Gebyar-Gebyar Industri Penulisan

5
450

Di dunia ini, bidang manakah yang bisa lepas dari kegiatan tulis-menulis?*)

Kata-kata ini selalu saya selipkan di antara materi training kepenulisan yang kerap saya bawakan pada berbagai kesempatan. Saya sangat senang mengutip ungkapan favorit dari Dan Poynter, god father ribuan buku di AS, yang berbunyi “Writing is not a job; it’s a business”. Fenomena pengelolaan informasi yang dari hari ke hari kerap mengejutkan membuat saya berpikir bahwa penulisan pun memang telah menjelma menjadi industri (mungkin juga telah lama) atau kemudian saya menyebutnya sebagai industri ‘konten’ (padanan dari content yang belum di-Indonesiakan).

Amazon Bakal Menggusur Penerbit Konvensional

Tulisan Brad Stone di Bloomberg Businessweek yang sempat diposting versi terjemahannya di web Mizan mengabarkan bagaimana raksasa toko buku online Amazon.com berpotensi membuat para penerbit besar gulung tikar. Pasalnya, mereka mulai melihat kedigjayaan penjualan buku elektronik yang merambat naik, sementara buku cetak (konvensional) dalam satu dekade terakhir penjualannya stagnan–bahkan terjadi penurunan pada rentang 2010-2011. Laurence J. Kirshbaum, yang ketika itu memimpin kelompok penerbitan buku Time Warner, direkrut oleh boss Amazon, Jeffrey P. Bezos, Mei 2011 lalu untuk mendirikan penerbitan buku sendiri dengan misi menghimpun semua karya penulis terkemuka dan diterbitkan secara elektronik.

Dengan enteng dalam sebuah wawancara, VP penerbitan Amazon, Jeff Belle, mengatakan bahwa mereka hanya ingin bereksperimen di tengah booming-nya e-book saat ini dan sama sekali tak bermaksud menggulung The Big Six–Random House, Simon & Schuster, HarperCollins, Penguin, Hachette, dan Macmillan.  Namun, bagaimanapun hal ini telah mencemaskan kalangan penerbit buku konvensional yang masih mengandalkan penjualan buku cetakan.

Belle menambahkan, “Ini hanya semacam laboratorium in-house di mana penulis, editor, dan pemasar menguji gagasan-gagasan baru.
Sukses bagi kami adalah bekerja dengan penulis yang ingin menemukan cara baru untuk bisa terhubung dengan pembacanya.”

Wow, ini soal bahwa industri penulisan tidak ikut mati dengan berubahnya teknologi dari masa ke masa karena tulisan itu adalah ide dan ide itu adalah konten yang diperlukan umat manusia, apa pun bentuknya. Tidak ada hubungan langsung atau pengaruh signifikan terhadap budaya literasi, kecuali produksi penerbitan kini semakin efisien dengan bentuk digital dan perubahan model bisnis yang lebih sederhana, tetapi dapat menghasilkan profit berkali lipat.

Bezos memang tidak main-main ketika ia menyuntikkan darah baru bagi dunia kepenulisan dengan memberi advance fee (uang muka royalti) sangat besar, termasuk iming-iming royalti lebih tinggi. Ya, Bezos dapat menghemat banyak biaya dari rentang operasional  penerbitan konvensional dan penghematan itu dialihkannya untuk menarik hati para penulis dengan bayaran tinggi.

Secara sembunyi-sembunyi para eksekutif penerbitan besar itu menyatakan keberatannya dengan cara Bezos. Mereka juga menganggap Kirshbaum adalah ‘orang berbahaya’ yang menjalankan ide-ide penerbitan ini. Kalangan penerbit Amerika-Eropa mengenal Kirshbaum sebagai orang yang punya insting bagus dalam menemukan buku-buku best seller, sudah pula menikmati asam garam bereksperimen dengan e-b00k, termasuk merugi karenanya. Jadi, kehadiran Kirshbaum di dalam gagasan bisnis e-book Bezos dapat menjadi ancaman yang menyeramkan.

Demikian, bagaimana kedigjayaan orang yang menguasai ide-ide dapat menakutkan bagi seorang raksasa sekalipun. Namun, di sisi lain, dunia kepenulisan tetap hidup dan bersemangat.

Majalah Detik, Siapa Mau Melawan?

