagi”, “Gelegar Otak”, “Misteri DNA Anak Saleh”, dsb.; 4) Ippho Santosa menulis bareng Aa Gym lewat “Qolbu Marketing”; 5) Andrew Ho dan Aa Gym lewat “The Power of Network  Marketing”; 6) Hermawan Kartajaya dan Aa Gym lewat “The Spiritual Marketer”; 7) Ustadz Yusuf Mansur lewat “Double Impact: Buat Apa Susah, Susah itu Mudah”, “Seri Allah Maha…”; 8.) Adi Putera Widjaja dan dr. Stephanus lewat “Metaleadership Marketing”; 9) N. Syamsuddin Haesy lewat “Platinum Track” dan “Indigostar”. Dan beberapa penulis lainnya selama berinteraksi di berbagai penerbit Indonesia.

Pengalaman ini yang sungguh ingin saya bagi dalam training bertajuk “Book Writing Revolution”. Anda harus mampu memandang naskah dari banyak sudut pandang. Semoga.

*) Kontak Heri Smile Suchaeri, SMS ke 0274-9566049 atau 08122952272 untuk mengikuti training bersama Bambang Trim.

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here