Fenomena lain yang cukup mengundang sedikit kekagetan di tanah air adalah terbitnya majalah detik secara online dan dapat diunduh gratis versi digitalnya untuk dibaca di perangkat PC, notebook, netbook, ataupun yang lebih canggih dengan menggunakan bilah i-Pad dan tablet-tablet lainnya. Tampilan Majalah detik tidak kalah dengan majalah berita yang sudah lebih dulu kondang dengan format majalah investigasi. Saya kira para petinggi dari Gatra ataupun Tempo segera tidak bisa tidur nyenyak melihat penetrasi detik.com yang makin ‘menggila’ sejak diakuisisi CT.

Namun, bagi para penulis, ini industri yang makin asyik untuk dimasuki. Konten-konten pastilah menjadi bahan baku yang dibutuhkan dari hasil kompetisi antara media konvensional dan media elektronik berbasis internet seperti saat ini. Para penulis makin mudah mengekspresikan gagasannya dalam bentuk tulisan, misalnya dengan memanfaatkan wadah yang disediakan detik.com, seperti blog detik, pengisi tulisan di rubrik detik.com, ataupun nanti ikut berkontribusi di majalah detik. Saya pun akan mengira detik sudah menyiapkan ranah-ranah lain dalam penetrasi digitalnya, seperti ranah konten untuk religi, ranah konten untuk anak, dan bahkan ranah konten untuk edukasi. Alhasil, akan dibutuhkan banyak penulis di berbagai ranah yang mengusung ide-ide segar.

Saya yakin group Kompas pun sebagai raksasa media tidak akan berdiam diri dengan berbagai inovasi di dunia konten digital seperti ini. Karena itu, persaingan pun akan segera dimulai dan tentunya juga termasuk bagaimana mendapatkan konten-konten inspiratif dan inovatif dari para penulis yang dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan penerbitan masa kini.

Paksaan Menulis dari Dikti

Terakhir dalam bidang edukasi yang sama-sama kita ketahui bagaimana tiba-tiba Dirjen Dikti mengeluarkan surat edaran yang membuat waswas para mahasiswa dari S1 sampai dengan S3 karena diwajibkan menulis makalah di jurnal ilmiah, skala lokal, nasional, dan internasional. Sontak keputusan ini menimbulkan pro dan kontra karena belum tentu mendorong mahasiswa melakukan riset dan menulis. Alih-alih mereka dipaksa menulis makalah, malah kemudian mereka menggunakan jalan pintas mengalihdayakan penulisan makalah kepada orang lain. Ungkapan bernada kritik ini disampaikan Frans Magnis-Suseno di rubrik opini Kompas dan juga Ajip Rosidi di Pikiran Rakyat.

Menulis pun menjadi sesuatu banget. Para penulis yang memang bertipikal melihat peluang apa pun akan merasa edaran Dirjen Dikti ini sebagai darah baru bagi mereka. Mereka akan membuka layanan pembuatan makalah ataupun mengadakan training-training penulisan makalah bersertifikat dan ujung-ujungnya juga menawari para calon sarjana tadi yang tetap berkesulitan untuk pendampingan penulisan makalah agar lulus ujian sarjana. Di sisi lain bisnis penerbitan jurnal pun akan tumbuh mengingat daya tampung terbatas dari jurnal-jurnal yang sudah ada dibandingkan dengan jumlah mahasiswa Indonesia yang luar biasa (UT termasuk universitas di dunia dengan jumlah mahasiswa terbesar). Lalu, jurnal-jurnal digital atau online pun menjadi pilihan paling mudah.

Segera akan muncul pasar model baru di bidang penulisan makalah–meskipun praktik seperti ini sudah ada beberapa tahun lalu, masa sekarang akan lebih masif dengan edaran Dikti. Para penulis yang kebablasan bisa saja membangun sebuah toko online yang menyediakan aneka makalah aneka judul sehingga dapat dipesan secara online. Inilah peluang bisnis baru yang menggiurkan, sekaligus mengerikan bagi pengembangan kemampuan literasi kita karena ada saja orang-orang yang berpikir jalan pintas.

***

Bagaimanapun dunia penulisan itu luas sekali dan masuk ke berbagai relung kehidupan; bukan hanya akademis, melainkan juga bisnis dan hiburan. Para penulis yang mampu beradaptasi dengan gerakan industri ini akan punya semangat lebih mengasah kemampuan teknis menulisnya ke dalam berbagai jenis dan ranah/laras penulisan asalkan tetap menjunjung tinggi kode etik penulisan. Menulis bukan sekadar menulis novel atau buku-buku how to dan motivasi, menulis bisa menyasar ke manapun dan  menjadi bisnis konten (gagasan/ide yang dituliskan menjadi sebuah konsep) yang berprospek dari masa ke masa.

Buku-buku konvensional pun belum pula akan menemui ajalnya, terutama di Indonesia karena di luar penerbit, masih ada kementerian, BUMN, dan perusahaan swasta yang membutuhkan konsep penulisan buku; baik sebagai program pencitraan maupun CSR. Karena itu, para penulis dituntut juga menjadi pengonsep gagasan-gagasan baru, inspiratif, dan inovatif untuk diwujudkan menjadi buku dan seterusnya juga dapat diwujudkan menjadi workshop ataupun pelatihan-pelatihan. Saya malah menyarankan dua hal sekaligus yaitu menguasai teknik penulisan serta juga menguasai teknik pengembangan tulisan menjadi konten digital dengan penambahan audio dan visual.

Gebyar-gebyar penulisan menjadi industri ini memang akan terus berkibar. Karena itu, saya mendirikan dua lembaga sekaligus, yaitu Dixigraf Publishing Service yang nantinya menjadi perusahaan pengembang konten (baik konvensional maupun digital) dan juga Trim Komunikata yang merupakan perusahaan jasa di bidang konsultasi dan training penulisan-penerbitan untuk mengantisipasi kebutuhan para penulis di institusi manapun. Pengalaman 15 tahun di bidang perbukuan, media massa, dan juga training kepenulisan membuat saya yakin untuk beradaptasi dengan industri arus informasi ini dengan mengandalkan tulisan sebagai bahan baku konten yang utama.

Selamat merenung…. 🙂

 

*) ungkapan ini akan Anda dengar kembali penjabarannya secara nyata dalam Book Writing Revolution Training pada 16-17 Feb 2012 di Hotel Bumi Sawunggaling. Don’t miss it! Hubungi Irma 081320200363.

 

:: catatan kreativitas Bambang Trim

© 2012 oleh Bambang Trim

Bambang Trim adalah praktisi di bidang penulisan-penerbitan dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Ia juga telah menulis lebih dari 160 judul buku sejak 1994. Bambang Trim pernah menjabat posisi puncak di beberapa penerbit nasional serta pernah menjadi dosen ilmu penerbitan di tiga PTN (Unpad, PNJ, dan Polimedia). Kini, Bambang Trim mengelola lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang penulisan-penerbitan yaitu Alinea Ikapi dan InstitutPenulis.id. Tahun 2016 ia juga terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Penulis Profesional Indonesia (Penpro).

5 KOMENTAR

  1. Wah… jujur pak, baru kali ini saya menemukan ada kesalahan ketik dalam tulisan bapak… Kata langsung, bapak tulis dengan menggunakan a di tengah-tengah s dan u… Langsuang.. Di alinea ke empat pembahasan amazon pak..

    Well.. itu hanya masalah copy-editing.. secara menyeluruh, saya banyak belajar dari bapak..

  2. Edaran DIKTI itu sebenarnya test-case para pegiat literasi untuk kreatif memanfatkan lahan dengan jalan halal. Kan di butir edara cuma jurnal ilmiah (khusus S-1) nah kita bisa buat jurnal betulan dari luar kampus; terbit per 6 bulan, halaman banyak; diterbitkan dengan dana mahasiswa yang mau lulus. Syarat masuk tetap: tidak boleh curang (Co-Pas). Siapa ma(l)u?

  3. saya sangat suka dengan tulisan online. mudah dan memudahkan. apalagi klo sudah punya e-reader sendiri. hehehe 😀 sayangnya, belum 🙂

    cuma, hanya saja, tulisan itu kan bentuk empiris dari ide. nah bagaimana ide itu bisa benar2 jadi sejarah dan diakses kembali klo versi riil-nya saja tidak ada? hehe 😀 tulisan yang tidak lekang oleh waktu, menurut saya justru harus berbentuk offline/riil/empiris/buku. supaya bisa tersimpan dengan baik di perpustakaan, baik pribadi, keluarga, kota, kampus dan dibaca oleh generasi2 berikutnya. betul tidak, pak? 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here